BALIEXPRESS.ID - Di balik kesan sederhana Pura Tumbal Segara di Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, tersimpan kisah luar biasa yang jarang diketahui. Pura yang berdiri di pekarangan warga ini bukan sekadar tempat pemujaan umat Hindu Bali, melainkan pernah menjadi benteng perlindungan bagi para pejuang di masa penjajahan Belanda.
Jejak Sejarah di Desa Buduk
Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, dikenal memiliki banyak pura kuno.
Sepanjang Jalan Taman Beji Buduk, terdapat beberapa pura seperti Pura Hyang Ibu Pasek Badak dan Pura Dalem Kedaton.
Namun, di sebuah jalan kecil yang lebih tersembunyi, berdiri sebuah pura dengan satu palinggih yang tampak sederhana.
Sekilas, pura ini tidak terlihat istimewa. Lokasinya yang berada di pekarangan warga sering membuat orang mengira bahwa itu hanyalah pura keluarga.
Namun, bagi mereka yang memahami arsitektur pura, kehadiran bebaturan kuno di tengah pemukiman adalah sesuatu yang langka dan bernilai sejarah tinggi.
"Ini pura kuno. Bahkan nenek saya pun tidak tahu pasti kapan pura ini pertama kali berdiri. Yang jelas, sejak dahulu kala sudah ada di sini," ujar I Made Mustika, pangarep pura setempat.
Tumbal Segara: Benteng Gaib yang Menyelamatkan Pejuang
Menurut kisah para panglingsir, kawasan Banjar Gunung, tempat pura ini berada, merupakan tanah wayah (pemukiman kuno).
Hal ini diperkuat dengan keberadaan tiga pura kuno di wilayah tersebut: Pura Tumbal Segara, Pura Gunung Sari, dan Pura Ratu Nyoman Pangenter Jagat.
Ketiga pura ini telah ada sebelum penduduk lain mulai bermukim di Buduk.
Nama Tumbal Segara sendiri memiliki makna mendalam.
Kata 'Segara' mengacu pada laut, sebab pura ini dahulu digunakan untuk pemujaan terhadap Ida Ratu Tumbal Segara, yang diyakini berstana di segara.
Buduk, pada masa itu, merupakan pemukiman paling selatan sebelum ada desa lain di bawahnya.
Karena laut masih terlalu jauh, masyarakat mendirikan tempat pemujaan di sini.
Sedangkan kata 'Tumbal' dalam nama pura ini bukan berarti pengorbanan dalam arti negatif.
Sebaliknya, menurut I Made Mustika, istilah ini merujuk pada bentuk pengorbanan Ida Ratu Tumbal Segara demi keselamatan umat.
Pura ini diyakini sebagai penjaga yang menolak bala, memberikan kemakmuran, serta menjadi benteng perlindungan spiritual.
Kisah yang paling menarik dari Pura Tumbal Segara terjadi di masa penjajahan Belanda.
Kala itu, Belanda tengah menaklukkan kerajaan-kerajaan di Bali dan mengejar para pejuang hingga ke Desa Buduk.
Para pejuang yang mencari perlindungan pun bersembunyi di dalam pura ini.
Namun, saat tentara Belanda tiba, mereka mengalami kejadian di luar nalar.
"Tentara Belanda yang mengejar tiba-tiba berteriak histeris, karena mendapati diri mereka sudah berada di tepi laut," ujar I Made Mustika.
Padahal, secara geografis, laut berada sangat jauh dari lokasi pura. Keajaiban ini terjadi setelah para pejuang memohon perlindungan (nunas) kepada Ida Ratu Tumbal Segara.
"Jadi, bukan hanya para pejuang yang disembunyikan, tetapi tentara Belanda juga dibuat kebingungan. Karena fenomena ini, pura ini dianggap sebagai benteng perlindungan," jelasnya.
Tempat Suci yang Tetap Dijaga Kesakralannya
Pura Tumbal Segara memiliki piodalan pada Purnama Sasih Kapat, dan hingga kini tetap menjadi pusat spiritual bagi masyarakat setempat.
Warga yang memiliki hajatan atau acara tiga bulanan sering nunas tirta (memohon air suci) di pura ini.
Bahkan, warga yang bertugas di luar Bali sebagai TNI dan Polri kerap datang untuk memohon keselamatan sebelum dan setelah bertugas.
Demi menjaga eksistensinya, tiga tahun lalu Pura Tumbal Segara mengalami restorasi.
"Restorasi ini dilakukan untuk mempertahankan nilai sakral pura. Ini adalah cihna, tanda bukti dan pasimpangan Ida Ratu Tumbal Segara yang harus tetap kita jaga," pungkas I Made Mustika.
Kisah Pura Tumbal Segara menjadi bukti bahwa tempat-tempat sakral di Bali tidak hanya menyimpan nilai spiritual, tetapi juga menyimpan sejarah perjuangan yang luar biasa. ***
Editor : I Putu Suyatra