Tarian ini menjadi ikon tari Bebali di Pura yang berada di areal kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja.
Tarian Menjangan Salukat ini memang didedikasikan sebagai seni ikonik Pura Agung Mpu Kuturan. Proses penciptaannya berlangsung hampir satu tahun lebih, yang dimulai sejak akhir 2021 silam.
Kemudian, tarian bebali ini perdana dipentaskan saat upacara Ngenteg Linggih di Pura Agung Mpu Kuturan.
Sedangkan pementasan yang ketiga kalinya dilaksanakan saat Pujawali Bhakti penerus pada Sabtu (8/2) malam bertepatan dengan Hari Saraswaati.
Jika dilihat saat pementasannya, Tari Menjangan Salukat diawali dengan mengumandangkan gending kekidungan yang sifatnya mengundang.
Para penyanyi tersebut berasal dari mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung dalam UKM Tabuh maupun dharma gita.
Tak hanya diiringi oleh kekidungan, para penari itu juga diiringi dengan tetabuhan yang menyerupai geguntangan.
Tetabuhan ini seirama dengan kekidungan. Jika kekidungan semakin kencang, maka begitu pula dengan tetabuhannya.
Suara kekidungan yang halus mendayu-dayu mengiringi empat gadis yang siap untuk menarikan Tari Menjangan Salukat.
Mereka mulai melakukan doa untuk memohon agar diberikan taksu dan kelancaran dalam mementaskan tari Menjangan Salukat ini.
Dari empat orang penari, hanya dua orang nantinya terpilih. Proses penunjukkan tidak sembarangan.
Melainkan dipilih dengan menggunakan lekesan sejenis daun sirih yang di dalamnya terdapat pis bolong atau uang kepeng.
Ada empat lekesan yang disiapkan. Tetapi, dari empat lekesan itu, hanya dua saja yang berisi uang kepeng.
Maka, penari yang mendapatkan lekesan berisi uang kepenglah yang berhak menarikan.
Usai berdoa, dua dari empat orang penari kemudian dipasangkan gelungan. Gelungan ini tergolong unik.
Sebab dibuat dari tanduk Menjangan yang asli. Begitu juga dengan hiasannya yang Nampak indah.
Saat penari sudah menggunakan gelungan, maka secara otomatis kedua penari tersebut mulai trance atau kerauhan.
Sedangkan kedua penari lainnya selalu stand by untuk membelakangi kedua penari yang trance.
Gerakan penari yang kerauhan tersebut begitu lemah gemulai. Sesekali mereka terlihat senyum sumringah dari wajahnya.
Tetapi di sisi lain, para penari ini mengeluarkan ekspresi seolah ingin menangis.
Tujuannnya untuk mengantisipasi jika sang penari yang kerauhan itu terjatuh.
Keduanya selalu mengikuti kemanapun para penari tersebut bergerak baik sembari duduk maupun berdiri di areal depan pura Agung Mpu Kuturan.
Setelah menari beberapa menit, gelungannya pun kemudian dicabut.
Hingga akhirnya kedua penari yang kerauhan itu kembali tersadar setelah keduanya dipercikkan tirta suci oleh Jro Mangku.
Dosen Seni STAHN Mpu Kuturan, Putu Ardiyasa, S.Sn, M.Sn menjelaskan, proses penciptaan Tari Menjangan Salukat ini melibatkan seniman-seniman yang juga sebagai akademisi di kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja.
Seperti seniman tabuh alm. Prof. Dr. Putu Parmajaya, M.Pd dan seniman Tari I Gusti Ayu Desy Wahyuni S.Sn, M.Pd.H
Selama proses penciptaan memang diawali dengan matur piuning hingga memohon taksu di Tirta Pancoran Solas di Bangli.
Upaya itu dilakukan bukan semata-mata karena tarian disakralkan, melainkan sebagai bentuk keseriusan dalam proses penciptaan mengingat dijadikan tarian Bebali.
Saat proses melukat di Pancoran Solas, ada empat penari yang mendapat mandat untuk menarikan tarian Menjangan Salukat.
Namun, dalam proses menarikannya, hanya dua orang penari saja yang terpilih.
Disinggung terkait dua orang penari yang terpilih sebagai simbol rwa bhineda. Ardiyasa menyebut, rwa bhineda sebagai simbol dua hal yang berbeda, baik-buruk, siang-malam, pria-wanita.
“Dua orang penari ini bukan melambangkan Menjangan Luh-Muani. Tetapi lebih dari itu. Dua penari ini sebagai simbol Rwa Bhineda. Simbol dua hal yang selalu berbeda yang ada di dunia ini,” paparnya.
Dijelaskan Ardiyasa, sebagai proses sakralisasi, busana tarian ini juga tidak sembarangan.
Menggunakkan Gelung Palegongan dengan tambahan tanduk menjangan asli. Kemudian menggunakan simping yang terbuat dari kulit dan kain bebali.
Pakaian menggunakan konsep palegongan dngan dasar baju warna putih, menggunakan sabuk lilit dari kain bebali, menggunakan selendang kuning dan menggunakan kamen kain bebali
Proses sakralisasi Gelungan dan pakaian pingit dengan proses pasupati, ngelinggihang busana. Kemudian, Penari melalui pross pelukatan dan pewintenan pregina.
Selanjutnya proses nedunang busana dengan bakti piuning dan segehan Agung serta menyimpan busana di gedong.
“Jadi proses sakralisasi itu dari menyimpan busana tidak boleh sembarangan,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika