Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngajum Kajang, Simbolis Atman Dilukiskan dalam Aksara Suci

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 5 Februari 2025 | 13:57 WIB
KAJANG : Prosesi ngajum kajang dalam upacara pengabenan di Bali.
KAJANG : Prosesi ngajum kajang dalam upacara pengabenan di Bali.

BALIEXPRESS.ID – Kajang dalam bahasa sansekerta artinya penutup, prosesinya ini pun kerap dilakukan dalam pelaksanaan upacara ngaben. Kajang dalam upacara pengabenan sangat penting sebagai bekal dibawa pulang.

Tokoh Agama Jro Mangku Gde Nyoman Adi Garnida, menjelaskan kajang merupakan simbol atman yang dilukiskan dalam aksara suci.

“Penggunaanya dipakai ngeringkes watangan namun dalam pengabenan ini menggunakan pengawak cendana karena tanpa watangan, maka cendana ini yang di selimuti dengan kajang kemudian dimasukkan ke dalam peti,” paparnya.

Disebutkan jumlah kajang sebanyak 7 lembar bermakna 7 lapisan alam. Inilah dibawa pulang diharapkan mampu menembus 7 lapisan alam tersebut.

Dalam kakawin baratayuda disebutkan dewi hadimbi meminta sebuah kerudung kepada dewi drupadi untuk menutup diri dalam perjalanan panas untuk menemui nenek moyangnya (leluhur) agar tdk mendapat rintangan menuju swarga.

“Dari kisah ini tersirat nilai penting dalam penggunaan kajang, agar sang atma ketika pulang mendapat swarga. Jadi makna ngajum (memuji) kajang untuk memberikan jalan pulang kepada atman agar bisa bertemu sama leluhurnya. Ngajum ini dilakukan oleh anak,” tegas Mangku Garnida.

Prosesi ini pun merupakan ke dalam Pitra Yadnya, dimana salah satu bentuk upacara dalam agama Hindu yang bertujuan untuk menghormati dan mendoakan arwah leluhur atau orang yang telah meninggal.

Istilah "Pitra" berarti leluhur atau orang yang sudah meninggal, sedangkan "Yadnya" merujuk pada ritual atau persembahan yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan pemujaan.

Upacara ini bertujuan agar arwah leluhur mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan di alam seberang.

Pitra Yadnya biasanya dilaksanakan melalui serangkaian ritual, yaitu memberi penghormatan berupa air, makanan, dan doa.

Dipercaya dapat membantu arwah leluhur agar tetap diberkati dan mendapat tempat yang baik di kehidupan setelah mati. Upacara ini sering dilakukan pada waktu-waktu tertentu. 

Hal ini membuat upacara Pitra Yadnya sangat dihormati dalam tradisi Hindu. Terutama di Bali dan daerah-daerah dengan komunitas Hindu yang besar, dan memiliki makna yang mendalam dalam menjaga hubungan spiritual antara generasi yang masih hidup dan leluhur mereka. *

Editor : Putu Agus Adegrantika
#Kajang