Uniknya, tradisi ini menggunakan sarana berbahan pelepah enau bersama sarana ritual lainnya yang kemudian disebut dengan Sang Hyang Sambah.
Sang Hyang Sambah merupakan salah satu sarana yang dipakai pada rangkaian upacara ngusabha sambah sebagai sarana untuk memohon kesuburan.
Kesuburan ini dapat tercipta disebabkan adanya kekuatan atau kemampuan Wisnu sebagai dewa yang dipercaya sebagai Dewa Kesuburan yang mempunyai kemampuan untuk menjaga makhluk.
Dewa Wisnu atau Dewa Kesuburan mendapatkan pemujaan yang dominan dalam Ngusaba Sambah.
Sang Hyang Sambah berbentuk persegi empat yang terbuat dari bambu. Simbol ini dinilai identik dengan bentuk padmasana.
Dimana, Sang Hyang menyerupai singasana seperti kursi terletak pada puncak bangunan yang paling di atas bentuknya segi empat yang melambangkan Catur Iswarya, bentuk persegi empat pada Sang Hyang Sambah merupakan simbol dari Catur Iswarya yang diartikan sebagai sifat Tuhan dalam wujud empat kemahakuasan-Nya.
Baca Juga: Peraih Diaspora Heroes BNI di Korsel Sukses Buka Usaha Hingga Kembangkan Warung Nusantara
Bendesa Adat Pasedahan, I Wayan Swenten menjelaskan Ngusabha Sambah ini dilaksanakan dilaksanakan di Pura Puseh dan Bale Agung.
Sang Hyang Sambah identik dengan sanggah surya. Sarana yang digunakan Sang Hyang Sambah sama dengan sanggah surya yakni memakai peji, uduh, dan biu lalung, namun sarana lain yang ada pada Sang Hyang Sambah yakni hanya berupa daksina, banten penyungsung, banten lanlan, sesayut,bebek putih direbus yang dihaturkan pada proses upacaran Ngusabha Sambah.
Sang Hyang Sambah berbentuk pelinggih yang menyerupai kursi atau tempat duduk. Pelinggih Sang Hyang Sambah, memiliki tiang enam buah yang bahannya dari pelepah enau yang masih hijau.
Keenam tiang tersebut dipasang menjadi dua deretan yang memanjang kebelakang, sehingga di sebelah kanan ada tiga tiang dan di sebelah kiri ada tiga tiang pula yang berderet ke belakang dan sejajar, sehingga Sang Hyang Sambah berbentuk persegi empat panjang yang memanjang ke belakang dan memiliki rong (ruang) satu.
Baca Juga: 12 Februari, Bupati dan Wakil Bupati Klungkung Terpilih Bakal Mejaya-jaya Sebelum Dilantik
Ukurang tinggi dua tiang yang berada paling depan lebih pendek dari pada dua tiang yang berada di tengah dan di belakang (ukuran tinggi dua tiang yang berada di tengah dan di belakang sama).
Ukuran tinggi dua tiang yang berada di depan lebih pendek dari ukuran tinggi dua tiang yang berada di tengah dan di belakang, maka bentuk Sang Hyang Sambah akan memiki dua tingkatan (undagan).
Hal ini akan terlihat jelas apabila sepertiga dari tinggi tiang bagian atas diberi pembatas dari bambu dan pelepah enau yang masih hijau, serta dialasi dengan bedeg (bambu yang dianyam).
Di depan dua tiang yang paling depan di pasang dua tiang yang pendek yang di atasnya dialasi dengan pelepah enau yang masih hijau.
Pada Sang Hyang Sambah di bagian atas sisi belakang, sisi kanan dan sisi kiri dipasang bedeg (bambu yang dianyam).
Sedangkan pada sisi depan tidak dipasang bedeg atau dibiarkan terbuka dan pada sisi atas juga tidak dipasang bedeg atau dibiarkan terbuka karena tidak memakai atap.
