BALIEXPRESS.ID - Pulau Dewata memiliki banyak tempat suci Hindu Bali dengan keunikan dan daya tarik spiritual yang luar biasa dengan salah satu fungsinya diyakini sebagai tempat nunas tamba.
Dari keris pusaka sakti di Pura Pemayun Buleleng, hingga air suci Panca Tirta di Pura Segara Taman Beji yang tetap murni meski berada di pesisir laut.
Ada pula Pura Tamba Waras yang dikenal dengan Penglukatan Sapta Gangga, tempat penyembuhan yang telah ada sejak abad ke-12.
Pura Taman Ganter di Mengwi bahkan memiliki tradisi unik di mana para pemedek yang pernah sembuh berjanji untuk mengabdi selamanya.
Baca Juga: Operasi Ketupat Agung Libatkan 3117 Personil Gabungan, Polda Bali Juga Sedia 31 Bus Mudik Gratis
Sementara itu, Pura Dalem Betawi menjadi simbol harmonisasi Siwa-Buddha dan saksi ritual Imlek yang sarat makna. Seperti apa ritual dan keajaiban spiritual di balik pura-pura ini?
1. Misteri Pura Pemayun Buleleng: Pusaka Sakti dan Ritual Magis yang Menarik Pejabat
Pura Pemayun di Kelurahan Banjar Tegal, Kabupaten Buleleng, memiliki sejarah dan keunikan tersendiri. Tempat suci Hindu Bali, ini terkenal dengan pementasan sakral Tari Baris Demang Demung yang berkaitan erat dengan Ki Barak Panji Sakti.
Salah satu peninggalannya yang disakralkan adalah keris pusaka yang diyakini memiliki kekuatan magis.
Baca Juga: Waspada Cuaca Ekstrem! Pohon Pule Tumbang Menimpa Pura dan Garasi Warga di Blahkiuh
Pura ini memiliki dua mandala, dengan 21 gugusan palinggih di bagian utama.
Dua palinggih utama yang menarik perhatian adalah Palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji, tempat menyemayamkan keris pusaka, serta Palinggih Dewa Sakti Bayu yang berbentuk singgasana setinggi 6 meter.
Palinggih ini dipercaya sebagai yang tertua dan sering didatangi pejabat maupun politisi untuk memohon jabatan.
Selain itu, Pura Pemayun juga menjadi tempat bagi masyarakat yang mencari pengobatan nonmedis (nunas tamba) akibat gangguan niskala (black magic).
Tirta pasupati dari pura ini diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit.
Masyarakat juga sering datang untuk memohon cuaca cerah saat musim hujan melalui Palinggih Dewa Bagus Semar.
Baca Juga: MIMIH! Pemuda di Bali Nekat Ulah Pati, Ditemukan Tergantung di Gubuk, Videonya Viral di Medsos
2. Tradisi Sakral Pura Taman Ganter: Kisah Para Penyembuh yang Mengabdi Selamanya
Pura Taman Ganter di Banjar Adat Ganter, Desa Adat Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, merupakan tempat suci Hindu Bali yang memiliki tradisi unik.
Saat piodalan, para parekan dan pemaksan mengenakan baju poleng (hitam-putih) sebagai simbol kekuatan yang berkaitan dengan pelinggih Ida Betara Bayu.
Parekan dan pemaksan umumnya adalah mereka yang dahulu memohon kesembuhan (nunas tamba) di pura ini.
Setelah sembuh, mereka berjanji untuk mengabdi dengan ngayah di pura.
Jumlah pemaksan mencapai sekitar 400 orang, sementara parekan berjumlah 80 orang.
Baca Juga: UMKM Produsen Wewangian Binaan BRI Siap Harumkan Indonesia di Kancah Dunia
Selain itu, pengempon pura yang terdiri dari 150 KK juga ikut ngayah saat piodalan.
Menariknya, para parekan dan pemaksan ini berasal dari berbagai wilayah, seperti Mengwi, Gulingan, Banjar Sayan, Kelaci, dan Suralaga.
Mereka juga sering mengiring pelawatan atau sesuhunan ke Pura Taman Ganter, kecuali jika penyungsung berhalangan hadir.
3. Keajaiban Panca Tirta di Pura Segara Taman Beji: Air Suci yang Tak Tercampur Laut
Tempat suci Hindu Bali, Pura Segara Taman Beji di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, terkenal dengan lima sumber mata air suci yang disebut Panca Tirta.
