Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna di Balik Setiap Sarana dan Prosesi Ritual Memandikan Jenazah bagi Umat Hindu Bali: Simbol Harapan Kelahiran Kembali yang Sempurna

I Putu Suyatra • Minggu, 16 Maret 2025 | 00:58 WIB

Berbagai sarana dalam ritual kematian mulai dari kajang, sekarura hingga bubur pirata dalam prosesi kematian
Berbagai sarana dalam ritual kematian mulai dari kajang, sekarura hingga bubur pirata dalam prosesi kematian

BALIEXPRESS.ID - Memandikan jenazah sebelum dikebumikan atau diaben merupakan ritual sakral yang wajib dilakukan umat Hindu Bali. Namun, lebih dari sekadar pembersihan, prosesi ini menyimpan makna mendalam.

Berbagai sarana dipasang pada tubuh jenazah umat Hindu Bali dengan harapan agar ketika terlahir kembali, sang roh mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Seperti apa? 

Dalam ajaran Hindu Bali, kematian dipahami sebagai proses pelepasan atma (roh) dari wadag (jasad) untuk kembali ke asalnya dan menyatu dengan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa).

Sementara itu, jasad kasar akan kembali ke unsur Panca Mahabhuta—lima elemen pembentuk alam—dengan bantuan manusia melalui serangkaian upacara, mulai dari memandikan hingga prosesi Nganyut (melarung ke laut).

Kapan Seseorang Dikatakan Benar-Benar Meninggal?

Terdapat beberapa sudut pandang mengenai kapan seseorang benar-benar dinyatakan meninggal.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 18 Tahun 1981, kematian terjadi ketika otak dan batang otak berhenti berfungsi.

"Namun, dari sisi spiritual, seseorang dianggap meninggal jika atma telah terlepas dari Panca Mahabhuta," ungkap Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika.

Sementara dalam keyakinan Hindu Bali, kematian dianggap sah secara ritual jika telah dilakukan upacara, sebagaimana tertulis dalam Lontar Pretekaning Wong Mati.

Prosesi Memandikan Jenazah: Tahapan Sakral yang Penuh Makna

Setelah meninggal, jenazah diletakkan di balai dengan kepala menghadap utara atau timur. Seluruh tubuhnya kemudian diperciki air kayu cendana agar harum.

Beberapa tahapan dilakukan dengan sangat hati-hati, mulai dari mengikat dagu agar mulut tidak menganga, menutup mata dengan uang kepeng, serta menutup hidung dan telinga dengan kapas untuk menghindari gangguan hewan kecil.

Sebelum dimandikan, jenazah disuguhi sesajen berupa nasi, lauk, buah, minuman, dan makanan kesukaannya semasa hidup, lengkap dengan canang sari.

"Proses ini dilanjutkan dengan persiapan kain khusus, termasuk saput kamben, kain putih dan kuning, serta bunga dan kwangen," kata Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika.

Makna di Balik Setiap Rangkaian Prosesi

  1. Pembersihan Awal – Jenazah dimandikan di pekarangan rumah dengan lubang kecil untuk menampung air. Ritual diawali dengan upacara Nanginin, yaitu membangunkan arwah dengan menyebut namanya sambil menepuk kakinya sebanyak tiga kali.

  2. Pembersihan Spiritual – Jenazah dikeramasi, dicuci muka, lalu dibalur blonyoh (campuran kunyit dan rempah), dibasuh sabun, dan diperciki air kumkuman.

  3. Pemberian Simbol-Simbol Kehidupan Baru – Setiap bagian tubuh dipasangi simbol yang memiliki makna khusus:

    • Daun Intaran di alis – Agar memiliki alis yang ideal dalam kehidupan berikutnya.

    • Bunga Teleng di dahi – Melambangkan wawasan luas di kehidupan mendatang.

    • Kaca di mata – Agar penglihatan tajam dan bercahaya.

    • Bunga Menuh di hidung – Simbol penciuman yang tajam.

    • Waja di gigi – Agar gigi kuat dan kokoh.

    • Malem di telinga – Agar pendengaran tajam dan teguh dalam prinsip.

    • Anget-anget di ulu hati – Melambangkan budi pekerti luhur.

    • Daun Terong atau Teratai di alat vital – Simbol kesehatan dan kendali nafsu.

    • Jarum di lengan – Agar lengan kuat dan kokoh saat lahir kembali.

    • Bunga Kelor di gigi taring – Mengontrol sifat buruk (Sad Ripu).

    • Momon di dalam mulut – Simbol agar tutur kata selalu sesuai dengan dharma.

    • Daun Delem di pipi – Menyempurnakan bentuk wajah agar menarik di kehidupan selanjutnya.

Sentuhan Terakhir Sebelum Perjalanan Akhir

Setelah semua prosesi selesai, jenazah diperciki tirta dari berbagai sumber suci sesuai adat desa setempat.

Lalu, ibu jari tangan dan kaki dipasang itik-itik sebagai tanda persiapan menuju perjalanan akhir.

Jenazah kemudian digulung dengan tikar dan kain bertuliskan aksara suci sebelum dimasukkan ke dalam peti dan diletakkan di bale gede dengan kepala menghadap timur atau utara.

Lubang tempat memandikan jenazah kemudian ditutup kembali dengan tanah sambil diucapkan kata "bersih" tiga kali.

Sebagai tanda penghormatan terakhir, keluarga menghaturkan sodan dan makanan kesukaan almarhum untuk disembahyangi.

Prosesi ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi sebuah wujud kasih sayang keluarga kepada almarhum, memastikan perjalanan rohnya lancar menuju kehidupan selanjutnya.

Ritual ini juga menjadi pengingat bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah persiapan menuju kehidupan baru yang lebih baik.

Sebuah prosesi penuh makna yang menyiratkan harapan bagi sang roh—agar kelak kembali ke dunia dengan kehidupan yang lebih sempurna. *** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Panca Mahabhuta #memandikan jenazah #hindu bali #ritual sakral