Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ternyata Ini Tata Cara Sembahyang dalam Hindu

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 23 Maret 2025 | 22:00 WIB

SEMBAHYANG : Tata cara sembahyang oleh umat Hindu di Bali.
SEMBAHYANG : Tata cara sembahyang oleh umat Hindu di Bali.

BALIEXPRESS.ID- Sebagai umat Hindu perlu diketahui dan dilaksanakan dalam agama Hindu yaitu bagaimana cara sembahyang yang baik dan benar.

Dalam agama Hindu ada tiga hal yang harus diketahui mengenai cara-cara sembahyang (muspa).  Hal tersebut diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu, Aris Widodo.

Pertama diungkapkan adalah muspa bersamaan dengan diiringi oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih. Muspa bersamaan yang tidak diiringi oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih. Serta muspa yang dilaksanakan sendiri.

Dalam hal muspa atau sembahyang ini juga ada ketentuan-ketentuan yaitu untuk membangkitkan dan menjaga suasana kesucian.

Baca Juga: Cegah Stunting, Gencar Bimbingan Catin di Desa Pejeng

Maka sebelum sembahyang harus dilaksanakan yaitu mandi dengan air bersih, kalau bisa pakai air harum atau wangi (air kumkuman). Pakaian atau busana yang bersih khusus untuk sembahyang, jangan lupa pakai kampuh atau selendang (kain) putih kuning.

Tempat dan sarana persembahyangan yang bersih dan suci. Waktu menuju tempat sembahyang pikiran sudah ditujukan ke hal-hal yang suci dengan kidung-kidung keagamaan. Duduk yang baik (pria = sila, dan wanita = simpuh atau matimpuh).

“Kemudian melaksanakan Acamana yaitu membersihkan tangan dan mulut dengan air atau kembang. Serta menyediakan dupa, kembang dan kembang isi sesari untuk dana punia yaitu kewangen,” terang Aris Widodo.

Selanjutnya, setelah semua tersedia maka sembahyang Puja Tri Sandya dimulai dipimpin oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih.

Setelah Puja Tri Sandya selesai dilanjutkan dengan Kramaning Sembah yaitu muspa (sembah) tanpa sarana, tangan dicakupkan, diangkat di depan kening sejajar  ubun-ubun tanpa bunga.

Kedua sembah dengan sarana bunga ditujukan kepada Sang Hyang Siwa Raditya. Sembah dengan sarana bunga atau kewangen ditujukan kepada Ista Dewata.

Keempat ada sembah panugrahan dengan bunga atau kewangen ditujukan kepada Dewa Samodaya atau Sarwa Dewa.

“Sedangkan kelima ada muspa (sembah) tanpa sarana, dengan tangan dicakupkan di depan kening sejajar ubun-ubun tanpa bunga dengan keinginan untuk menerima wara nugraha Hyang Widhi dan membayangkan Hyang Widhi lagi,” pungkas Aris Widodo. *

Editor : Putu Agus Adegrantika