BALIEXPRESS.ID - Tari Baris Bugbug, yang kini dikenal sebagai Tari Baris Pugpug, bukan hanya sekadar tarian sakral, melainkan simbol perlindungan niskala bagi masyarakat Hindu Bali di Banjar Pande, Kelurahan Cempaga, Bangli.
Tarian ini menggunakan batang daun enau sebagai properti utama, yang dipercaya mampu menetralisasi energi negatif sekaligus menciptakan benteng spiritual untuk menangkal marabahaya.
Uniknya, tarian ini baru diciptakan beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari ritual Pujawali di Pura Dalem Gede Selaungan.
Sejarahnya terinspirasi dari lontar Widisastra Roga Sanghara Bumi, yang mencatat bahwa pelaksanaan pujawali yang lengkap harus disertai pementasan Tari Baris Bugbug.
Namun, tarian tersebut sebelumnya belum pernah ada hingga Pemangku Dalem Gede Selaungan, Sang Mangku Suryawan, menggagas inisiatif penciptaannya.
Perjalanan Panjang Mencipta Tarian Sakral
Sang Mangku Suryawan memulai upaya dengan mengkaji lontar dan catatan sejarah pura.
Proses ini melibatkan para tokoh adat dan pakar budaya untuk menggali fakta-fakta serta mencari panduan dari berbagai sumber, termasuk hingga ke Geria Jasri di Desa Belega, Gianyar.
Setelah melalui diskusi mendalam, tarian ini akhirnya dikonstruksi bersama seniman asal Desa Bona, Gianyar.
Hasilnya, terciptalah tarian dengan 21 penari laki-laki yang membawa properti berupa tangkai daun enau.
Tarian ini merepresentasikan para Gandharwa dan Gandharwi, penghibur para dewa di kahyangan, sekaligus melengkapi sarana upacara pujawali.
Ritual dan Keunikan yang Tak Biasa
Tari Baris Bugbug dipentaskan pertama kali saat Buda Umanis Julungwangi, tepat setelah pangempon pura menghaturkan bebangkit sari.
Namun, ada satu aturan sakral yang menjadi sorotan: penonton dilarang keras merekam atau memotret pementasan ini.
Larangan tersebut, menurut Sang Mangku Suryawan, adalah kehendak Ida Bhatara yang tidak bisa dijelaskan secara rinci.
Aura mistis semakin terasa selama pementasan yang berdurasi kurang dari satu jam ini.
Bahkan, Nyepeg, Bendesa Adat Cempaga, mengungkapkan bahwa sering terjadi fenomena kesurupan selama tarian berlangsung.
Menariknya, untuk mengatasi hal ini, bunga gumitir digunakan sebagai sarana menetralisasi energi, dengan cara dimakan oleh orang yang kesurupan.
"Satu tas bunga bisa habis dimakan oleh mereka yang kesurupan. Hal ini nyata dan tidak bisa dijelaskan secara logis," tuturnya.
Kontroversi dan Upaya Pelestarian
Meski kini menjadi bagian penting dari ritual di Pura Dalem Gede Selaungan, upaya konstruksi Tari Baris Bugbug sempat menuai pro dan kontra.
Sebagian masyarakat awalnya mempertanyakan tujuan penciptaan tarian ini. Namun, seiring waktu, masyarakat mulai memahami bahwa tarian ini adalah bagian dari pawisik atau petunjuk spiritual yang wajib diikuti.
Sebagai langkah pelestarian, Tari Baris Bugbug telah didaftarkan untuk memperoleh hak paten, sekaligus dicetak dalam bentuk buku.
"Kami ingin memastikan bahwa tarian ini menjadi warisan budaya asli Cempaga," pungkas Nyepeg.
Kisah yang Terus Hidup
Usai pementasan, warga diberikan tirta untuk dipercikkan di rumah masing-masing sebagai bentuk perlindungan spiritual.
Sementara itu, properti yang digunakan dalam pementasan akan di-pralina atau dimusnahkan secara ritual.
Dengan segala keunikan dan kesakralannya, Tari Baris Bugbug tak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga saksi bisu dari perjalanan panjang masyarakat Cempaga menjaga warisan budaya leluhur. ***
Editor : I Putu Suyatra