Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Filosofis Tumpek Landep, Tajamkan Pikiran, Wujudkan Sikap Peka terhadap Kehidupan

I Putu Mardika • Sabtu, 22 Februari 2025 | 23:21 WIB

 

Ritual Tumpek Landep dengan memberikan persembahan kepada pusaka sebagai bentuk penghormatan dan ketajaman pikiran
Ritual Tumpek Landep dengan memberikan persembahan kepada pusaka sebagai bentuk penghormatan dan ketajaman pikiran
BALIEXPRESS.ID-Setiap 210 hari, tepatnya Saniscara Kliwon Wuku Landep, umat Hindu di Bali merayakan Hari Tumpek Landep.

Hari ini sebagai momentum untuk turunnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Pasupati yaitu Dewa yang berkuasa atas segala jenis senjata atau alat-alat yang terbuat dari logam.

Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika mengatakan, kata Landep dimaknai sebagai ketajaman, sehingga dimaknai sebagai momentum untuk memperingati segala hal yang tajam dan runcing.

“Makna secara filosofis dari arti tajam adalah pikiran. Atau Landeping idep. Sehingga yang dipertajam adalah pemahaman, wawasan dan pengetahuan agar tetap diasah dengan belajar,” ujarnya, Rabu (6/4) siang.

Dalam implementasinya, umat Hindu di Bali merayakan tumpek landep dengan membuatkan upacara seperti berbagai macam pusaka warisan dari para leluhur yang dikeramatkan.

Seperti keris,tumbak, pisau, sabit, dan senjata lainnya.

Baca Juga: Boncengan dengan Pacar, Gadis Belia Tewas Kecelakaan Akibat Rok Tersangkut Gear Motor

“Semua tujuan upacara itu dihaturkan kepada manifestasi Tuhan Yang Maha Kuasa yang menguasai semua senjata atau peralatan seraya memohon kepada Sang Hyang Pasupati agar semua peralatan itu bertuah,” paparnya.

Tak hanya beragam jenis senjata, perayaan Hari Tumpek Landep tak dipungkiri mengalami pergeseran terhadap alat-alat yang terbuat dari logam.

Seperti alat elektronik, kendaraan, perabot rumah tangga, yang digunakan dalam aktifitas sehari-hari.

Pemberian banten pada benda-benda tersebut memiliki makna agar Sang Hyang Pasupati berkenan memberikan anugerah terhadap benda-benda tersebut agar mempermudah jalan hidup pemiliknya saat digunakan.

“Tumpek Landep mengajarkan kita agar senantiasa merawat dan memelihara segala perlengkapan dan sarana yang menunjang kehidupan manusia, agar mampu menghadapi perkembangan modernisasi yang serba cepat, tepat dan akurat,” imbuhnya.

Baca Juga: Pura Agung Banjar Sedahan Gelar Ngenteg Linggih, Bertepatan dengan Tumpek Landep: Ada MKP, BBQ Bali dan Celekontong Mas Saat Sesuhunan Masolah

Manusia menggunakan ketajaman Jnana yakni pikiran, idep, logika dan ilmu pengetahuannya sehingga berhasil mengolah logam-logam yang dipergunakan untuk melancarkan usahanya dalam menunjang kehidupan sehari-hari.

Peringatan Tumpek Landep ini mengandung makna bahwa manusia harus selalu sadar untuk mengasah ketajaman batinnya.

Diharapkan dengan ketajaman batin tersebut akan terbangun sifat dan sikap hidup yang peka terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.

Kepekaan terhadap masalah sosial akan menyebabkan keperdulian terhadap masalah-masalah sosial seperti masalah kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya.

Ketajaman pikiran diartikan sebagai sebuah penghanyatan agar dapat berjalan pada jalan yang benar.

Ia menyebut, manusia harus menjadikan pikiran sebagai sumber kebahagiaan dengan mengendalikannya. Menurutnya, manusia harus menjadi joki bagi kuda-kuda pikirannya yang mengarahkan ke arah yang baik.

