Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Melukat Wayang saat Upacara Bayi Tiga Bulanan, Dilukat Wayang Ismaya, Gunakan Tirta Sudhamala  

I Putu Mardika • Senin, 10 Maret 2025 | 04:16 WIB

 

Prosesi melukat wayang usai ritual tiga bulanan dilaksanakan
Prosesi melukat wayang usai ritual tiga bulanan dilaksanakan
BALIEXPRESS.ID-Ritual Tiga Bulanan di Buleleng senantiasa dilaksanakan dengan prosesi melukat tirta wayang bagi bayi yang dibuatkan upacara. Prosesi ngelukat tirta wayang dilakukan di akhir upacara usai bajang colong.

Jro Dalang Putu Ardiyasa menjelaskan Melukat tirta wayang merupakan sebuah tradisi yang telah ada sejak jaman dahulu hal ini dipertegas dalam beberapa tinggalan prasati.

Dalam persepektif agama wayang dapat difungsikan sebagai seni wali, bebali dan juga balih-balihan.

Dalam konteks di Bali, Jro Dalang Ardi yang juga dosen STAHN Mpu Kuturan menyebutkan bahwa wayang digunakan dalam ritual agama tujuannya untuk menyempurnakan keberadaan penyelenggaraan ritual agama.

“Penyempurnaan yang dimaksud ketika menggunakan puja mantra yang diucapkan oleh pemangku atau Ida Sulinggih, maka ada konsep jnana marga yang dituangkan dalam kesenian untuk angawe kelanguan atau rasa takjub yang sangat mendalam,” katanya.

Ia melanjutkan, Mantra-mantra dalam teks weda Smrti dituangkan melalui itihasa yakni  Ramahyana dan Mahabrata.

Kemudian teks ini diterjemahkan dalam bentuk kakawin dan diwujudkan dalam bentuk wayang

Dalam upacara tiga bulanan, memang tidak semua wilayah di Bali memiliki aktifitas ritual yang sama. Karena menyangkut dresta.

Baca Juga: Diduga Depresi, Naik ke Atap Rumah Warga dan Sembunyi di Pura Pande, Pria Asal Jember Diamankan Warga di Klungkung

Namun bagi masyarakat buleleng meyakini bahwa upacara tiga bulanan wajib menggunakan wayang karena percaya bahwa tirta wayang adalah tirta penyempurna atau pamuput dari wayang

“Apalagi saat mebaas pipis atau ditanyakan kepada orang pintar, kalau anak yang baru lahir rata-rata nunas bawos dan ada permintaan untuk nunas akletokan, yang berarti wajib ngupah wayang. Apakagi anaknya lelaki sebagai ucap puji Syukur yang kepada Sang Hyang Ismaya (Siwa) atas anugerah yang diberikan,” sebutnya.

Melukat merupakan upacara yang dilaksanakan dengan tujuan pembersihan secara lahir dan bathin.

Ada keyakinan jika badan secara lahir dibersihkan dengan air dan bathin dibersihkan dengan puja-puja kekutan bathin pimpinan upacara dengan menggunakan sarana atau banten.

Dalam tradisi ngupah wayang biasanya dilaksanakan setelah pementasan wayang selesai dimana permohonan tirta penglukatan dilakukan dengan mencelupkan tangkai wayang Dewa Siwa disertai dengan puja atau matra penglukatan.

Tirta yang digunakan saat melukat bayi tiga bulanan itu disebut tirta sudamala atau Astapungku. Hanya mantramnya saja berbeda untuk upacara tiga bulanan, upacara pernikahan atau pitra yadnya pasti berbeda.

“Sudhamala fungsinya membersihkan semua kotoran yang dibawa,” paparnya.

Baca Juga: Lima Desa Disasar Pelatihan Ketrampilan, Dorong Bursa Kerja Lewat Aplikasi 'Saking Buleleng'

Dalam teks dharma pewayangan yang berhak melukat tidak disebutkan. Tetapi yang wenang anglukat manusa saat prosesi melukat biasanya ditunjukkan dengan menancapkan wayang kayonan, Siwa Ismaya, Tri murti.

“Tirta Siwa yang menjadi utama. Apalagi kesaksinin oleh Triyo Dasa Saksi termasuk Dewi Saraswati saat prosesi melukat tirta dilaksanakan,” kata Dosen Prodi Pendidikan Seni Budaya dan Keagamaan Hindu ini.

Dalam konteks Tri Murti masing-masing dewa memiliki fungsi dan juga peranan masing-masing Brahma sebagai Pencipta, Wisnu pemelihara, dan Siwa sebagai pelebur.

Prosesi melukat wayang oleh Jro Dalang untuk bayi tiga bulan
Prosesi melukat wayang oleh Jro Dalang untuk bayi tiga bulan

Dalam hal penglukatan yang dikonotasikan sebagai pebersihan dan juga penyucian, tentu dewa Siwa dianggap yang paling tepat untuk dimohonkan anugrahnya.

Dismping itu puja mantra yang dipergunakan adalah Puja asta pungku dimana dewa yang dipuja adalah Dewa siwa menggunakan wayang dewa Siwa, penglukatan juga disertai dengan menggunakan wayang tualen.

Dalam setiap pembuatan tirta sudamala yang menggunakan wayang kulit twalen slalu mengambil peran penting bersama sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Acintya yang dijadikan sarana upacara penglukatan dengan tangkai di celupkan ke dalam sangku yang berisi air.

Lebih lanjut disampaikan keterlibatan Twalen dalam dengan pengruwatan didasarkan pada kitab Sudamala dengan jelas menyebutkan nama semar yang mengiringi tuannya (Sahadewa), meruwat Dewi Durga, semar dalam kitab tersebut juga melaksanakan pengruwatan terhadap kalika.

Disamping itu pula tokoh twalen juga merupakan cerminan cahaya diambil dari kata Twalen yaitu Tuha len, dimana Tuha berkar dari kata Tuh yang berarti cahaya yang gemilang.

Baca Juga: LHO KOK! Truk Angkut Cumi Alami Kecelakaan, Bukan Dibantu tetapi Dijarah: Pantas Warganet Komen Begini

Dengan vibrasi wayang Twalen yang dipergunakan diharapkan seorang anak yang dilukat akan mampu diberi penerangan dari keadaan gelap (widya) menjadi terang atau (Awidya).

Dalam prosesi melukat tirta wayang saat upacara tiga bulanan dilaksanakan, ada sarana yang wajib dipergunakan dalam media penglukatan adalah bunga Teratai (Tunjung).

Penggunaan tunjung ini memiliki filosofi bahwa bungai Teratai merupakan bunga yang dapat hidup di dalam tiga tempat akarnya berada di lumpur, daunya berada di air dan bunganya berada di udara

Dijelaskan Jro Dalang Ardi, Bunga Teratai yang berlapis-lapis seperti lapisan alam semesta atau disebut sebagai patalaning buwana.

Dalam lontar dasa nama bunga padma disebut sebagai Raja Kususma atau rajanya bunga dengan bentuk padma asta dala sehingga dipakai stana oleh Hyang widhi wasa

“Penglukatan sendiri merupakan sebuah ritual pembersihan dan juga penyucian diri seseorang sehingga seseorang yang dilukat dalam prosesi ngupah wayang memiliki watak serta tabiat yang sesuai dengan ajaran agama,” paparnya.

Rangkaian prosesi ngupah wayang tersebut merupakan satau kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk karakter seseorang, tentu didasari oleh kesucian hati dan pikiran seseorang dapat menjaga karakternya menjadi lebih baik. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#ritual #melukat #bali #wayang #tiga bulanan #hindu #Sudhamala #Tirta #tualen #buleleng