Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali Siat Sarang di Karangasem: Ritual Unik Pemuda untuk Menyucikan Diri Jelang Usaba Dimel

I Wayan Adi Prabawa • Sabtu, 22 Maret 2025 | 14:54 WIB

Klian Ngukuin Desa Adat Selat, Jero Mangku Wayan Gede Mustika
Klian Ngukuin Desa Adat Selat, Jero Mangku Wayan Gede Mustika

BALIEXPRESS.ID – Tiga hari menjelang Upacara Usaba Dimel di Desa Adat Selat, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, suasana desa mulai ramai. Sejumlah pemuda berkumpul di jalan raya dekat Polsek Selat, bukan untuk sekadar berkumpul, melainkan melaksanakan tradisi sakral Hindu Bali Siat Sarang.

Makna di Balik Siat Sarang: Perang Simbolik Melawan Hawa Nafsu

Siat Sarang bukan sekadar ritual biasa. Menurut Klian Ngukuin Desa Adat Selat, Jero Mangku Wayan Gede Mustika, tradisi ini dilakukan setahun sekali dengan tujuan "nyomia Bhuana Agung dan Alit"—menyucikan alam semesta dan diri sendiri.

Baca Juga: Dukung Pembatasan Penggunaan Botol Plastik, Anggota DPRD Tabanan Dapat Fasilitas Tumbler

"Siat Sarang diperuntukkan khusus untuk nyomia Bhuana Alit, di mana para pemuda berlatih mengendalikan hawa nafsu yang menyerupai perilaku bhuta kala. Dengan ini, mereka bisa menyambut Upacara Usaba Dimel dengan hati yang benar-benar suci," ungkapnya.

Dalam prosesi ini, para pemuda dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Utara dan Selatan.

Mereka akan saling melempar sarang—sejenis anyaman dari daun kelapa yang sebelumnya digunakan sebagai alas pembuatan jajan upacara.

Melepaskan Sadripu, Menyucikan Diri

Ritual ini memiliki makna mendalam. Sarang yang dilempar melambangkan pelepasan hawa nafsu dan perilaku buruk (Sadripu), seperti keserakahan, kemarahan, dan iri hati.

Baca Juga: Revisi UU TNI: Memperkuat Profesionalisme dan Reformasi Militer di Era Modern

Dengan begitu, saat Usaba Dimel tiba, para peserta telah dalam keadaan suci dan siap secara spiritual.

"Sarang yang telah dikumpulkan akan diberikan labaan di Bale Agung, sebagai simbol bahwa hawa nafsu telah dikendalikan dan dilepaskan melalui tradisi ini," jelasnya.

Tradisi Kuno yang Tetap Lestari

Siat Sarang bukan hanya menjadi bagian dari rangkaian Upacara Usaba Dimel, tetapi juga bentuk warisan budaya yang tetap dijaga oleh generasi muda di Desa Selat.

Selain melatih kedisiplinan dan spiritualitas, tradisi ini juga menjadi simbol harmoni antara manusia dengan alam dan kekuatan tak kasat mata. *** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu bali #tradisi #Kabupaten Karangasem