Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Alami Insomnia, Ini Terapi Insomnia lewat Yoga, Pikiran Nirodha jadi Tujuan

I Putu Mardika • Selasa, 18 Februari 2025 | 04:01 WIB

 

Yoga menjadi salah satu cara untuk mengatasi insomnia
Yoga menjadi salah satu cara untuk mengatasi insomnia
BALIEXPRESS.ID-Kasus insomnia atau kemampuan tidak bisa tertidur pulas kian banyak dialami masyarakat di era modern saat ini. Kondisi ini tentu berdampak terhadap kesehatan dan mental. Rupanya, selain pola hidup yang sehat, praktik yoga bisa menjadi solusi dalam meningkatkan kualitas tidur.

Praktisi Yoga yang juga akademisi STAHN Mpu Kuturan, Gede Agus Jaya Negara menjelaskan insomnia merupakan suatu kondisi yang dialami oleh seseorang karena ketidakmampuan untuk tertidur pulas atau mempertahankan kondisi tidur.

Ketidakmampuan ini disebabkan karena adanya gangguan pada pikiran yang tidak menentu.

Kondisi insomnia lebih disebabkan oleh faktor pikiran. Ini artinya bahwa pikiran memegang peranan yang sangat penting terhadap kualitas tidur seseorang.

Sehingga berdampak terhadap kualitas tidur.

Agus Jaya mengatakan, dalam Lontar Wrhaspati Tattwa menyebutkan sifat pikiran dapat dibedakan menjadi tiga.

Pertama pikiran Sattvika meliputi kejujuran, kebebasan, kelembutan, kekuatan, keagungan, ketangkasan, kehalusan dan keindahan.

Baca Juga: Ratusan Peserta Contest Ramaikan Bali Utara Modfest, Genre Meet Up Pacu Modifikator Muda Berkreasi  

“Pikiran jujur dan teguh dapat membedakan antara benda dan batas-batasnya, memiliki pengetahuan tentang Isvaratattwa, pandai menunjukkan kelembutan dalam bicara, memiliki bentuk badan yang indah, merupakan sifat pikiran sattvika,” jelasnya.

Kedua, pikiran Rajasa meliputi kekejaman, keangkuhan, kekerasan, kegarangan, keserakahan, ketidakmantapan, kebengisan dan kecerobohan. Hati bersifat bengis, perilaku penuh amarah dan menakutkan, angkuh dan suka kekerasan.

Ia garang dan serakah, lidah dan kaki tidak tenang, tidak ada yang dicintai. Ia ceroboh dan kurang hati-hati. Itulah sifat-sifat pikiran rajasa.

Ketiga, pikiran Tamasa. Pikiran ini meliputi kemalasan, sifat pengecut, lelesuan, pembunuh, kesebronoan, kesedihan, kebisuan, sifat merugikan, keterlibatan merupakan sifat-sifat pikiran tamasa.

Baca Juga: Propam Polda Bali Dalami Laporan Soal Penyidik Polresta Tak Sita Bukti Kasus Penggelapan SHM

Ia menambahkan, dalam Lontar Sewaka Dharma menyebutkan, menurut gerak lincah dan terpusat-tenangnya pikiran dapat dibedakan menjadi lima.

Yaitu ksipa adalah pikiran yang tidak pernah diam, seperti monyet yang senang lompat sana dan lompat sini, dari satu objek ke objek yang lainnya.

Ada juga yang mengandaikan pikiran itu seperti kuda liar dan binal (kuda yang seperti ini adalah kuda yang tidak pernah diam), atau seperti perilaku anak kecil yang tidak pernah diam.

Segala sesuatu yang baru dari penglihatannya dianggap baik, dan selalu ingin mengikmati dan menguasai.

Mudha adalah pikiran egois, penuh dengan kecongkakan, takabur, tamak, menyombongkan diri, mau menang sendiri, tidak tahu mana yang baik dan buruk, ngomongnya selalu keras dan sok berani, merasa diri paling pintar, paling cantik, paling sakti, paling kaya, dan lain sebagainya.

Keadaan pikiran orang seperti ini, tidak akan pernah bisa menghargai keunggulan orang lain. Orang lain akan selalu dipandang tidak tahu, tidak bisa dan tanpa arti dimatanya;

wiksipta adalah pikiran yang mulai dewasa, tetapi masih mendua dan sering ragu.

Baca Juga: Ruas Jalan Padangkerta Kembali Bergelombang, Ini Penyebabnya

Orang yang pikirannya sudah mamasuki wiksipta, orang tersebut paham akan tingkatan-tingkatan ajaran hakikat, tahu tata karma bermasyarakat, tahu baik-buruknya perbuatan, ia berbuat penuh pertimbangan, tingkah polahnya menurut ajaran susila, dan setia pada ucapannya.

Akan tetapi, masih saja ada keragu-raguan di dalam hatinya. Hal ini disebabkan karena guna rajas masih kuat mempengaruhi dirinya;

ekagra disebut juga ekakrta adalah pikiran yang terpusat. Pikiran orang yang telah memasuki ekagra, keadaan pikirannya tenang.

Hal ini disebabkan karena pengaruh guna satwam sangan kuat pada dirinya.

Kata sang rsi, kondisi pikiran yang tenang dan terpusat bisa dicapai melalui cara hidup yang benar dan baik, disiplin diri, serta rajin mengikuti tahapan-tahapan dalam latihan yoga;

Selanjutnya, nirudha adalah keadaan pikiran yang tenang-sentosa. Keadaan pikiran ini diperoleh setelah orang mampu ekagra memusatkan pikiran secara tepat, mantap dan baik.

Untuk bisa sampai pada tahapan ini, memerlukan waktu yang cukup lama.

“Oleh sebab itu rajin, sabar dan tekun berlati pengendalian diri (yoga) menjadi kunci untuk sampai pada pikiran nirudha,” katanya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#kesehatan #mental #insomnia #tidur #yoga