Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik Hindu Bali pada Tiga Desa di Kintamani: Bayi Laki-Laki Wajib Ditindik Sebelum Masuk Pura Kahyangan Tiga

I Putu Suyatra • Senin, 20 Januari 2025 | 15:07 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

BALIEXPRESS.ID – Tradisi Hindu Bali unik dari Desa Suter, Abang Songan, dan Abang Batudinding, Kecamatan Kintamani, Bangli, benar-benar berbeda dengan daerah lainnya.

Jika biasanya tindik kuping dilakukan untuk bayi perempuan, di tiga desa ini tradisi tersebut juga wajib dilakukan pada bayi laki-laki.

Namun, apa sebenarnya alasan di balik aturan ini?

Masyarakat setempat percaya, tindik kuping memiliki kaitan erat dengan kesucian diri untuk memasuki Pura Kahyangan Tiga, terutama melalui pintu Cangapit yang dianggap paling sakral.

Tradisi ini telah diwariskan sejak zaman nenek moyang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari adat istiadat masyarakat tiga desa tersebut.

Asal-Usul dan Makna Tindik Kuping

Menurut Tokoh Desa Suter, Ketut Marka, tradisi tindik kuping sudah ada sejak zaman dahulu dan menjadi simbol kesucian setelah bayi menjalani upacara Nelu Bulanin (tiga bulan).

Bahkan, tindik kuping ini dilakukan hanya beberapa hari setelah bayi lahir.

"Kuping harus berlubang sebagai tanda kesucian. Jika tidak, warga percaya hidup akan sering menghadapi masalah, terutama yang bersifat niskala," ujar Marka.

Lubang tindikan ini tidak boleh tertutup, sehingga bayi laki-laki juga dikenakan anting untuk menjaga bekas tindikan tetap terbuka.

Dahulu, masyarakat menggunakan bulu ayam, rumput, atau benang untuk menjaga lubang tetap terbentuk.

Hubungan dengan Pura Tuluk Biyu

Pura Kahyangan Tiga Tuluk Biyu menjadi pusat pemujaan masyarakat tiga desa ini.

Pura ini memiliki tiga pintu masuk: Candi Bentar di timur, Gelung Kori di tengah, dan Cangapit di barat.

Dari ketiga pintu tersebut, Cangapit dianggap paling sakral. Warga yang ingin masuk atau keluar melalui pintu ini harus memenuhi syarat kesucian jasmani dan rohani, salah satunya melalui tindik kuping.

Jika ada warga yang tidak menindik telinga bayinya, mereka tetap diperbolehkan masuk pura, tetapi hanya melalui pintu lainnya.

Tradisi ini bahkan berlaku bagi warga Desa Suter, Abang Songan, dan Abang Batudinding yang tinggal di luar desa.

Jejak Sejarah dan Legenda Pura Tuluk Biyu

Pura Tuluk Biyu, yang juga dikenal sebagai Pura Batur Kanginan, memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Berdasarkan prasasti peninggalan Raja Udayana pada tahun 933 Saka dan Raja Jaya Pangus pada tahun 1103 Saka, pura ini merupakan pusat pemujaan kepada Bhatara Siwa Giri Natha dan Dewi Uma Parwati.

Selain itu, terdapat cerita rakyat tentang Tirtha Banyu Geger, air suci yang dipercikkan untuk mengembalikan kedamaian Bali setelah masa kekacauan.

Legenda ini menjadi simbol penting tentang pentingnya kehidupan yang berlandaskan yadnya dan bhakti untuk mencapai perlindungan Tuhan.

Keunikan yang Terjaga hingga Kini

Tradisi tindik kuping ini masih terus dijaga oleh masyarakat Desa Suter, Abang Songan, dan Abang Batudinding sebagai warisan budaya yang penuh makna.

"Ini bukan sekadar tradisi, tetapi cara kami menghormati leluhur dan menjaga kesucian diri," tutup Ketut Marka. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Kintamani #bayi #bangli #hindu #pura #tradisi #kahyangan tiga #laki-laki #tindik