Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Sarana Upakara Kematian menurut Yama Purana Tattwa, Bubur Pirata Simbol Persembahan Atma, Sekarura sebagai Laban

I Putu Mardika • Sabtu, 15 Maret 2025 | 20:02 WIB

 

Berbagai sarana dalam ritual kematian mulai dari kajang, sekarura hingga bubur pirata dalam prosesi kematian
Berbagai sarana dalam ritual kematian mulai dari kajang, sekarura hingga bubur pirata dalam prosesi kematian
BALIEXPRESS.ID-Ada sejumlah sarana penting yang digunakan dalam upacara kematian bagi umat Hindu di Bali. Sarana tersebut wajib ada dan sarat akan makna. Mulai dari Bubur Pirata, Daun Beringin, Kajang hingga Sekarura.

Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M.Ag menjelaskan ada beragam sarana yang digunakan dalam upacara kematian di Bali. Keberadaan sarana upakara ini tidak bisa diabaikan.

Diantaranya Bubur Pirata adalah sesajen yang penggunaannya juga sangat khusus yaitu sebagai persembahan kepada atma yang mau diaben atau dikubur.

Dalam uraian Teks Yama Purwana Tattwa, semua bentuk upacara pengabenan menggunakan sesajen yang disebut bubur pirata dan tarpana, baik itu Swastha Gheni, Pitra Yadnya, Nistha, Madhya, demikian juga Uttama.

Cara pembuatan bubur pirata dimulai dari beras dicuci bersih, selanjutnya dimasak menjadi bubur dengan air cendana, diisi susu, diaduk-aduk sampai lembut. Selanjutnya disajikan di atas daun medori kalau tidak ada biasanya diganti dengan daun dapdap.

Baca Juga: Petani di Buleleng didorong Menanam Jagung Arumba, Ini Alasan Keunggulannya

“Dibuat berbentuk bundar, diisi sambal maje keling, rumput (padang lepas), ujung ilalang. Bubur Pirata merupakan simbol persembahan Sang Atma kepada Dewa Yama putra Dewa Surya yang menguasai hidup dan mati semua mahluk,” ungkapnya.

Sarana selanjutnya adalah Daun Beringin. Dalam melaksanakan upacara kegamaan, daun beringin sering sekali menyertainya sebagai sarana inti. Ketika pelaksanaan upacara agama dipimpin oleh seorang Pandita sesajen yang ditempatkan di Surya ada yang disebut Dewa-Dewi.

Untuk membuat Dewa-Dewi daun beringin merupakan salah satu sarana inti, demikian juga dalam pembuatan banten saraswati pemakaian daun beringin juga merupakan salah satu sarana inti.

“Selanjutnya menurut Yama Purwana Tattwa, bantal kepala mayat terbuat dari daun beringin, demikian juga kamben Adeg Sekah,” katanya.

Sarana lainnya adalah Angenan. Kata angenan berasal dari kata angen yang berarti jiwa atau bathin, dengan demikian angenan adalah lambang jiwa orang yang meninggal, agar tidak lagi memikirkan kenikmatan dunia, akan tetapi terfokus akan perjalanannya.

Tidak kalah pentingnya adalah sarana Kajang. Sarana Kajang adalah kain kapan yang ditulisi dengan tulisan wijaksara sebagai manifestasi dari para Dewa.

Baca Juga: Waspada! Maling Motor di Masjid Darussalam, Pelaku Sempat Ikut Salat

Kain putih sebagai perlambang badan kasar atau pengawak arang yang meninggal, sedangkan tulisan wija aksara sebagai perlambang atma, dengan demikian kajang adalah wahana yang dinaiki arwah ketika mau menghadap sang Pitara (Brahman).

Kajang bermacam-macam sifatnya, ada yang dari pendeta seperti yang tersebut di atas, ada juga yang dari keluarga sebagai lambang kasih sayang,

Kereb sari adalah simbolis saput atau selendang orang yang meninggal, sedangkan kereb sinom adalah simbolis dari pada umpalnya.

Damar kurung adalah simbolik matahari yang akan menerangi jalan yang akan dilewati sang atma. Wadah atau bade adalah simbolik kendaraan yang dinaiki oleh arwah ketika menuju alam sunia loka. Bentuk wadah sangat ditentukan oleh kedudukan seseorang dalam strata kemasyarakatannya.