Air dari sumber ini digunakan umat Hindu untuk malukat (pembersihan diri) serta sebagai tirta yang diyakini memiliki khasiat penyembuhan.
Meskipun terletak di pesisir pantai, air Panca Tirta tidak bercampur dengan air laut.
Selain umat Hindu Bali, banyak juga orang dari berbagai kepercayaan yang datang untuk bersembahyang dan memohon kesembuhan (nunas tamba) dari penyakit nonmedis.
Untuk bersembahyang di pura ini, umat cukup membawa banten pajati, klungah nyuh gading, dan bunga dalam jumlah ganjil.
4. Pura Tamba Waras: Sumber Penglukatan Sakral dan Obat dari Gunung Batukaru
Pura Tamba Waras di Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, merupakan tempat suci Hindu Bali yang dikenal sebagai lokasi malukat dengan Penglukatan Sapta Gangga dan berbagai tumbuhan obat.
Pura ini berada di lereng selatan Gunung Batukaru dan telah berdiri sejak abad ke-12.
Sejarahnya bermula ketika Raja Tabanan sakit parah dan mendapatkan petunjuk gaib mengenai lokasi obat penyembuh.
Setelah raja sembuh, dibangunlah pura ini sebagai tempat pemujaan.
Penglukatan Sapta Gangga adalah tujuh pancuran air suci yang digunakan untuk penyucian diri, memohon kesehatan (nunas tamba), dan kesejahteraan.
Tujuh pancuran tersebut adalah Tirtha Sanjiwani, Kamandalu, Kundalini, Pawitra, Maha Pawitra, Pengurip, dan Tirtha Pasupati.
Ritual panglukatan diawali dengan persembahyangan, dilanjutkan dengan penggunaan air suci, dan bagi yang mengalami penyakit kronis atau nonmedis, dilakukan minum air kelapa yang telah diberi doa khusus.
Baca Juga: Terlibat Balap Liar, 54 Remaja Diamankan Polisi, Diarak dan Dinaikkan Truk Trailer
Selain tempat malukat, pura ini juga menghasilkan obat tradisional berbahan tanaman yang tumbuh di kawasannya.
Obat tersebut tersedia dalam bentuk minuman dan minyak urut, yang dapat diperoleh umat setelah sembahyang dengan menghaturkan sajen dan sesari sesuai kemampuan.
5. Pura Dalem Betawi: Simbol Harmoni Siwa-Buddha dan Ritual Imlek di Bali
Pura Dalem Betawi diyakini sebagai tempat suci Hindu Bali dengan simbol harmonisasi Siwa-Buddha sejak zaman dahulu.
Masyarakat percaya pura ini sebagai tempat memohon keturunan dengan berdoa di Palinggih Gedong Buddha Dewi Kwan Im.
Selain itu, pura ini juga dikenal sebagai tempat memohon kesembuhan (nunas tamba) dan kelancaran rezeki.
Baca Juga: WADUH! Bukan Pertama, Tiga Bocah SD Ternyata Sudah Beberapa Kali Curi Sepeda Motor!
Pemangku Pura Dalem Betawi, Jero Mangku Karda, menyebut banyak pemedek yang diberi kepasilan berupa daun kelor dan jatu (daun kamboja) karena dipercaya memiliki khasiat pengobatan.
Pura ini sangat dikeramatkan oleh masyarakat Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, karena keberadaan ida bhatara bhatari yang memiliki kekuatan spiritual.
Piodalan di Pura Dalem Betawi berlangsung tiga kali dalam setahun:
- Piodalan Purusha – puncak pujawali setiap enam bulan sekali pada Buda Kliwon Matal.
- Piodalan Predana – bertepatan dengan Purnama Sasih Kadasa, ditandai dengan pertunjukan Calonarang.
- Piodalan Imlek – dilaksanakan saat Hari Raya Imlek, dipusatkan di Palinggih Gedong Buddha Dewi Kwan Im.
Saat Piodalan Imlek, warga keturunan Tionghoa dari seluruh Bali bersembahyang dengan dupa merah berjumlah ganjil sebagai simbol keseimbangan dan kemakmuran.
Dekorasi khas Imlek seperti lampion merah menghiasi pura, mencerminkan toleransi beragama yang terjalin erat di Bali. ****
Baca Juga: Mau Menikmati Olahan Seafood Segar di Dekat Tanah Lot, Yuk ke Kurnia Seafood