Bedeg yang dipasang pada sisi belakang, sisi kanan dan sisi kiri ditutup dengan daun enau tua (ron) dengan cara dijarit.
Baca Juga: Sengketa Batas Wilayah Desa Sepang Kelod, Warga Minta Pemerintah Segera Bertindak
Dikatakan Swenten, pada Sang Hyang Sambah dipasang bambu panjang yang sudah dibelah (disebit) dan dirapikan serta ujungnya dibentuk lancip atau runcing pada setiap sudutnya. Pada bambu tersebut dipasang daun enau muda (ambu).
Di sudut depan sebelah kanan di pasang pohon pisang yang ada buah, bunga dan jantungnya (biu lalung) dan pengawin yang berupa umbul-umbul.
Di sudut depan sebelah kiri dipasang sejenis pohon enau (uduh) dan pohon pinang kecil (peji). Pada belakang atas dipasang pengawin berupa payung pagut berwarna putih.
Pelinggih Sang Hyang Sambah didirikan di atas bataran yang berbentuk persegi empat panjang dan terbuat dari batu bata yang merupakan tempat khusus untuk mendirikan pelinggih Sang Hyang Sambah.
Bataran tersebut terletak di sudut utara dan timur Pura Bale Agung atau di jaba tengah Pura Puseh.
Pelinggih Sang Hyang Sambah bersifat sementara karena dibuat menjelang upacara ngusabha sambah nantinya akan dirarung/dipralina setelah upacara ngusabha sambah berakhir, di samping itu pula Sang Hyang Sambah dibuat dari sarana atau bahan-bahan dari tumbuh-tumbuhan, sehingga tidak bertahan lama.
Baca Juga: Harga Bahan Pokok di Buleleng, Stabil dan Terjangkau.
Untuk menyelesaikan sebuah bangunan suci Sang Hyang Sambah yang baik, diperlukan adanya sikut atau ukuran-ukuran tertentu.
Baik bangunan itu dibuat besar maupun kecil, ukuranukuran itu mutlak harus ada sehingga ukuran antara panjang, lebar maupun tingginya menjadi sangat serasi hingga bentuknya baik dan indah.
“Ukuran yang dipakai untuk menentukan tingginya tiang sesuai dengan ketentuan Asta Kosalia adalah antara 21 atau 22 rahi. Kemudian ditambah setengah rahi atau satu nyari tangan sebagai pengurip,” ungkapnya.,” sebutnya.
Kemudian menentukan kaki bangunan atau sukunya, maka ukurlah dari ujung bawah tiang ke atas sebesar 3 rahi ditambah 1 nyari kancing hingga sampai pada sunduk.
Mengenai besarnya sunduk tidak ada ketentuan, tetapi biasanya orang memakai ukuran besar sunduk itu setengah dari besarnya rahi, dan tinggi sunduk dua pertiga dari besarnya rahi.
Dan demikian pula tentang pelangkiran atau ruangan tempat menaruh saji. Juga tidak memakai ketentuan namun hendaknya dapat disesuaikan dengan panjangnya adegan hingga nampak serasi dan indah.
Apabila dilihat dari sarana pada Sang Hyang Sambah yakni berupa pohon pinang kecil (peji), sejenis pohon enau (uduh) dan pohon pisang yang ada buah, bunga dan jantungnya (biu lalung) maka Sang Hyang Sambah dapat diidentikkan dengan sanggar surya / sanggah surya
Sanggah surya ini sering disebut sanggah pesaksi. Sanggah surya adalah tempat untuk mensthanakan Siwa Raditya sebagai saksi upacara.
Untuk upacara pada tingkatan madya menggunakan sanggah surya dengan satu rong yang menggunakan peji, uduh dan biu lalung, ceniga lamak.
“Pelinggih Sang Hyang Sambah merupakan tempat untuk mensthanakan Siwa Raditya sebagai saksi dalam upacara Ngusabha Sambah,” katanya (dik)
Editor : I Putu Mardika