Kemudian ada pula sarana Petulangan yang merupakan tempat pembakaran mayat atau pengawak dari yang di aben. Petulangan ini biasanya disesuaikan dengan kedudukan orang yang meninggal serta bentuk serta tingkatan upacara yang dipilihnya

Ada juga sarana Sekarura. Sarana Sekarura terbuat dari beras kuning sebagai lambang menebar kebijaksanaan, bunga jepun sebagai lambang perasaan yang tulus, uang kepeng sebagai unsur panca datu.

Baca Juga: Bali Bangga! Manik Sukses Meraih Immunity Pin dalam Ajang MasterChef Indonesia Season 12

Sekarura ini biasanya ditebarkan pada waktu pemberangkatan mayat ke kuburan, dibarengi dengan menggoyang ubes-ubes dari burung cendrawasih yang diyakini sebagai burungnya para Dewata sehingga di Bali disebut Manuk Dewata.

Memperhatikan puja yang tersurat dalam Dewa Puja Pitra Siwa yang berbunyi; Ongkarane namah; Pakulun sang Ayam ayam, iki tadah sajinira beras saslulan ring dalan; aja sira amigrahani anangkaleni atmane si anu, Ongkara, Ongkara, Ongkara.

Menebar Sekarura bermakna sebagai laban kepada sang Manuk Dewata sebagai pengantar arwah kesunia loka. “Maksud memberikan laban kepada penjaga jalan agar dia tidak yang mengganggu arwah orang yang meninggal selama dalam perjalanan,” katanya.

Menebar sekarura dilakukan ketika mayat diberangkatkan ke kuburan, di depan rumah diputar tiga kali sebagai pertanda perpisahan dengan keluarga, di prapatan jalan diputar tiga kali sebagai tanda perpisahan dengan warga masyarakat, di gerbang kuburan juga diputar tiga kali sebagai permohonan ijin kepada penjaga kuburan.

Perputaran itu biasanya dari kanan mengarah ke kiri (prasawya) (bertentangan dengan jarum jam), di jalan sebagai tanda perpisahan dengan warga masyarakat, sedangkan di kuburan sebagai pertanda pisahan antara alam sekala dengan niskala.

Baca Juga: Lomba Ogoh-Ogoh di Badung Jadi Sorotan: Kritik Tenda, Bonus Tetap Mengalir Untuk Semua Peserta

Ada juga yang mengemukakan bahwa putaran prasawya adalah putaran dari bawah ke atas, yakni perjalanan sang roh dari bhur loka ke swah loka, atau peningkatan diri yang lebih kasar menuju ke alam yang lebih halus.

Sarana selanjutnya adalah Uang Kepeng (Pis Bolong). Penggunaan uang kepeng dalam pelaksanaan upacara keagamaan bagi umat Hindu bukan hal baru. Fungsi uang kepeng dalam pelaksanaan upacara keagamaan baik dalam Rsi Yadnya, Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Manusa Yadnya, apalagi Pitra Yadnya.

Dalam Resi yadnya uang kepeng dipakai sebagai sarana persembahan (sesari), yang saat ini diisi hanya beberapa keping sebagai simbolis selanjutnya dipakai uang rupiah sebagai gantinya mengingat uang kepeng saat ini tidak lagi berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah.

Dalam pelaksanaan upacara Dewa yadnya fungsi uang kepeng juga tidak kalah pentingnya, misalnya dalam sarana persembahyangan (sebagai sarin kewangen) khususnya untuk kewangen pedagingan.

Baca Juga: Aksi Dermawan Aisar Khaledd Banjir Pujian, Belikan Motor dan Iphone Warga Buleleng

Hampir setiap ada prosesi upacara menggunakan uang kepeng, mulai dari ngeringkes sawa (mayat) membuat bekal bagi orang yang akan diaben, untuk sesari pada kewangen, daksina, penuntunan, kalung periuk tempat tirthanya Ida Pedanda dan lain sebagainya. (dik)

Keterangan foto

Kajang, don bingin dan Bubuh Pirata dalam upacara Kematian menurut Yama Purana Tattwa (ist)

Editor : I Putu Mardika
#sarana upakara #pis bolong #kematian #bali #Beringin #bubur pirata #hindu #Sekarura #Kajang