Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Urutan Prosesi Saat Pengerupukan di Rumah bagi Umat Hindu Bali: Jangan Lupa Natab sebelum Mabuu-buu

I Putu Suyatra • Kamis, 27 Maret 2025 | 01:52 WIB

Segehan saat pengerupukan
Segehan saat pengerupukan

BALIEXPRESS.ID - Di balik kemeriahan Tawur Agung Kasanga yang menjadi bagian penting dari Nyepi, ada serangkaian upacara yang harus dilakukan di setiap pekarangan rumah umat Hindu Bali saat pengerupukan.

Ritual pengerupukan yang digelar sehari sebelum Hari Raya Nyepi, ini bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk harmonisasi dengan alam semesta.

Rektor UHN Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, mengungkapkan bahwa salah satu prosesi utama adalah pacaruan di merajan atau sanggah.

Baca Juga: Awalnya Dikira Boneka, Ternyata Mayat Pria dengan Tangan Terikat Ditemukan Mengapung di Sungai

Masyarakat wajib menghaturkan banten saka sidan atau pajati di kemulan, sementara di ajengan palinggih dipersembahkan segehan agung dan segehan cacah sebanyak 33 tanding yang ditujukan kepada Bhuta Bucari.

Makna Segehan dan Kurban Siap Brumbun

Tak berhenti di merajan, umat Hindu juga harus menghaturkan segehan manca warna sebanyak 9 tanding di halaman rumah.

Segehan ini harus maulam siap brumbun—baik dalam bentuk lebeng atau makaput—dan ditabuh dengan arak berem serta toya anyar.

"Segehan dan siap brumbun itu dihaturkan kepada Sang Bhuta Raja dan Kala Raja," jelas Prof. Sudiana.

Selain itu, di gerbang rumah masyarakat juga diimbau untuk menancapkan sanggah cucuk dan menghaturkan banten peras, daksina, tipat kelan, arak berem, dan toya anyar.

Baca Juga: Kenapa Kevin Diks Ketagihan Menang di SUGBK? Bidik Tiongkok Demi Asa Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026

Sementara di bawahnya, dipersembahkan segehan cacah 100 tanding yang mengandung jejeroan matah serta segehan agung yang ditabuh dengan arak berem dan toya anyar.

"Untuk banten di depan rumah ini dipersembahkan kepada Sang Kala Bala dan Sang Bhuta Bala," tambahnya.

Kenapa Harus Natab?

Setelah pacaruan di lingkungan rumah dan merajan, masyarakat yang telah menek kelih wajib melakukan natab banten pabeyakala, prayascita, dan sasayut di halaman rumah.

“Natab itu sebagai prasarana pembersihan,” tegasnya.

Setelah natab, prosesi dilanjutkan dengan Mabuu-buu, yaitu menyulut kraras atau obor dan menciptakan berbagai bunyi-bunyian.

Ritual ini bertujuan mengusir kekuatan negatif dan menyeimbangkan energi di lingkungan sekitar.

Berikut adalah urutan prosesi Tawur Agung Kasanga beserta sarana yang dibutuhkan:

1. Pacaruan di Merajan/Sanggah:

2. Pacaruan di Halaman Rumah:

3. Pacaruan di Pintu Masuk/Gerbang Rumah:

4. Natab Banten Pabeyakala, Prayascita, dan Sasayut:

5. Mabuu-buu:

Catatan Tambahan:

Editor : I Putu Suyatra
#Pengerupukan #nyepi #Prayascita #hindu bali