Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Alas Merta Jati di Catur Desa Adat Tamblingan, Sebagai Uluning Bali, Sumber Kehidupan

I Putu Mardika • Sabtu, 1 Februari 2025 | 23:00 WIB

 

Danau Tamblingan dan Alas Mertajati yang kelestariannya dijaga oleh masyarakat adat Catur Desa Adat Dalem Tamblingan
Danau Tamblingan dan Alas Mertajati yang kelestariannya dijaga oleh masyarakat adat Catur Desa Adat Dalem Tamblingan
BALIEXPRESS.ID-Catur Desa Adat Dalem Tamblingan menjadi benteng dalam menjaga kesucian Kawasan Alas (Hutan) Mertajati.

Secara filosofis, nama Alas Merta Jati dimaknai sebagai sumber kehidupan yang sesungguhnya. Tak pelak, krama Adat Dalem Tamblingan sangatlah memuliakan air.

Tokoh Adat Tamblingan, Putu Ardana mengatakan, ritual dan keyakinan krama Adat Dalem Tamblingan disebut sebagai piagem gama tirta. 

Di dalam kawasan hutan itu pun terdapat pura-pura atau pelinggih-pelinggih yang semua saling terkait.

Ada 17 pura di dalam kawasan Alas Merta Jati Tamblingan yang disungsung, disucikan oleh krama Adat Dalem Tamblingan.

Dikatakan Ardana, Alas Merta Jati Tamblingan memiliki sebuah catatan sejarah jika pemukiman yang dibangun oleh Dewa Behem sejak abad ke10 hingga akhir abad ke- 14.

Dewa Behem dengan para pengiringnya pertama kali tiba di sebuah gua yang ada di Alas Merta Jati, bernama Gua Naga Loka pada abad ke-10.

Baca Juga: Intip Motor Modifikasi Milik Lady Biker, Dalam Denpasar Love Modification: Konsep Rookies Piur Airbrush

Ketika itu telah ada penduduk asli penghuni Tamblingan, yaitu Pasek Tamblingan, Pasek Panji Landung, dan Pasek Kulisah.

“Kedatangan Dewa Behem di Alas Merta Jati diterima dengan baik oleh penduduk asli dan hidup berdampingan dengan baik,” ungkapnya.

Dewa Behem kemudian mohon restu kepada Sang Hyang Naga Gelundung dan Sang Hyang Purwa Bumi untuk membuka Alas Merta Jati sebagai tempat pemukiman dengan sarana banten/sesajen.

Banten dengan segala kelengkapannya diturunkan ke lubang Gua Naga Loka sebagai kunci pertiwi agar bumi beserta isinya tetap seimbang dan membawa berkah.

Sebagai tanda restu dari Sang Pencipta, Dewa Behem mendapatkan wara nugraha/paica berupa keris dan wija ratus (terdiri dari beras ketan hitam-putih, beras merah-putih, pindulan, kelapa yang dihancurkan, kunyit, cekuh, jahe, pala, merica, tabia bun).

Baca Juga: Kurniawan Dwi Yulianto Resmi Jadi Asisten Pelatih Timnas U20, Dampingi Indra Sjafri

Selanjutnya kedua paica tersebut diagungkan sebagai perlambang pengukuhan atau penobatan Dewa Behem sebagai Dalem Tamblingan, dan sejak saat itulah Beliau kabhiseka, disebut Dalem Tamblingan.

Dikatakan Ardana, nama Tamblingan juga terkait dengan kisah penyembuhan Dewa Behem pada masyarakat Merta Jati.

Pada suatu ketika, saat tilem sasih Kanem penduduk Merta Jati banyak yang jatuh sakit.

Dalem Tamblingan kemudian pergi ke sebuah empang di lembah dalam kawasan Alas Merta Jati, mengambil air sebagai sarana pengobatan dengan menggunakan sangku (wadah tirta, air suci) Sudamala,” imbuhnya.

Air yang telah diambil kemudian disucikan dengan kesidiandnyanan (kemampuan pikiran dan kesadaran tingkat tinggi) melalui doa dan japa mantra, selanjutnya dipercikkan kepada semua orang yang sakit.

