Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Mistis Pura Siwa Bentuyung: Tempat Suci Hindu Bali yang Selamat dari Serangan Jepang Berkat Keajaiban Alam?

I Putu Suyatra • Sabtu, 15 Maret 2025 | 00:25 WIB

Tempat suci Hindu Bali, Pura Siwa Bentuyung yang berdiri megah di Jalan Beji, Desa Kekeran, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung
Tempat suci Hindu Bali, Pura Siwa Bentuyung yang berdiri megah di Jalan Beji, Desa Kekeran, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung

BALIEXPRESS.ID - Di balik keindahan tempat suci Hindu Bali, Pura Siwa Bentuyung yang berdiri megah di Jalan Beji, Desa Kekeran, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, tersimpan kisah mistis yang membuat bulu kuduk merinding.

Awalnya hanyalah sebuah Pura Paibon, tempat suci Hindu Bali, ini berubah menjadi pura umum setelah peristiwa dramatis saat penjajahan Jepang.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Tokoh Pura Siwa Bentuyung, I Made Kardana, mengungkapkan bahwa pada masa pendudukan Jepang, warga Kekeran diliputi ketakutan.

Pasukan Jepang yang sudah menguasai Desa Kapal berencana menyerang Kekeran.

Dengan persenjataan modern, mereka jauh lebih unggul dibanding warga yang hanya bersenjatakan bambu runcing.

"Dulu ada gua Jepang di timur sungai, sebagai bukti mereka bersiap menyerang. Tapi sekarang sudah hilang akibat proyek galian C," ujar Kardana.

Warga yang putus asa akhirnya berdoa di Pura Paibon. Mereka bersumpah, jika Jepang gagal menyerang, pura tersebut akan dijadikan pura umum.

Ajaibnya, malam sebelum serangan, hujan deras mengguyur. Sungai meluap dan banjir besar menghalangi pasukan Jepang melanjutkan penyerangan.

Sejak saat itu, pura tersebut pun berubah nama menjadi Pura Siwa Bentuyung.

Lutung Tangis: Penjaga Tak Kasat Mata yang Memberi Pertanda

Namun, keajaiban pura ini tak berhenti di situ. Jro Mangku I Wayan Darsa mengisahkan keberadaan sosok niskala bernama Lutung Tangis yang diyakini sebagai penjaga pura.

Patungnya berdiri kokoh di kanan-kiri Gedong Ida Ratu Dukuh.

"Kalau akan ada musibah, suara tangisan anak kecil akan terdengar di timur pura, berulang-ulang dari utara ke selatan. Jika ini terjadi, warga segera mempersembahkan banten dan berdoa agar bencana terhindar," jelas Jro Mangku.

Lebih unik lagi, Lutung Tangis akan menangis saat piodalan jika tidak ada tarian, kidung, atau gamelan.

Konon, pura ini memang menjadi tempat para seniman mencari taksu. Bahkan, warga yang tiba-tiba kesurupan sering menari dengan kipas atau menusukkan keris ke tubuhnya tanpa terluka.

Warisan Spiritual dan Seni yang Menghidupkan Pura

Pura Siwa Bentuyung kini diempon oleh 82 Kepala Keluarga (KK) dan memiliki pelinggih utama seperti Gedong Ida Ratu Dukuh, Gedong Taksu, dan Gedong Pasimpangan Tengah Segara.

Anak-anak yang berlatih menari di pura ini pun konon lebih cepat menguasai gerakan, seolah mendapat restu langsung dari Ida Betara.

"Kalau anak-anak nangis ingin menari saat piodalan, saya biarkan saja. Mungkin itu cara mereka ngayah," tutur Kardana yang sudah menjadi Kelian Pura sejak 1994.

Kisah Pura Siwa Bentuyung menjadi pengingat bahwa tempat suci ini bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga saksi hidup perjuangan, keajaiban, dan harmoni spiritual yang masih hidup hingga kini. *** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Kabupaten Badung #mengwi #Pura Siwa Bentuyung #hindu bali #jepang