Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri Pura Pelet, Sesepuh Pura di Desa Adat Mengwitani yang Penuh Aura Magis

I Putu Suyatra • Senin, 27 Januari 2025 | 20:28 WIB
Desa Adat Mengwitani menyimpan sebuah pura unik bernama Pura Pelet yang menjadi perhatian karena nama dan sejarahnya.
Desa Adat Mengwitani menyimpan sebuah pura unik bernama Pura Pelet yang menjadi perhatian karena nama dan sejarahnya.

BALIEXPRESS.ID - Desa Adat Mengwitani menyimpan sebuah pura unik bernama Pura Pelet yang menjadi perhatian karena nama dan sejarahnya. Pohon beringin besar di depannya turut menambah kesan mistis.

Jika Anda melintasi Desa Adat Mengwitani dan mengikuti jalur menuju Jalan Pratu Rai Madra hingga Jalan Batur, Anda akan menemukan sebuah pura di seberang pohon beringin besar dengan kain poleng yang melilitnya.

Tempat suci Hindu Bali tersebut adalah Pura Pelet, sebuah nama yang kerap memancing rasa penasaran.

Nama "Pelet" mungkin langsung mengingatkan kita pada ilmu gaib atau guna-guna.

Namun, menurut Jro Mangku Istri Ni Nyoman Rumanah Padmasanti, nama Pura Pelet tidak ada kaitannya dengan ilmu hitam.

"Nama ini diambil dari Gedong Ida Ratu Gede Pelet yang ada di dalam pura," jelasnya.

Pura Tertua di Desa Adat Mengwitani

Jro Mangku Ketut Kartika Candra (60) bersama istrinya menjelaskan bahwa Pura Pelet sudah ada sejak lama dan dipercaya sebagai sesepuh dari semua pura di desa ini.

Saat ritual pamelastian, pratima Ida di Pura Pelet tidak ikut ke pantai seperti pura lainnya.

"Pratima Pura Pelet menjaga desa secara niskala ketika desa kosong," tambahnya.

Pura ini memiliki beberapa palinggih, seperti Gedong Ratu Gede Pelet, Ratu Made, Ratu Manik, dan Ratu Nyoman.

Uniknya, piodalan Pura Pelet tidak memiliki hari tetap, hanya dilaksanakan sehari setelah dua purnama Hari Raya Kuningan.

Kejadian Magis yang Menambah Aura Mistis

Tidak sedikit cerita magis terkait Pura Pelet. Salah satunya adalah kisah seorang mangku yang sakit parah karena lupa menghaturkan banten saat ada karya di Pura Pelet.

"Setelah menghaturkan banten dan memohon doa restu di pura, mangku tersebut akhirnya sembuh," cerita Jro Mangku Istri Ni Nyoman Rumanah.

Selain itu, Pura Pelet sering dijadikan tempat nunas penerangan atau memohon agar tidak hujan, terutama di Palinggih Ratu Nyoman.

Permohonan ini dipercaya hanya berhasil jika dilakukan sejak awal persiapan karya, bukan pada hari puncak.

Melukat dan Pasimpangan Ida Ratu Gede Dalem Nusa

Bagi yang ingin malukat (ritual penyucian diri), air diambil dari sumur di pojok barat laut pura.

Ritual ini biasanya dilakukan di depan pamedalan agung, dengan prasarana seperti pajati, tipat kelanan, dan klungah nyuh gading.

Pohon beringin besar di depan pura juga menjadi daya tarik tersendiri.

Menurut Jro Mangku, pohon tersebut dulunya berada di dalam area pura, namun kemudian dipindahkan ke depan pura. Pohon ini kini menjadi tempat pasimpangan Ida Ratu Gede Dalem Nusa dan sering dijadikan tempat karya besar dengan banten yang megah.

Tradisi Pengguna Jalan dan Keunikan Piodalan

Setiap pengguna jalan yang melintas di depan pura biasanya membunyikan klakson sebagai tanda permisi.

Saat piodalan, suasana pura semakin ramai oleh pamedek yang menghaturkan banten.

Bahkan, untuk menuju ke Pura Beji yang ada di dekat jalan turunan, pamedek terlebih dahulu memohon izin di Pura Pelet.

Dengan sejarah panjang, aura mistis, dan kisah magis yang mengiringinya, Pura Pelet tidak hanya menjadi pusat spiritual, tetapi juga magnet bagi mereka yang ingin mengenal lebih jauh budaya dan tradisi Bali. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Pura Pelet #hindu #sejarah