Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tat Twam Asi dalam Hindu

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 20 Maret 2025 | 01:17 WIB

 

PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu, Kemenag Gianyar, Ni Wayan Ekayanti.
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu, Kemenag Gianyar, Ni Wayan Ekayanti.

BALIEXPRESS.ID - Cinta adalah anugerah yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi Wasa kepada setiap makhluk. Dalam ajaran Hindu, cinta diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti cinta kasih sayang antara orang tua dan anak, cinta persaudaraan, dan cinta antara dua insan yang dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Namun, satu hal yang sering terlupakan adalah bahwa cinta sejati haruslah setara.

Cinta yang setara bukanlah tentang harta, jabatan, kedudukan, atau materi. Cinta yang sejati adalah tentang bagaimana dua insan saling memberikan perhatian, kasih sayang, rasa hormat, dan saling melayani satu sama lain.

Baca Juga: Tekankan Pakem Tradisi, Disbud Tetapkan 21 Sekaa dalam Pergelaran PKB ke -47

Hal tersebut dijelaskan oleh Penyuluh Agama Hindu, Kemenag Gianyar, Ni Wayan Ekayanti. Diungkapkan cinta tidak seharusnya membuat kita tunduk tanpa suara atau kehilangan jati diri. Sebaliknya, cinta yang sejati adalah yang membuat kita tetap berdiri tegak di samping seseorang, bukan di bawah atau di atasnya.

“Dalam konsep Hindu Bali, kita mengenal prinsip Tat Twam Asi yang berarti aku adalah kamu, kamu adalah aku. Prinsip ini mengajarkan kita untuk melihat diri sendiri dalam diri orang lain, sehingga kita dapat saling menghargai, menghormati, dan melayani dengan tulus,” papar Eka.

Baca Juga: PT. Umah Bali Mesari Tegaskan Independensi dan Profesionalisme Paska Penahanan Komisaris Perusahaan

Cinta yang setara juga tercermin dalam konsep Rwa Bhineda, yaitu keseimbangan antara dua hal yang berbeda. Dalam hubungan, perbedaan adalah hal yang wajar, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga keseimbangan tersebut.

Jangan pernah biarkan cinta membuatmu kehilangan suara atau jati diri. Cinta sejati adalah ketika kita bisa menjadi diri sendiri, sambil tetap menghormati dan menghargai pasangan kita. “Cinta yang setara adalah ketika kita saling melayani dengan tulus, tanpa merasa terpaksa atau terbebani,” pungkasnya. *

Editor : Putu Agus Adegrantika