BALIEXPRESS.ID - Kehidupan ini sering kita jumpai sebuah kehidupan yang ada dalam suatu ketidakpastian namun demikian emas dari lumpur sekalipun tetap emas. Itulah kehidupan yang terjadi dimanapun seseorang dalam mengarungi samudra luas dalam bingkai keluarga.
Hal itu pun tertuang di dalam Slokantara Sloka 56 (26). Wisadapyamrtam grahyamamedhyadapi kancanam, nicadapyuttama widya striratnam duskuladapi. Kalinganya, ikang amrta, umetu saking wisa yogyalapen, ikang mas metu saking ajrem awor lawan purisa, yogyalapen, sang hyang aji sastragama, yan metu ikang wwang nica, yogyalapen, mangkanekang striratna, yadyan sakawonganya, yogyalapen ing aji.
Artinya, air kehidupan (amrta) walaupun asalnya dari racun, emas dari lumpur, pelajaran tinggi dari orang kelahiran rendah, dan perempuan bagai mutiara itu walaupun dari keluarga yang miskin patut diambil.
Baca Juga: Kuat Mengendalikan Diri dengan Yoga
Penyuluh Agama Hindu, Kemenag Gianyar, Ni Ketut Santiani, menjelaskan bahwa dalam sebuah kehidupan ada yang ingin mendapatkan kebahagiaan sehingga bisa menikmatinya.
Namun tidak semua bisa menikmatinya karena seperti emas dari lumpur ya tetap emas yang sangat berharga. Oleh karena itu hendaknya jangan berbangga dengan apa yang telah diperolehnya karena semua itu tidak semua milik kita semuanya.
Santi pun menjelaskan hal ini masuk dalam dharma merujuk pada konsep yang sangat penting, yang dapat dipahami sebagai kewajiban, kode etik, atau prinsip moral yang mengatur kehidupan seseorang.
“Dharma berhubungan dengan perilaku yang benar dan adil dalam kehidupan sosial, keluarga, dan spiritual. Ini juga mencakup tugas dan tanggung jawab yang sesuai dengan peran individu dalam masyarakat atau kehidupan, serta kewajiban terhadap alam semesta,” terangnya.
Baca Juga: Pedagang Kecil Bingung! Aturan Baru LPG 3 Kg Bikin Pengecer Gelisah, Terancam Berhenti Jualan?
Dharma sering kali dianggap sebagai salah satu dari empat tujuan hidup dalam ajaran Hindu, yang dikenal sebagai Purusartha bersama dengan artha (kemakmuran), kama (kenikmatan), dan moksha (pembebasan).
Dalam setiap konteks, dharma mengarah pada jalan hidup yang membawa keseimbangan dan harmoni, serta membantu seseorang menjalani hidup dengan cara yang bermakna dan sesuai dengan prinsip-prinsip universal.
“Setiap individu bisa memiliki dharma yang berbeda-beda, tergantung pada peran sosial, usia, jenis kelamin, dan keadaan kehidupannya. Misalnya, dharma seorang pelajar berbeda dengan dharma seorang guru, atau dharma seorang raja berbeda dengan dharma seorang pedagang,” pungkasnya. *
Editor : Putu Agus Adegrantika