Persembahan kepada Ida Batara Dalem ini diyakini untuk memohon kesuburan dan kesejahteraan dengan menggunakan sapi cula (Jro Gede)
Tokoh Adat Bantang, I Ketut Mega Sadia menjelaskan tradisi ini sudah dijalankan secara turun temurun oleh krama.
Upacara ini dilaksanakan pada saat Tilem Sasih Kaulu dengan perhitungan dilaksanakan berdasar dina pawatekan, yaitu pada hari Redite, Anggara, atau Waraspati.
Hari tersebut diyakini merupakan hari yang sangat baik (dewasa ayu) yang dipercaya oleh masyarakat Desa Adat Bantang dan telah disepakati oleh Prajuru Desa untuk melaksanakan upacara Posa untuk persembahan kepada Ida Batara Dalem.
Sarana yang digunakan dalam upacara Posa diantaranya Banten Bebangkit.
Banten ini terdiri dari jerimpen sate, ketupang alit, jerimpen jaja, peras, gelar sanga, jangan sakawali, pakekeh, banten manca, dandanan, tengen-tengenan, sorohan, asagan, suci.
Semua Banten tersebut diwadahi sok yang ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Sorohan itu meliputi banten suci, Pejati, sasantun, benang, kelanan, dampulan, rayunan putih kuning dan jajan.
Baca Juga: Seminggu Jelang Kepemimpinan Bang-Ipat, Rumah Jabatan Bupati Jembrana Mulai Bersolek
Banten Sorohan di haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manivestasinya untuk memberkati dunia dan menguasai sumber sandang, pangan dan papan.
Sarana Phala bungkah, phala wija, dan phala gantung juga digunakan. Perlengkapan upacara tersebut dipasang dan dihaturkan pada tiap-tiap banten yang ada.
Kemudian menggunakan sarana Sampi Cula, Nasi takilan, Bebangkit, banten apejatian, banten dandanan, jajan, buah, nasi, saur, canang playuan, suci, segehan manca warna,
Ada pula sarana berupa Tuak-arak, air, tirta panglukatan, tirta pamarisuda, tirta anyar, dupa dan api takep.
Tabuh rah berupa tajen tlung seet. Panglukatan, lis gede, lis duurmangala, pasucian, pabuat, bayuan, tulung urip, payuk anyar, kukusan, bungkak, sibuh pepek, durmangala, basokan, dan perlengkapan lainya
“Pelaksanaan upacara Posa dipimpin oleh Paduluan Dulu Apad (jumlahnya delapan belas orang) yang diketuai oleh Jro Bayan. Beliau berwenang nganteb segala jenis bentuk banten yang dipersembahkan oleh masyarakat pada saat pelaksanaan upacara Posa di Pura Dalem Desa Adat Bantang,” katanya.
Pelaksanaan Upacara Posa dipimpin Paduluan Dulu Apad yang diketuai oleh Jro Bayan mulai dari awal hingga akhir sebagai pemuput upacara.
Mereka juga bertugas untuk mempersiapkan dan mengerjakan beberapa perlengkapan-perlengkapan upacara.
“Wewenang tugas Paduluan Dulu Apad yang dipimpin oleh Jro Bayan adalah nganteb atau sebagai pemimpin upacara keagamaan, mengatur adat istiadat dan tradisi,” ungkapnya.
Upacara Posa dimulai sejak tujuh hari sebelum pelaksanaan upacara Posa, maka Krama Desa Adat Bantang, terlebih dahulu mengadakan pesangkepan di Balai Agung guna membahas hal-hal yang ada hubungannya dengan pelaksanaan upacara tersebut.
Pesangkepan tersebut dihadiri oleh seluruh Krama Pengarep, dalam pesangkepan tersebut Paduluan Desa Pakraman Bantang menjelaskan tentang pelaksanaan upacara Posa akan dilaksanakan lagi tujuh hari yang dirangkai dengan Nyepi Desa.
Masyarakat diharapkan mulai menyiapkan sarana prasarana termasuk sampi yang sudah dicula atau sapi yang berwarna hitam kemerahmerahan dan syarat lainya.
Pelaksanaan upacara posa dimulai dengan Mendak sampi cula yang merupakan sarana utama pada Upacara Posa dan diupacarai di Pura Bale Agung.
Sampi Cula akan berubah nama menjadi Jro Gede dan masyarakat mekemit siang malam menjaga Jro Gede serta mencarikan makananya.
Baca Juga: Sebagai Persembahan Tulus Ikhlas, Ini Makna Yajna dalam Hindu
Para daha teruna menjalankan tugasnya mencari ambu dan bambu sebagai sawen dan hiasan pada palinggih-palinggih serta dipasang sehari sebelum pelaksanaan upacara Posa. sawen merupakan sebuah tanda yang dipasang dalam upacara Posa.
“Tanda tersebut dibuat dari ranting kayu atau dengan menggunakan sebilah bambu yang dihiasi dengan menggunakan janur. Tanda tersebut dipasang dengan cara ditanjapkan ke dalam tanah agar dapat berdiri tegak,” sebutnya.
Pada puncak upacara posa dilaksanakan, para Sekeha Ebat menjalankan tugasnya. Ini didahului dengan upacara di Pura Puseh.
Dilanjutkan dengan Ngamedalan pajenengan yaitu tombak yang akan dipakai menusuk Jro Gede.
Sekeha Ebat menancapkan batang kayu di tengah-tengah natah Pura Bale Agung selanjutnya Jro Gede diikat di sana.
Jro Bayan dan paduluan dulu apad yang lainya bersiap siap dengan bumbung dari bambu yang dipergunakan untuk tempat darah yang keluar dari Jro Gede nantinya setelah di tusuk dengan pajenengan oleh Jro Bayan.
Baca Juga: Nurhakim, Si Pembuat Tempe Singaraja, Tetap Setia Gunakan Ragi Tempe
Setelah semua siap pajenengan medal yang dipundut oleh Jro Bayan Mucuk dan Jro Bayan Nyoman. Beliau menari mengelilingi Jro Gede diiringi oleh paduluan lainya. Setelah itu barulah Jro Gede di tusuk dan dibiarkan darahnya mengucur.
“Sambil berlari memutar mutar karena di ikat pada tiang kayu darah semakin mengucur sampai Jro Gede tumbang,” ungkapnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika