BALIEXPRESS.ID - Penataan ruang lingkungan di Bali mengacu pada konsep Luan dan Teben. Luan dan Teben adalah konsep pembagian ruang dalam level makro berdasarkan nilai tradisional serta membagi zone dan aktivitas bagi konsep Tri Mandala di Bali.
Tri Mandala itu sendiri adalah tiga hirarki tata ruang Bali yang terdiri dari Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala.
Hal tersebut pun sangat jelas dirasakan pada Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri, Desa Adat Wanagiri, Desa Wanagiri, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan.
Dimana Utama Mandala merupakan ruang untuk pembangunan tempat suci bernilai utama. Madya Mandala menjadi ruang untuk tempat tinggal, melaksanakan aktivitas atau bekerja, menyimpan barang.
Sedangkan Nista Mandala adalah halaman paling hilir yang difungsikan untuk kuburan, tempat pengelolaan sampah, dan lain sebagainya.
Penyuluh Agama Hindu, Kemenag Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta, menjelaskan sesuai disertasinya, Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri adalah Pura Khayangan Desa yang secara administratif berada di Desa Adat Wanagiri, Desa Wanagiri, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan.
“Pura ini merupakan Sungsungan Pasek Wanagiri atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pasek Toh Jiwa Wanagiri, baik bertempat tinggal di Desa Adat Wanagiri maupun di seluruh Bali,” papar Danu.
Danu menjelaskan Pujawali di Pura ini jatuh pada Purnama Sasih Kalima atau yang dalam pandangan lokal di Desa Adat Wanagiri disebut Purnama Kapat Wayahan dan Purnama Jyestha atau Kadasa Wayahan.
Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri memiliki perbedaan apabila dirujuk pada aturan mengenai tata ruang, struktur konstruksi, dan ritual secara umum.
Baca Juga: Visual Mirip Dewa Siwa Muncul di Atlas, Dewan Badung Geram
Perbedaan ini disadari oleh Krama Desa Adat Wanagiri sebagai penanggung jawab atau Pangempon Utama Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri.
Perbedaan yang terjadi, menjadi salah satu keunikan serta tetap dapat disimak hingga saat ini di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri Desa Adat Wanagiri.
Perbedaan dari sisi tata ruang dapat disimak melalui posisi pura. Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri yang berkedudukan sebagai Pura Kawitan sekaligus Khayangan Desa di Desa Adat berposisi secara memusat dalam satu wilayah lahan.
Posisi lahan tersebut berada di bagian hulu yang menjadi dataran tertinggi dari Desa Adat Wanagiri.
“Satu wilayah lahan dibagi menjadi tiga bagian yakni, Pura Kanginan (palinggih Kawitan dan Palinggih Siwa) Pura Kadia atau Kaja (Pura Ibu), dan Pura Kauhan,” terang Danu.
Di sisi lain, terdapat Palinggih Babaturan yang berposisi secara memusat di wilayah Pura Kadia (Kaja) masing-masing dengan nama Palinggih Pujutaya, Tamblingan, Gunung Majapait, Baturangka, Bajugul, Batur Sangket, Jero Pajahan, Batur Bolong, dan Batur Dukuh Sakti.
Baca Juga: Parade Nusantara Imlek Tahun 2025, Tampilkan Puluhan Barong Sai, Naga Hingga Barong Ket
Bahkan, Pura Khayangan Tiga yang seharusnya dibangun dalam konsep Hulu-Teben sebagaimana aturan yang telah disebutkan di atas, juga terbangun di Pura Kauhan dan menjadi satu lahan dengan pura lain yang menjadi bagian dari Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri Desa Adat Wanagiri.
“Uniknya lagi, terdapat pintu masuk atau jalan yang saling menghubungkan antara satu pura dengan pura lain dalam satu wilayah lahan,” ucap pria asli Penebel, Tabanan ini.
Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri tidak memiliki pembagian halaman pura (Mandala) dan beberapa aspek fisik sebagaimana terdapat di pura pada umumnya.
Realita di lapangan menunjukkan bahwa, Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri tidak tersusun atas Tri Mandala tapi hanya satu Mandala saja. Hal ini disebabkan oleh pemusatan seluruh pura dalam satu areal lahan yang sama.
Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri juga tidak memiliki Candi Bentar ataupun Gelung Agung sebagai pintu masuk pura, tidak mempergunakan patung, dan tidak memiliki Panyengker dengan batas yang tegas dan jelas.
Hal ini disebabkan adanya kepercayaan bahwa, aspek konstruksi di Pura Khayangan Desa Pasek Toh Jiwa Wanagiri menekankan penggunaan bahan alami seperti tumbuhan hidup dan batu alam.
Oleh sebab itu, realitas fisik dari Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri dipenuhi oleh Palinggih dengan sistem Babaturan yang diitari oleh tumbuhan hidup berukuran besar dan berusia tua.
Bentuk Babaturan di pura ini, adalah batu bertumpuk yang direkatkan secara alami menggunakan tanah liat.
Di sisi lain, terdapat pula beberapa Babaturan yang dijadikan sebagai Bataran (dasar) Gedong dari kayu.
Sedangkan tumbuhan hidup di pura ini terdiri dari dari beberapa jenis tumbuhan seperti, pohon Jepun Bali, Soka Hasti, Pucuk Arjuna, Pucuk Bang, Pucuk Roko, Sandat, Jempiring, Plawa, Pergu, dan lain sebagainya.
Pohon Jepun Bali dan Soka Hasti berukuran besar dan berusia tua, dipercaya sebagai tumbuhan sakral di areal Palinggih yang dijaga ketat keberadaannya.
Sedangkan tumbuhan lain seperti Pucuk (Kembang Sepatu) dan tumbuhan berbunga lain dipergunakan sebagai Panyengker Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri.
Struktur kontruksi Palinggih yang banyak didominasi oleh penggunaan bahan alami dan tumbuhan hidup ini bukan merupakan wujud ketidakmampuan secara finansial dari Pangempon dalam membangun pura dengan sarana konstruksi sebagaimana umumnya.
Baca Juga: Profil Mekel Desa Les-Tejakula, Gede Adi Wistara yang Sukses Bawa Les Raih ADWI Tahun 2024
Berdasarkan aspek ritual maka sarana ritual di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri mempergunakan sarana yang khas yakni, pemakaian tumbuhan paku (pakis) emas, paku pajeng, daun cemara gongseng yang diperoleh di Puncak Kedaton atau Batukau.
Pemakaian pakis tersebut diposisikan sebagai ciri dan Panugrahan dari penguasa hutan Batukau, yang diperoleh ketika Krama Desa Adat Wanagiri Matur Piuning ke dalam hutan dan Pucak Kedaton (Puncak Gunung Batukau) untuk memohon keselamatan alam lingkungan.
Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri penting dianalisis mengingat terdapat aspek keyakinan terhadap sisi ekologi di balik perbedaan dan keunikannya.
Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri yang menekankan konstruksi dalam wujud kealamian, memusat dalam satu areal lahan adalah wujud kesadaran pelestarian ekologi dari Krama Adat Pangempon Pura.
Kesadaran tentang kelestarian ekologi, direalisasikan dengan penggunaan aspek fisik pura yang ramah lingkungan dan upaya untuk mempersedikit penggunaan lahan untuk kepentingan umat manusia, termasuk didalamnya adalah kepentingan pembangunan tempat suci.
Kesadaran ekologi tersebut salah satunya difokuskan pada Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri sebagai aspek religius umat Hindu di lingkungan Desa Adat Wanagiri.
Pemertahanan pura dengan nuansa kealamian bersumber dari besarnya keyakinan umat terhadap esensi teologi yang ada dalam aspek ekologi Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri.
Kondisi ini menunjukkan adanya dalil teo-ekologi di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri. Kepercayaan umat terhadap esensi Tuhan salah satunya dituangkan dalam upaya secara bersama untuk menjaga alam lingkungan di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri tersebut.
“Pemeliharaan pura dengan cara mempertahankan sisi kealamiannya dipandang sebagai wujud keyakinan dan penghormatan terhadap Tuhan yang ada dalam unsur Biotik maupun Abiotik di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri,” tegas Danu. *
Editor : Putu Agus Adegrantika