“Jangan biarkan kuda-kuda pikiran yang mengarahkanmu menuju kesengsaraan pikiran. Di sini penajaman pikiran perlu dilakukan untuk meluruskan fungsi dan kegunaan alat-alat yang digunakan untuk kehidupan tersebut jika ada yang melenceng dari jalur penggunaannya,” paparnya.

Baca Juga: Pikap dan 16 Unit Motor Listrik Ludes Terbakar di Tol Gempol-Pasuruan

Perayaan Hari Tumpek Landep tertuang dalam Lontar Sundarigama. Menurut Nyoman Suardika, dalam Lontar Sundarigama  menjelaskan tentang banten-banten yang dipersembahkan pada saat upacara Tumpek Landep.

Kunang ring wara landep, saniscara kliwon, pujawalin bhatara siwa, mwah yoganira sanghyang pasupati, pujawalinira bhatara siwa, tumeng putih kuning adanan, iwak sata putih, sarupane wenang, gerang, trasi bang, sedah who, aturakna ri sanggar. Yoganira sanghyang pasupati, sasayut paśupati 1, sasayut jayeng perang 1, sasayut kusuma yudha 1, suci 1, daksina 1, peras ajuman 1, canang wangi, tadah pawitra, reresik, astawakna ring sarwa dewa lalandep ing aperang, kalinganya rikang wwang, apasupati landep ing idep, samangkana, lekasakna sarwa mantra wisesa, danu dhara, uncarakna ring bhusana ning paperangan kunag, minta kasidyan ring Sang Hyang Pasupati

Jika diterjemahkan: Pada wuku landep, yakni pada hari Sabtu Kliwon Landep merupakan hari suci Bhatara Siwa dan hari suci Sanghyang Pasupati. Sesajen untuk persembahan kepada Bhatara Siwa terdiri atas tumpeng putih kuning, daging ayam putih, ikat teri, terasi merah, sedahan who dipersembahkan di Sanggar. Sesajen untuk persembahan kepada Shangyang Pasupati terdiri atas 1 sasayut pasupati, 1 sasayut jayeng perang, 1 sasayut kusuma yudha, 1 suci, 1 daksina, 1 peras ajuman, canang wangi, tadah pawitra (air suci), reresik, dipersembahkan kepada para dewa penguasa senjata tajam yang digunakan di medan perang. Maknanya adalah menajaman batin dan pikiran. Karena itu, pada hari itu umat wajib merapalkan mantra-mantra mujarab, terutama mantra danurdhara, dirapalkan untuk mendoakan kekuatan busana perang, mohon keberasilan kepada Sang Hyang Pasupati.

Baca Juga: GEGER! Kakek Asal Banyuwangi Tewas dengan Wajah Luka-Luka di Lahan Kosong Jalan Pura Demak Denpasar

Ia mengatakan, penggunaan Sesayut Pasupati pada upacara Tumpek Landep dilakukan mengingat benda-benda tersebut merupakan alat untuk mempertahankan diri dan alat sakral sebagai tanda bahwa seseorang memiliki kekuasaan serta wibawa dalam teritorial tertentu.

Banten Sesayut Pasupati ini umumnya dihaturkan pada mobil dan sepeda motor.

Pemangku yang memimpin upacara umumnya memercikan tirtha dan mengoleskan minyak yang terdapat pada Banten Pasupati.

Banten sesayut pasupati yang digunakan pada saat upacara Tumpek Landep ditujukan kepada Sang Hyang Pasupati agar yang diharapkan oleh umat dapat terkabul.

Selain itu untuk memohon keselamatan di dalam memanfaatkan alat-alat yang digunakan pada kehidupan.

Baca Juga: Tegang! Warga Gerebek Pemuda yang Konsumsi Miras di Tempat Umum, Ini Reaksi Mereka

Pasupati juga merupakan permohonan untuk menghidupkan benda-benda sakral dengan menggunakan Upacara Pasupati untuk dapat memberi kekuatan magis pada benda.

”Jadi tumpek landep tujuannya mengasah pikiran layaknya perabotan-perabotan yang digunakan tersebut supaya lebih tajam dan berguna untuk kebaikan. Pikiran yang tajam akan mampu memerangi kebodohan dan menekan sifat bhutakala dalam diri,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #keris #hindu #Tumpek Landep