Baca Juga: Sering Raih Juara, Nmax dengan Biaya Modif Rp 170 Juta ini Hadir di Denpasar Love Modification

Masyarakat Merta Jati pun akhirnya terbebas dari wabah penyakit.

Empang tempat air tersebut berasal kemudian dinamakan Tamba Eling, sumber air obat yang dipertajam melalui kesidiadnyanan. Hingga kemudian Tamba-Eling menjadi Tamba-Ling, dan akhirnya menjadi Tamblingan.

Dalam perkembangan berikutnya, pada akhir abad ke-14, atas dasar alasan menjaga kesucian air danau sebagai sumber kehidupan yang telah memberikan kesembuhan, Dalem Tamblingan (kemudian menjadi sebutan secara turun-temurun untuk Sang Pemimpin) dan seluruh krama Tamblingan rela meninggalkan Alas Merta Jati.

Sebagian ada yang kemudian berdiam di Hunusan saat ini bernama Desa Gobleg, Tengah-mel (Desa Munduk), dan di Pangi (Desa Gesing).

Dari Pangi selanjutnya ada yang pindah ke Umejero. Hal ini diperkuat oleh Prasasti No 902 Gobleg Pura batur C berangka tahun saka 1398 M pada masa pemerintahan Sri Wijaya Rajasa.

Keempat desa inilah kemudian disebut Catur Desa Adat Dalem Tamblingan. Dalam konteks Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, masing-masing desa, yaitu Gobleg, Munduk, Gesing, dan Umejero berkedudukan sebagai banjar adat.

Baca Juga: Pantai Serangan Berubah di Google Maps, Wali Kota Denpasar Tegaskan Nama Resmi Tetap Pantai Serangan

“Saat ini, jumlah warga yang tercatat sebagai anggota krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan mencapai 6 ribu KK. Dimana, luas lahan kawasan ini mencapai 7 ribu hektar. Dari jumlah tersebut, luas lahan hutan Merta Jati tercatat 1.300 hektar,” paparnya. 

 

Selain yang tertulis, juga ada aturan-aturan yang tidak tertulis yang tetap diyakini dan dilaksanakan secara turun temurun.

Yakni melaksanakan Upacara yadnya Wana Kertih dan Danu Kertih untuk penyucian hutan dan danau setiap dua tahun sekali.

Ada juga upacara dilakukan ketika upacara/karya Pengerakih di pura yang ada di sekitar Danau Tamblingan.

Pelaksanaannya bertepatan dengan purnama sasih Kapat sesuai dresta kuna Adat Dalem Tamblingan.

Upacara Mrasista Danu atau penyucian danau merupakan Upacara dilaksanakan jika ada orang yang meninggal atau melahirkan di kawasan Danau Tamblingan, keluarga korban wajib melakukan upacara penyucian danau.

Baca Juga: Jangan Tunggu Viral, Kapolri Instruksikan Jajaran Respons Cepat Aduan Masyarakat

Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa tidak boleh ada pemukiman di sekitar danau.

Sarana transportasi di danau Tamblingan masih tetap memakai pedahu tradisional dan tidak ada pedahu bermesin, guna mengantisipasi pencemaran.

Aturan subak yang melarang pengambilan air di atas atau lebih hulu dari Temuku untuk ketertiban pendistribusian air.

“Hanya boleh menggunakan jaring dengan ukuran tertentu, jenis pancing tertentu dan tidak boleh sama sekali menggunakan zat kimia beracun, merupakan aturan yang dibuat oleh menega yang bertugas sebagai Jaga Teleng untuk menjaga keseimbangan populasi ikan,” ungkapnya.

Masyarakat Adat Dalem Tamblingan juga melaksanakan upacara panjang atau alilitan karya. Ritual ini bertujuan untuk membersihkan alam, memuliakan air, menyucikan manusia serta berbagi kesejahteraan kepada sesama.

“Melalui karya yang dilakukan ini diharapkan keseimbangan dan kelestarian ekologi akan terjaga,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Alas #air #Mertajati #Catur Desa Adat Dalem Tamblingan