Jaman dahulu, umumnya di semua persimpangan jalan dan pura di Bali biasanya ada pohon besar. Ada konsep di Bali yang berbasis ajaran Hindu yang sering disebut Payonan.
Payonan artinya sengaja menanam di titik orang berhenti untuk berteduh.
Filolog Sugi Lanus mengatakan orang sengaja menanam di titik tertentu dengan harapan kelak tanaman itu tumbuh besar dan memberikan perlindungan.
Terutama untuk berteduh bagi orang-orang yang melintas untuk beristirahat sementara.
“Itu dihargai sebagai sebuah pahala. Oleh karena itu kalau memotong pohon yang sengaja ditanam orang tertentu baik di titik yang sangat stratgeis, artinya orang itu berdosa karena memotong tanaman payonan yang diniatkan sebagai tempat berteduh,” kata Sugi Lanus dikutip dari Podcast Tatkala.Co.
Sugi Lanus menambahkan, ada juga tanam tuwuh, pohon yang sudah ditanam sejak generasi sebelumnya. Entah itu ditanam orang tua atau kakeknya maupun generasi di atasnya.
Tanaman tersebut memiliki manfaat baik untuk keperluan ritual maupun kebutuhan sehari-hari.
“Misal ada leluhur yang menanam pohon kelapa. Kemudian setelah berbuah, kelapanya dapat dijadikan daksina, untuk sembahyang, artinya walaupun yang menanam nantinya sudah meninggal, maka daksinanya akan memberikan pahala,” sebutnya.
Menurutnya, sesederhana itu mencari pahala dan membuat bekal pahala kelak jika sudah meninggal.
Di dalam perilaku orang Bali, Sugi Lanus menyebut ada pesan yang sangat mendalam, bahwa tanaman yang telah berbuah akan terus memberikan pahalanya ke alam kematian kepada si penanam.
“Jadi jangan sembarangan memotong kelapa, memotong pohon. Kalau nenanam 3 pohon saja payonan di jalan, setiap ada orang berhenti dan berteduh, itu ada kiriman pahala bagi penanam karena pohon yang ditanam sudah memberikan manfaat bagi banyak orang,” ungkapnya.
Lanjutnya orang yang memotong maka disebut memotong amal baik dari si penanam. Artinya kebajikan orang yang dipotong ke alam sunya.
Bahkan, Ada naskah yang menyebutkan jika ada menanam pohon intaran, dan dijadikan payonan maka sudah pasti si penanam mendapat surga.
Sebagai contoh, yang ditanam misalnya pohon mangga, setiap panen selalu dipersembahkan untuk sarana upacara yadnya, karena ini adalah bekal yang ditanam.
Terutama pohon buah yang ditanam maka kelak saat berbuah dan dinikmati sehingga bisa memberikan anak cucu sekalipun si penanam sudah meninggal.
Sugi Lanus menyayangkan, saat ini orang senang memotong tanam tuwuh ketimbang menanamnya, sehingga sesungguhnya durhaka bagi mereka yang memotong.
Secara ilmiah, keberadaan pohon sebut Sugi Lanus memberikan banyak manfaat tidak hanya bagi manusia. Tetapi juga mendukung keseimbangan ekosistem lingkungan.
“Karena kan bisa menjadi perlindungan bagi flora fauna, memberikan oksigen apalagi memberikan buah. Tentu manusia dan hewan akan mendapatkan manfaatnya,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika