Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Nampyog di Desa Adat Calo, Tegallalang, Simbol Penyucian Diri

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 19 Januari 2025 | 18:40 WIB
TRADISI: Tradisi nampyog atau metabuh geni serangkaian upacara ngusaba Puseh Desa Adat Calo, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang.
TRADISI: Tradisi nampyog atau metabuh geni serangkaian upacara ngusaba Puseh Desa Adat Calo, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang.

 BALIEXPRESS.ID – Tradisi Nampyog digelar oleh Desa Adat Calo, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar pada saat Purnama Kapitu, kemarin. Tradisi tersebut digelar serangkaian ngusabha Puseh, desa adat setempat.

Manggala Sabha Desa Adat Calo, Pasek Dek Agus Sudianta memaparkan tradisi tersebut digelar di desanya.  Dimana dalam tradisi tersebut menggunakan media api yang membara.

Pasek Dek Agus menerangkan menginjak api di dalam pura dalam tradisi Bali memiliki makna spiritual yang sangat mendalam. Karena berkaitan dengan pembersihan, penyucian, dan simbol transformasi.

Ritual ini biasanya dilakukan dalam upacara tertentu sebagai bagian dari perjalanan spiritual seseorang. Baik sebagai bentuk persembahan kepada Hyang Widhi maupun sebagai proses introspeksi diri.

“Makna spiritualnya adalah penyucian dan pemurnian diri. Dalam tradisi Bali, api melambangkan unsur penyucian,” papar pria yang merupakan alumni IHDN Denpasar ini.

Disebutkan juga menginjak api di dalam pura adalah simbol pembersihan dari energi negatif, karma buruk, dan pengaruh duniawi yang menghalangi jalan menuju kedamaian batin. Ritual ini menandakan bahwa seseorang siap untuk memasuki tahap baru yang lebih suci.

Tradisi tersebut juga sebagai simbol transformasi, sebab api adalah elemen yang membakar dan mengubah. Dalam konteks spiritual, menginjak api menandakan bahwa seseorang melepaskan sifat-sifat buruk seperti ego, kemarahan, dan kebingungan, serta membuka diri untuk perubahan positif.

“Ini adalah proses transformasi dari keadaan “asuri sampad” (sifat buruk) menuju “daivi sampad” (sifat ilahi),” tegas Dek Agus.

Sebagai simbol keberanian dalam menjalani kehidupan. Api adalah simbol tantangan, kekuatan, dan ujian. Dalam spiritualitas Bali, menginjak api menunjukkan keberanian seseorang untuk menghadapi tantangan hidup dengan keyakinan kepada Tuhan (Hyang Widhi) dan keyakinan pada diri sendiri.

Pasek Dek Agus menambahkan tradisi yang berisikan media api ada hubungan dengan Dewa Agni. Dalam kepercayaan Hindu-Bali, Agni atau dewa api adalah perantara antara manusia dan para dewa.

“Menginjak api di dalam Pura juga melambangkan hubungan spiritual ini, di mana seseorang “melalui” api sebagai simbol penghormatan dan komunikasi dengan alam semesta,” tegasnya.

Pasek Dek Agus yang kesehariannya menjadi Pengawas Guru Agama Hindu ini mengatakan tradisi itu erat dengan keselarasan tattwa. Api dalam konsep tattwa adalah salah satu elemen penting (Panca Maha Bhuta) yang membawa energi transformasi dan pemurnian.

“Dengan berani menyentuh atau menginjak api, seseorang menyelaraskan diri dengan elemen ini, memperkuat kesadaran terhadap harmoni universal,” bebernya.

Jika dikaitkan dengan makna dalam kehidupan sehari-hari adalah menghadapi ujian hidup dengan keberanian. Dalam kehidupan, api seringkali melambangkan ujian yang harus dilalui. Ritual ini mengajarkan bahwa keberanian dan ketenangan hati adalah kunci untuk melewati semua rintangan, sebesar apapun.

Sama seperti dalam spiritual, ritual ini juga mengajarkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita harus terus membersihkan diri dari pikiran negatif, kebiasaan buruk, atau hubungan yang tidak sehat yang dapat menghambat kemajuan kita.

Menginjak api mengajarkan bahwa ketakutan hanya ada dalam pikiran. Dengan keberanian untuk melangkah maju, seseorang dapat melampaui batasan-batasan yang diciptakan oleh ketakutan atau keraguan diri.

Api melambangkan tantangan yang membentuk karakter. Dalam kehidupan, setiap kesulitan dapat dianggap sebagai “api” yang menempa seseorang menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih siap untuk menghadapi hal-hal yang lebih besar.

“Ritual ini juga mencerminkan perlunya melepaskan ego dan keterikatan duniawi untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran dan keikhlasan. Dalam konteks sehari-hari, ini berarti membuka hati dan pikiran untuk perubahan, pembelajaran, dan pertumbuhan,” tegas Pasek Dek Agus.

Menginjak api di dalam Pura dalam tradisi Bali adalah sebuah simbol kuat untuk pembersihan, keberanian, dan transformasi. Dalam spiritualitas, itu mengajarkan kita untuk menyucikan diri dari segala hal yang menghalangi hubungan dengan Hyang Widhi dan alam semesta.

Dalam kehidupan sehari-hari, ini menjadi pelajaran tentang keberanian menghadapi tantangan, melepaskan ego, dan menerima proses transformasi sebagai bagian dari perjalanan hidup.

“Ritual ini mengingatkan kita bahwa seperti api yang mampu membakar kegelapan, kita juga mampu membakar segala halangan dalam diri untuk mencapai kebijaksanaan, kesucian, dan kedamaian,” tutupnya. *

 

Editor : Putu Agus Adegrantika
#tradisi nampyog