Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Palinggih Ratu Nyoman di Pura Luhur Beten Bingin: Ritual Unik Cegah Daging Hilang Saat Hajatan!

I Putu Suyatra • Minggu, 23 Maret 2025 | 16:48 WIB

Tempat suci Hindu Bali, Pura Luhur Beten Bingin yang terletak di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Badung, menyimpan keunikan tersendiri.
Tempat suci Hindu Bali, Pura Luhur Beten Bingin yang terletak di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Badung, menyimpan keunikan tersendiri.

BALIEXPRESS.ID – Tempat suci Hindu Bali, Pura Luhur Beten Bingin yang terletak di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Badung, menyimpan keunikan tersendiri.

Selain piodalan yang rutin digelar dua kali dalam enam bulan, pura ini memiliki sebuah ritual sakral yang berkaitan dengan Palinggih Ratu Nyoman.

Konon, bagi siapa saja yang melangsungkan pernikahan (pawiwahan), wajib nunas tirta panginih-inih agar terhindar dari keborosan—bahkan mencegah hilangnya daging olahan secara misterius!

Baca Juga: Misteri Piodalan Ganda di Tempat Suci Hindu Bali, Pura Luhur Beten Bingin: Kisah Mistis di Baliknya!

Jro Mangku Nyoman Sura Atmaja (55), pemangku di Pura Luhur Beten Bingin, mengisahkan pengalaman yang pernah terjadi.

Suatu ketika, ada keluarga yang menggelar hajatan besar dengan menyembelih empat ekor babi.

Namun, saat daging akan dimasak, jumlahnya selalu berkurang tanpa alasan yang masuk akal. Daging seolah menghilang begitu saja!

Kejadian aneh itu membuat pemilik hajatan mencari petunjuk spiritual.

Jawabannya? Mereka harus meminta tirta panginih-inih sebelum menggelar acara besar seperti pernikahan, masakapan, nyambutin, hingga ngenteg linggih.

Sejak saat itu, ritual ini menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi setempat.

Baca Juga: Dewa Gede Ratno Suparso Mesi, dari Politikus ke Pemimpin Perumda Air Minum Bangli

Ritual Sakral dengan Segehan dan Pohon Jepun

Saat pelaksanaan hajatan, ada sesajen khusus yang dipersembahkan, yaitu segehan dengan kelapa yang dibelah dua, diisi jeroan, hati, dan darah hewan yang akan dipotong.

Segehan pertama dipersembahkan di depan Palinggih Ratu Nyoman, sedangkan yang kedua ditempatkan di bawah pohon jepun di sebelah timur palinggih.

Jro Mangku menjelaskan, pohon jepun tersebut diyakini sebagai tempat tinggal wong samar—makhluk tak kasat mata yang bisa mengganggu jalannya acara.

Dengan adanya tirta panginih-inih, keberadaan mereka bisa dicegah.

“Tanda bahwa hajatan aman dari gangguan wong samar adalah anjing-anjing di pekarangan tetap tenang. Sebaliknya, jika mereka tiba-tiba menggonggong tanpa sebab, itu pertanda wong samar sudah masuk,” ungkap Jro Mangku dengan nada serius.

Tradisi ini terus dijaga oleh masyarakat setempat agar hajatan berjalan lancar tanpa gangguan tak kasat mata.  *** 

Baca Juga: VIRAL!!! Kronologi Aksi Berani Aipda Andik Lumpuhkan Dua Pencuri Motor, Netizen Beri Pujian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Kabupaten Badung #hindu bali #Pura Luhur Beten Bingin #Tirta