Sanghyang Grodog adalah ritual pengaci desa yang dilakukan setiap dua tahun sekali tepatnya pinanggal tilem sasih karo dan dilaksanakan dari pagi, siang, sore hingga malam hari.
Tradisi yang mepertunjukkan 23 tarian sakral ini dimaknai sebagai pengawas desa.
Tempat pelaksanaan Ritual Sanghyang Grodog yakni tepat di Catuspata atau perempatan Agung Desa Lembongan.
Inilah titik nol kilometer Desa Lembongan dipilih adalah karena tempat tersebut mengandung makna filosofi bahwa Sanghyang Grodog ingin kembali memurnikan masyarakat Lembongan dengan mengajak kembali ke titik nol dalam diri masing-masing,
Bendesa Adat Lembongan, I Komang Erawan mengatakan Sanghyang Grodog merinci, dua puluh tiga tarian tersebut diantaranya Sanghyang Bumbung, Sanghyang Sampat, Sanghyang Lingga, Sanghyang Penyalin, Sanghyang Joged, Sanghyang Jaran, Sanghyang Dukuh Ngabe cicing.
Baca Juga: Aplikasi Pintu Luncurkan Pintu Pro Futures Versi Web
Ada pula Sanghyang Dukuh Masang Bubu, Sanghyang Sampi, Sanghyang Kebo, Sanghyang Bangu-Bangu, Sanghyang TilingTiling, Sanghyang Enjo-Enjo, Sanghyang Tutut, Sanghyang Manjangan, Sanghyang Jangolan, Sanghyang Barong, Sanghyang Capah, Sanghyang Kelor, Sanghyang Perahu, Sanghyang Payung, Sanghyang Sumbul, dan Sanghyang Perahu.
Tak hanya dari sisi jumlahnya yang banyak, namun yang menarik dari Sanghyang Grodog di Lembongan ini adalah penggunaan roda kayu pada masing-masing simbol sanghyang.
Kedua puluh tiga sanghyang tersebut disimbolkan dengan media yang dibuat menyerupai sanghyang yang akan ditampilkan, atau dalam sebutan lokal disebut dengan gegulak.
Ia menyebutkan, media gegulak dengan roda terbuat dari kayu.
Selanjutnya akan digerakkan diiringi dengan nyanyian atau gending sanghyang.
“Istilah Grodog muncul dari suara yang ditimbulkan ketika roda kayu tersebut digerakkan dan bersentuhan dengan tanah tempat berlangsungnya prosesi sanghyang,” paparnya.
Gegulak tersebut dikerjakan oleh krama.
Sebagai contoh, satu banjar mendapatkan 2 gegulak yang menjadi tanggung jawab mereka untuk melaksanakan upacara Sanghyang, yakni gegulak Sanghyang Perahu dan Gegulak Sanghyang Kebo.
“Kelompok masyarakat yang mendapat kewajiban ini biasanya akan memulainya dengan mengadakan pertemuan intern, musyawarah, dan setelah mencapai kesepakatan, secara bergotong royong mewujudkan Gegulak sampai dengan proses upacara tersebut dilaksanakan,” ucap Erawan.
Ia menambahkan Sanghyang Grodog merupakan ritual pengaci desa yang dipentaskan setiap tahun dengan fungsi sebagai penyomia desa.
Nyomia desa merupakan suatu upacara yang dilakukan untuk menetralisir unsur-unsur negatif sehingga menjadi positif.
Unsur-unsur yang telah dinetralisir tersebut dengan ritual Sanghyang Grodog ini diyakini akan memberikan dampak yang baik secara sekala maupun niskala bagi krama dan lingkungan di Desa Adat Lembongan.
“Sanghyang Grodog ini dilakukan untuk mencegah munculnya musibah-musibah yang meresahkan warga desa, diantaranya kekeringan dan wabah penyakit terutamanya penyakit cacar yang dahulu dikategorikan sebagai penyakit yang mematikan. Kedua bencana ini, tergolong hal yang sulit diatasi oleh masyarakat Desa Lembongan yang saat itu masih tradisional dan amat bergantung pada kebaikan alam untuk mampu bertahan hidup,” sebutnya.
Selain fungsinya sebagai penyomia desa, penyelenggaraan Sanghyang Grodog pada masa-masa terdahulu merupakan suatu ritual yang dinanti-nantikan oleh masyarakat Desa Lembongan.
Ritual ini menjadi suatu hiburan tersendiri bagi masyarakat Desa Lembongan baik kaum muda maupun tua, sangat antuasias menyambut digelarnya prosesi Sanghyang Grodog.
Baca Juga: Bobol Gudang, Pencuri Kawat Tembaga di Gianyar Dibekuk Polisi Gegara Ini
Selama belasan hingga puluhan tahun, Sanghyang Grodog sempat hanya menjadi kenangan manis dalam ingatan masyarakat Desa Lembongan.
Semenjak dimulainya budidaya rumput laut pada tahun 1984 dan munculnya pariwisata di Desa Lembongan, masyarakat Desa Lembongan mulai sibuk dengan aktivitas rumput laut dan pariwisata, maka Sanghyang Grodogan pun perlahan-lahan mulai dilupakan.
Pasalnya menyiapkan prosesi sanghyang itu membutuhkan waktu dan perhatian khusus. Kesulitan mencari bahan untuk prosesi sanghyang terutama dalam membuat gegulak membuat kami terpaksa menghentikan tradisi ini.
Selain itu mayoritas masyarakat Desa Lembongan yang menjadi petani rumput laut disibukkan dengan aktivitas budidaya rumput laut yang cukup menyita waktu dan perhatian.
Namun selama 29 tahun mati suri, tradisi ini dibangkitkan kembali.
Masyarakat sadar sudah menjadi kewajiban mereka untuk menjaga dan melestarikan tradisi leluhurnya sangat disayangkan apabila tradisi Sanghyang Grodog yang sarat akan makna ini punah.
Masyarakat akan merasa sangat bersalah pada anak cucu mereka, apabila nantinya mereka benar-benar tidak pernah menyaksikan tradisi leluhur ini.
Selain itu masyarakat percaya akan spirit pemurnian yang akan muncul dengan diselenggarakannya Sanghyang Grodog.
Kesadaran inilah yang kemudian memotivasi kelompok pemangku desa yang tergabung dalam Saba Pinandita Desa Lembongan untuk membangkitkan kembali Sanghyang Grodog.
“Proses ini diawali dengan penggalian gending Sanghyang dan melakukan upacara Guru Piduka, kemudian dimulailah proses persiapan hingga pelaksanaan Sanghyang Grodog,” katanya. (dik)
Editor : I Putu Mardika