BALIEXPRESS.ID - Di balik kemeriahan Tawur Agung Kasanga yang menjadi bagian penting dari Nyepi, ada serangkaian upacara yang harus dilakukan di setiap pekarangan rumah umat Hindu Bali saat pengerupukan.
Ritual pengerupukan yang digelar sehari sebelum Hari Raya Nyepi, ini bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk harmonisasi dengan alam semesta.
Rektor UHN Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, mengungkapkan bahwa salah satu prosesi utama adalah pacaruan di merajan atau sanggah.
Baca Juga: Awalnya Dikira Boneka, Ternyata Mayat Pria dengan Tangan Terikat Ditemukan Mengapung di Sungai
Masyarakat wajib menghaturkan banten saka sidan atau pajati di kemulan, sementara di ajengan palinggih dipersembahkan segehan agung dan segehan cacah sebanyak 33 tanding yang ditujukan kepada Bhuta Bucari.
Makna Segehan dan Kurban Siap Brumbun
Tak berhenti di merajan, umat Hindu juga harus menghaturkan segehan manca warna sebanyak 9 tanding di halaman rumah.
Segehan ini harus maulam siap brumbun—baik dalam bentuk lebeng atau makaput—dan ditabuh dengan arak berem serta toya anyar.
"Segehan dan siap brumbun itu dihaturkan kepada Sang Bhuta Raja dan Kala Raja," jelas Prof. Sudiana.
Selain itu, di gerbang rumah masyarakat juga diimbau untuk menancapkan sanggah cucuk dan menghaturkan banten peras, daksina, tipat kelan, arak berem, dan toya anyar.
Sementara di bawahnya, dipersembahkan segehan cacah 100 tanding yang mengandung jejeroan matah serta segehan agung yang ditabuh dengan arak berem dan toya anyar.
"Untuk banten di depan rumah ini dipersembahkan kepada Sang Kala Bala dan Sang Bhuta Bala," tambahnya.
Kenapa Harus Natab?
Setelah pacaruan di lingkungan rumah dan merajan, masyarakat yang telah menek kelih wajib melakukan natab banten pabeyakala, prayascita, dan sasayut di halaman rumah.
“Natab itu sebagai prasarana pembersihan,” tegasnya.
Setelah natab, prosesi dilanjutkan dengan Mabuu-buu, yaitu menyulut kraras atau obor dan menciptakan berbagai bunyi-bunyian.
Ritual ini bertujuan mengusir kekuatan negatif dan menyeimbangkan energi di lingkungan sekitar.
Berikut adalah urutan prosesi Tawur Agung Kasanga beserta sarana yang dibutuhkan:
1. Pacaruan di Merajan/Sanggah:
- Sarana:
- Banten saka sidan atau pajati di kemulan.
- Segehan agung dan segehan cacah (33 tanding) di ajengan palinggih.
- Arak berem dan toya anyar.
- Prosesi:
- Menghaturkan banten-banten tersebut kepada Bhuta Bucari.
2. Pacaruan di Halaman Rumah:
- Sarana:
- Segehan manca warna (9 tanding) dengan ulam siap brumbun (boleh lebeng atau makaput).
- Arak berem dan toya anyar.
- Prosesi:
- Menghaturkan segehan dan siap brumbun kepada Sang Bhuta Raja dan Kala Raja.
3. Pacaruan di Pintu Masuk/Gerbang Rumah:
- Sarana:
- Sanggah cucuk.
- Banten peras, daksina, tipat kelan, arak berem, dan toya anyar.
- Segehan cacah (100 tanding) dengan ulam jejeroan matah.
- Segehan agung.
- Arak berem dan toya anyar.
- Prosesi:
- Menancapkan sanggah cucuk dan menghaturkan banten.
- Menghaturkan segehan kepada Sang Kala Bala dan Sang Bhuta Bala.
4. Natab Banten Pabeyakala, Prayascita, dan Sasayut:
- Sarana:
- Banten pabeyakala, prayascita, dan sasayut.
- Prosesi:
- Dilakukan oleh masyarakat yang telah menek kelih (dewasa) di halaman rumah.
- Prosesi ini memiliki makna sebagai pembersihan diri.
5. Mabuu-buu:
- Sarana:
- Kraras (daun kering) atau obor.
- Sarana untuk membuat bunyi-bunyian.
- Prosesi:
- Menyulut kraras atau obor.
- Membuat berbagai bunyi-bunyian.
Catatan Tambahan:
- Tawur Agung Kesanga merupakan upacara Bhuta Yadnya yang bertujuan untuk kesejahteraan dan keselarasan alam.
- Tawur Agung Kesanga dilaksanakan di catus pata (perempatan) desa yang dianggap sebagai titik temu antar ruang dan waktu.
- Setelah Tawur Agung Kesanga dilaksanakan, umat Hindu diharuskan melaksanakan empat kewajiban yang tak boleh ditinggalkan selama Nyepi, yaitu:
- Amati Geni (tidak boleh menyalakan api).
- Amati Lelanguan (tidak boleh bersenang-senang).
- Amati Lelungan (tidak boleh bepergian).