Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Ritual Ngingsah Galih dan Ngadegang Dewi Tapeni, Tertuang dalam Lontar Yadnya Prakerti, Gunakan Empat Warna Beras  

I Putu Mardika • Selasa, 28 Januari 2025 | 05:25 WIB

Prosesi Ngingsah Baas dan Ngadegang Dewi Tapini sebagai pertanda dimulainya upacara yadnya skala besar
Prosesi Ngingsah Baas dan Ngadegang Dewi Tapini sebagai pertanda dimulainya upacara yadnya skala besar
BALIEXPRESS.ID-Ngingsah Galih (baas) dan Ngadegang Dewi Tapeni menjadi bagian tari prosesi sebuah upacara besar yang menggunakan sarana banten catur dan mebebangkit maupun karya meayu-ayu. Ritual ini menggunakan beras empat warna sebagai sarana.

Prosesi diawali dengan tahapan mepasaran (medagang-dagangan). Kemudian dilanjutkan dengan ngingsah galih, ngereka galih, ngaga tirta, pereresik, pekeling bhatara kabeh, nedunang Ida Bhatara Dewi Tapeni dan Ida Bhatara Rare Angon.

Selanjutnya dilakukan dengan pedudusan, katuran banten, muspa, ngelelet dan munggah di Bale Klumpu.

Ida Pandita Mpu Nabe Istri Dwija Witaraga Sanyasi dari Gerya Taman Sari Asrahama Kekeran  menjelaskan prosesi Ngingsah Galih menggunakan empat jenis beras.

Diantaranya beras hitam (injin), beras putih, beras merah dan beras injin.

Masing-masing beras memiliki makna filosofis tersendiri. Dimana, beras putih simbol dari badan ketan simbil dari kulit, injin simbol dari rambut dan merah simbol dari bibir.

Saat ngingsah galih digunakan panca datu. Dimana warna merah dari tembaga, putih dari perak, kuning dari mas, selaka dan mirah.

Galih disaring dengan menggunakan kukusan. Sedangkan air bekas cucian beras tersebut ditempatkan pada payuk (periuk)

Ketika ngingsah galih berlangsung juga harus didampingi oleh orang yang sudah mawinten, semisal Jro Mangku.

Sedangkan orang yang kondisinya cuntaka maupun cacat dilarang untuk mendampingi prosesi sakral ini.

Ida Pandita Mpu Nabe Istri Dwija Witaraga Sanyasi menjelaskan dalam prosesi ngingsah beras menggunakan sarana toya ening atau air suci yang sudah disucikan oleh sang sulinggih, pancuran, air sudamala dari taman maupun kelebutan. Bahkan, dilarang menggunakan air ledeng.

Prosesi diawali dengan menuangkan beras ke dalam kukusan dan di aduk dengan sarana ambengan yang diikat serta berisi panca datu ditambah manik pitu.

Ini mengandung makna mensucikan semua sarana yang akan dipakai dalam segala upakara yadnya. Dalam prosesi tersebut semua terlibat seperti sulinggih pemangku sarati banten.

“Ini sebagai simbul kesiapan beryadnya dalam artian hingga batas waktu selesainya upacara yadnya dimaksud yakin tidak akan kekurangan sandang pangan utamanya segala kelengkapan upacara yadnya yang diselenggarakan,” jelasnya.

Ritual ini sebut Ida Pandita Mpu Nabe Istri tertuang dalam Lontar Yadnya Prakerti, Tapeni Yadnya dan Mpulutuk Banten.

Usai ngingsah galih, dilanjutkan dengan ritual ngadegang Ida Bhatara Tapini dan Rare Angon, dengan terlebih dahulu melakukan ritual pembersihan.

Sarana empat jenis beras saat prosesi ngingsah baas dan ngadegang dewi Tapeni
Sarana empat jenis beras saat prosesi ngingsah baas dan ngadegang dewi Tapeni

“Setelah disucikan, kemudian keadegang, ngereka atau keuirp oleh Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati. Ngamedalang pengurip agar Ida Bhatara kadegang, pertama Ida Bhatara Siwa Rare Angon yang menjadi penguasa pala bungkah dan pala gantung atau tumbuh-tumbuhan. Sehingga tumbuh-tumbuhan bisa dijadikan upakara berbagai upacara,” paparnya. 

Dalam ritual Ngingsah galih juga dilaksanakan prosesi ngadegang Dewi Tapeni. Tetapi juga ngadegang Sang Hyang Rare Angon. Keduanya ini diyakini sebagai simbol purusa (ayah) dan pradana (ibu).

Ida Pandita Mpu Nabe Istri Dwija Witaraga Sanyasi menjelaskan Dewi Tapeni sebagai dewi dari Banten.

Tapeni diyakini menuntaskan bebantenan, Sedangkan Rare Angon memiliki makna filosofis melengkapi sarana upakara.

“Secara niskala jika ada banten yang kurang, cepat kontak bathin dengan sarayi banten,” imbuhnya.

Ida Pandita menambahkan, Dewi Tapeni juga dibantu oleh para dewi-dewi lainnya. Semisal Dewi Kembang, Dewi Landep, Dewi Geneb, Dewi Jangkep, Dewi Sri, Dewi Manik Galih dan Dewi-Dewi.

“Kalau Bhatara Istri, linggamnya Ida Bhatara Ratu Manik Galih, itulah megapa perlu diingsah, lalu ngereka menjadi Ida Bhatara Tapini (ida Bhatara Ratu Manik Galih) sebagai sumber amerta,” sebutnya.

Amerta yang diminta umat, itulah sebagai simbol sandang dan pangan. Dengan harapan, masyarakat tidak pernah kekurangan pangan atau makanan.

“Agar tidak ada habis-habisnya pangan untuk dinikmati. Dan prosesi ritual juga bisa berjalan lancar,” paparnya.

Galih yang telah distanakan di kelumpu (lumbung) apabila acara yadnya sudah tuntas dilakukan, maka kemudian di lukar.

“Selanjutnya setengah dipendem di penyegjeg, setengahnya lagi dipercikkan di areal wewidangan dengan harapan diberikan keselamatan, dan kesejahteraan,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#yadnya #upacara #ngadegang dewi tapeni #ngingsah galih #Ida Bhatara Dewi Tapeni #beras