Misteri Pohon Pule di Bali: Obat Mujarab atau Tanaman Angker?
I Putu Suyatra• Rabu, 19 Maret 2025 | 15:33 WIB
Pohon Pule (Alstonia scholaris)
BALIEXPRESS.ID - Di balik kesan angkernya, pohon Pule (Alstonia scholaris) ternyata menyimpan segudang manfaat bagi kesehatan. Dalam sistem pengobatan tradisional Bali, tanaman ini dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit, baik medis maupun magis.
Lontar Taru Premana bahkan menyebutkan khasiat luar biasa dari pohon yang dikenal sakral ini.
Getahnya panas, akarnya sejuk, dan pucuk daunnya bisa menjadi obat untuk berbagai keluhan kesehatan.
Lantas, bagaimana cara memanfaatkan Pule sebagai obat? Dan mengapa pohon ini sering dikaitkan dengan dunia gaib?
Pule: Tanaman Sakral dengan Khasiat Medis
Akademisi Fakultas Kesehatan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, I Nyoman Prastika, menjelaskan bahwa dalam Ayurveda, semua bagian dari Pule dapat dimanfaatkan sebagai obat.
Dari akar hingga getahnya, setiap bagian memiliki kegunaan medis yang berbeda.
Air Rebusan Pule: Dapat digunakan untuk mengatasi diabetes, diare, hingga mencuci luka.
Loloh Pule: Minuman herbal dari kulit dalamnya yang berkhasiat untuk lambung dan meningkatkan nafsu makan.
Daun Pule: Ampuh untuk mengobati bisul dan infeksi kulit.
Getah Pule: Digunakan untuk mengatasi bintik merah dan gangguan kulit lainnya.
Meski kaya manfaat, cara pengolahan Pule tidak boleh sembarangan.
Salah satu kesalahan fatal adalah menggunakan panci berbahan aluminium, yang justru dapat mengurangi khasiatnya.
Sebaiknya, pengolahan dilakukan dengan payuk (wajan tanah liat) untuk menjaga kemurnian zat aktifnya.
Mengapa Pule Dianggap Angker?
Di Bali, pohon Pule sering tumbuh di area pura atau kuburan. Ukurannya yang besar dan menjulang tinggi membuat masyarakat percaya bahwa ada ‘penunggu’ di dalamnya.
Oleh karena itu, bagi mereka yang ingin mengambil bagian dari pohon ini untuk pengobatan, biasanya harus membawa canang atau banten, bahkan meminta izin kepada jro mangku.
Namun, berbeda dengan di Bali, di Jawa pohon Pule justru sering ditanam di pekarangan rumah tanpa ada kesan mistis.
Hal ini menunjukkan bahwa anggapan tentang Pule sebagai tanaman angker sangat bergantung pada persepsi masyarakat setempat.
Pule dan Pasupati: Pengobatan dengan Kekuatan Magis?
Menariknya, dalam praktik pengobatan tradisional, ada kepercayaan bahwa ramuan dari Pule bisa dipasupati—yaitu proses membangkitkan kekuatan magis dalam obat.
Beberapa pengobat menggunakan mantra khusus agar khasiatnya semakin maksimal.
Namun, bagi yang tidak terbiasa, cukup dengan doa dan niat baik agar ramuan yang dibuat dapat membawa kesembuhan.
Terlepas dari kesan angkernya, pohon Pule tetap menjadi salah satu tanaman obat paling berharga di Bali.
Sayangnya, pelestariannya sebagai Tanaman Obat Keluarga (TOGA) belum mendapat perhatian khusus.
Padahal, tanaman ini tergolong mudah tumbuh dan bisa menjadi aset penting dalam dunia pengobatan tradisional.
Lantas, apakah Anda masih percaya bahwa pohon Pule hanya sekadar tanaman angker? Ataukah kini Anda melihatnya sebagai sumber kesehatan alami yang belum banyak dimanfaatkan? ***