BALIEXPRESS.ID – Pura Tamansari Agung yang terletak di Jalan Raya Canggu, Banjar Anyar Kaja, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali, menyimpan segudang cerita misterius yang mengundang rasa penasaran.
Tidak hanya berfungsi sebagai tempat suci bagi umat Hindu Bali, pura yang telah berusia lebih dari 1.000 tahun ini juga menjadi saksi berbagai fenomena unik yang sulit dijelaskan secara logika.
Kisah Ular Berkepala Dua yang Menjaga Pura
Salah satu kejadian paling mencengangkan adalah kemunculan ular berkepala dua saat piodalan pura yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep, atau bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Landep.
Pemangku Pura Tamansari Agung, I Wayan Sukarsa, mengungkap bahwa ular tersebut diyakini sebagai "rencang" atau penjaga Ida Bhatara.
“Sewaktu saya masih sekolah, ular itu sering muncul di area pura setiap piodalan. Pangempon pura meyakini bahwa itu adalah rencang Ida Bhatara,” ungkap Mangku Sukarsa.
Namun, setelah dibuatkan dua patung naga sekitar 35 tahun lalu, ular tersebut tidak pernah terlihat lagi. “Mungkin sudah nyineb di sana,” imbuhnya.
Sumber Air Misterius di Tengah Banjir
Fenomena aneh lainnya adalah munculnya sumber air dari ubin pura saat banjir.
Warga sering mencoba mencari asal air tersebut dengan meraba-raba ubin, tetapi tidak pernah menemukannya.
Bahkan, setelah air banjir surut, tidak ada tanda-tanda keberadaan klebutan (sumber air).
Cerita ini memperkuat keyakinan warga bahwa pura tersebut adalah pusat klebutan yeh.
Wilayah di selatan pura pun disebut Delod Yeh, sementara bagian utara dikenal sebagai Dajan Yeh.
Pujawali di Tengah Malam hingga Fajar
Keunikan lainnya terletak pada waktu pelaksanaan pujawali.
Jika pura lain umumnya menggelar upacara pada siang atau malam hari, Pura Tamansari Agung justru memulai ritualnya pada pukul 11 malam hingga dini hari, sekitar pukul 3 atau 4 pagi.
Tradisi Upacara Massal Setiap Lima Tahun
Pura ini juga menjadi tempat pelaksanaan upacara massal, mulai dari tiga bulanan, potong gigi (masangih), nepeh (upacara pasca pernikahan), hingga nyejeg (upacara bayi pertama dari garis keturunan anak lelaki).
Upacara massal terakhir tercatat dilakukan pada 31 Maret 2018.
Siwa-Buddha dan Kehadiran Patung Buddha
Sebagai pura beraliran Siwa-Buddha, Pura Tamansari Agung memiliki Lingga Yoni dan patung Buddha di dalamnya.
Bahkan, seorang pendeta Buddha dari Jepang pernah datang untuk nunas tirta di pura ini pada tahun 1980-an.
Patung Buddha berada di Gedong Bhatara Kawitan, sementara Lingga Yoni terletak di Gedong Pangresikan dan diupacarai setiap 12 tahun sekali.
Petapakan Barong Landung dan Usia 1008 Tahun
Pura ini juga memiliki lima petapakan barong landung yang disungsung, yakni Ratu Ngurah Gede, Jro Luh, Ratu Ngurah Sakti, Ratu Bagus Kusuma, dan Ratu Mas Sekar Tunjung.
Dengan sejarah panjang lebih dari 1.000 tahun, Pura Tamansari Agung menjadi salah satu peninggalan suci yang penuh misteri dan keunikan.
Apakah Anda siap menjelajahi keajaiban Pura Tamansari Agung dan mengungkap misteri yang tersimpan di balik tembok sucinya?
Jangan lupa untuk menyempatkan diri mengunjungi pura ini dan merasakan aura magis yang kental menyelimuti setiap sudutnya! ***
Editor : I Putu Suyatra