Selain menggunakan sarana tikus dan uang kepeng, dalam Ritual Ngusaba Ngerarung Bikul di Julah juga menggunakan sejumlah sarana banten.
Seperti Banten Sesayut serta menggunakan sarana dua ekor Babi Guling.
Dikatakan Tokoh Adat Julah, Ketut Sidemen, krama yang sudah berkumpul di Pura Bale Agung Julah mereka terlebih dahulu melaksanakan persembahyangan bersama.
Seluruh prosesi Ngusaba Ngerarung Bikul dipimpin langsung Jro Kubayan Tengen.
Usai ilen-ilen atau prosesi di Pura Bale Agung, maka seluruh krama yang hadir bergerak menuju ke Segara (pantai) Desa Julah.
Ratusan Tikus tersebut dimasukkan ke dalam Jempana (sejenis alat untuk memikul) menuju Segara.
Biasanya digunakan gong untuk mengiringi sepanjang perjalanan menuju Segara.
Sesampainya di segara, kembali dilaksanakan ritual ilen-ilen, seperti mecaru. Usai mecaru, maka dilanjutkan dengan prosesi puncak yaitu ngerarung.
Ratusan tikus tersebut baik kondisi hidup maupun mati dihanyutkan ke Segara sebagai bentuk penyucian.
Dengan harapan agar tikus-tikus tersebut secara filosofis tidak mengganggu masyarakat Julah dan tanaman para petani.
“Kami sangat meyakini jika tikus akan berinkarnasi menjadi makhluk yang derajadnya lebih tinggi. Bahkan, dari pengalaman yang selama ini terjadi usai Ngerarung Bikul, nyaris tidak ada lagi tikus yang mengganggu masyarakat baik di rumah maupun di kebun dan sawah,” paparnya.
Baca Juga: Perlu Uang untuk Pulang ke Jaksel, Pria Rampok dan Bikin Robek Kepala Cewek Michat di Kuta
Lalu apakah tradisi ini pernah tak dilaksanakan? Seingatnya, tradisi Ngusaba Ngerarung Bikul rutin dilaksanakan tanpa absen.
Ia mengaku jika tradisi ini menjadi warisan leluhur orang Julah yang sangat memperhatikan konsep teoekologi.
“Barangkali ini adalah bentuk perhatian menjaga keseimbangan lingkungan, ekosistem, sehingga krama Julah senantiasa diberikan kesejahteraan, dan perlindungan secara skala dan niskala,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika