Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngusaba Ngerarung Bikul di Julah, Tiap Krama Haturkan Seekor Tikus, Dilaksanakan Setahun Sekali

I Putu Mardika • Senin, 3 Maret 2025 | 02:12 WIB

 

Tradisi Ngerarung bikul di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng yang dilaksanakan saat Sasih Kepitu
Tradisi Ngerarung bikul di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng yang dilaksanakan saat Sasih Kepitu
BALIEXPRESS.ID-Sasih Kepitu menjadi catatan penting bagi Krama Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Sejumlah Tradisi dilaksanakan yang berkaitan dengan Bhuta Yadnya di Sasih ini.

Salah satunya yaitu Tradisi Ngerarung Bikul (Tikus).

Tradisi ini dilaksanakan bertujuan untuk mengantisipasi agar tikus tidak menyerang tanaman masyarakat di Julah.

Tradisi ini dipusatkan di Pura Bale Agung Desa Julah. Saat dilaksanakan, ratusan  krama ikut berbondong-bondong ngerarung Tikus ke Segara (Pantai) Julah untuk dihanyut.

Tokoh Adat Julah, Ketut Sidemen mengatakan, khusus di Sasih Kapitu, krama Ngusaba Galungan Ngusaba Mapag, Ngusaba Sakenan, Ngusaba Empelan, Ngusaba Mesegeh, Ngusaba Semer, Ngusaba Dapetan Mecukit, Ngusaba Ngerarung Bikul, Ngusaba Upah Upah, Ngusaba Neduh Wali dan Ngusaba Neduh Salah.

Khusus Ngusaba Bikul dilaksanakan saat Pangelong Kelima atau lima hari setelah Purnama Sasih Kepitu.

Baca Juga: Kronologi Pemilik Kos Ditemukan Tewas dalam Sumur di Denpasar, Nihil Bekas Kekerasan

Pelaksanaan Ngusaba Ngerarung Bikul memang tidak lepas dari mitologi yang berkaitan dengan Tikus yang disebut Jro Ketut di Desa Julah.

Konon, dalam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Julah yakni kisah “I Belog” yang kehilangan cincin akibat dibegal sama Be Jagul.

Belog akhirnya meminta bantuan kepada Bikul untuk melobangi kayu peti dan mengambil cincinnya yang hilang.

“Bikul bersedia membantu I Belog mengambilkan cincinnya dan berhasil. karena keberhasilan itu, ia pun diberikan hadiah. Namun Bikul tidak mau menerima hadiah itu. Atas bantuannya tersebut Bikul kemudian diberikan gelar dengan sebutan Jro Ketut. Ini cerita rakyat yang berkembang,” kata Sidemen kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Baca Juga: Ngeri! Pemancing Tewas Diterkam Buaya, Potongan Tubuh Ditemukan di Perut Predator

Dikatakan pensiunan Guru Agama Hindu ini bahwa dari cerita Bikul menerima Gelar Jro Ketut membuat masyarakat Julah percaya akan kekuatan dari Jro Ketut.

Meski tidak dapat dipungkiri jika Tikus memang kerap membuat onar dan merusak tanaman masyarakat. Untuk mengantisipasi hama tikus tersebut, maka dibuatlah Upacara Ngusaba Ngerarung Bikul.

Tidak ada catatan tertulis sejak kapan tradisi Ngusaba Ngerarung Bikul ini dilaksanakan di Julah. Namun seingatnya, tradisi ini memang sudah dilanjutkan secara turun temurun di Desa Julah, Kecamatan Tejakula.

Dalam upacara ini, setiap Kepala Keluarga (KK) selaku Krama Negak di Julah wajib menyetorkan satu ekor tikus, baik jantan maupun betina. Tikus bisa dalam kondisi hidup-hidup maupun sudah mati.

Tikus bisa diperoleh darimana saja. Baik di rumah, di kebun maupun di sawah. Bahkan, jika sulit didapatkan, krama ada yang mencari tikus ke luar desa. Tak jarang ada yang membeli tikus hingga ke Kota Singaraja.

Baca Juga: IDIH MALU! Pasangan Diduga Selingkuh Digerebek Warga Saat Berduaan di Kebun Singkong: Begini Endingnya!

Wajar saja, mengingat berdasarkan pengalamannya, setiap menjelang Ngusaba Ngelarung Bikul digelar, tikus di rumah warga perlahan menghilang entah kemana. Sehingga warga kerap kesulitan untuk menangkap tikus.

“Seminggu sebelum Ngusaba sudah tidak ada tikus,” paparnya.

Saat puncak acara, tikus yang ditangkap hidup-hidup dibawa ke Pura Bale Agung Julah. Setiap warga membawa masing-masing satu ekor tikus.

Jika jumlah Krama Negak mencapai 350 KK, maka sudah ada 350 ekor tikus yang dibawa ke Pura Bale Agung, lengkap bersama 11 keping uang kepeng.

Lalu bagaimana jika tidak mendapat tikus? Maka krama diberikan alternative untuk membawa 11 uang kepeng sebagai pengganti.

“Jadi 11 uang kepeng itu sebagai kompenasi. Artinya saat ke Pura Bale Agung, yang tidak membawa Tikus sudah pasti membawa 22 keping uang kepeng. Rinciannya, 11 kepeng sebagai pengganti tikus, dan 11 kepeng sebagai bekal wajib,” ungkapnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#desa julah #tejakula #tikus #Sasih Kepitu #ngerarung bikul #buleleng