Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengungkap Fakta Hipnosis: Ilmu Penyembuhan yang Sering Disalahpahami sebagai Kejahatan dan Praktiknya dalam Tradisi Hindu Bali

I Putu Suyatra • Jumat, 21 Maret 2025 | 16:48 WIB

Hipnosis sering kali dipandang negatif oleh masyarakat.
Hipnosis sering kali dipandang negatif oleh masyarakat.

BALIEXPRESS.ID - Hipnosis sering kali dipandang negatif oleh masyarakat. Banyak orang menganggapnya sebagai alat kejahatan yang bisa membuat seseorang menyerahkan barang berharganya tanpa sadar.

Namun, tahukah Anda bahwa anggapan tersebut sebenarnya keliru? Ilmu yang digunakan dalam aksi kriminal justru adalah gendam, bukan hipnosis.

Menurut Guru Mangku Hipno, seorang pakar hipnosis, hipnosis berasal dari bahasa Yunani Hypnos, yang berarti "Dewa Tidur."

Baca Juga: Berkah di Bulan Ramadan, Pengusaha Kosmetik binaan BRI Ini Omsetnya Meningkat Pesat

Ilmu ini berkembang pesat sejak abad ke-18 setelah diperkenalkan oleh James Braid, seorang ilmuwan asal Skotlandia.

Menariknya, konsep hipnosis ternyata sudah lama dikenal dalam budaya Hindu Bali, bahkan disebut dalam kitab suci Weda sebagai hypnotic treatment.

Hipnosis dalam Tradisi Hindu Bali

Di Bali, praktik hipnosis telah ada sejak zaman leluhur dengan sebutan Jagrasupta, yang berarti “tertidur dalam kesadaran.”

Fenomena ini bisa ditemukan dalam berbagai ritual dan tarian sakral, seperti:

???? Tari Sang Hyang Jaran, di mana penari berjalan di atas bara api tanpa terluka.
???? Tradisi Ngunying, di mana peserta menusukkan keris ke tubuhnya tanpa rasa sakit.

Menurut Guru Mangku Hipno, hipnosis adalah kondisi mental yang memungkinkan seseorang berada di antara sadar dan tidak sadar.

Baca Juga: Peringati HUT IKAHI ke-72, IKAHI Cabang Denpasar Gelar Bakti Sosial dan Kegiatan Keagamaan

Dalam kondisi ini, seseorang tetap bisa mendengar suara dari luar, meskipun saraf tubuhnya “tertidur.”

Sisi Positif Hipnosis: Dari Penyembuhan hingga Terapi Pikiran

Sayangnya, banyak orang Indonesia mengenal hipnosis hanya dari televisi, sehingga muncul stigma negatif.

Padahal, jika digunakan dengan baik, hipnosis memiliki manfaat luar biasa, terutama dalam bidang pengobatan.

“Hipnosis bisa digunakan untuk mengobati penyakit yang berhubungan dengan pikiran dan perasaan, atau yang dikenal sebagai psikosomatis,” jelas Guru Mangku Hipno.

Ciri-ciri penyakit psikosomatis, menurutnya, ada dua:

✅ Berawal dari pikiran yang salah kendali.
✅ Menyerang organ tubuh secara fisik akibat tekanan mental yang berlebihan.

Ia juga menegaskan bahwa hipnosis bukanlah ritual mistis atau penggunaan obat, melainkan metode komunikasi yang dapat mengoptimalkan kekuatan pikiran seseorang untuk kesembuhan.

Hipnosis vs Gendam: Jangan Salah Kaprah!

Meskipun sering disamakan, hipnosis dan gendam adalah dua hal berbeda.

Baca Juga: Disalahkan Patrick Kluivert, Kevin Dicks Unggah Pernyataan Khusus: Tanggapan Netizen Terhadap Keduanya Berbanding Terbalik

Hipnosis dapat dimanfaatkan untuk terapi dan penyembuhan, sementara gendam cenderung digunakan untuk tujuan jahat, seperti menurunkan kesadaran seseorang hingga ke titik nol agar lebih mudah dimanipulasi.

“Hipnosis di tangan orang baik menjadi hipnoterapi, tetapi di tangan orang jahat bisa disalahgunakan menjadi gendam,” tegasnya.

Jadi, sudah saatnya kita memahami hipnosis dengan lebih terbuka. Ilmu ini bukanlah ancaman, melainkan alat yang bisa membantu banyak orang jika digunakan dengan benar. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#gendam #Hipnosis #Guru Mangku Hipno #hindu bali #tradisi