Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Nyakan Diwang Tingkatkan Rasa Persatuan antar Warga

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 4 April 2025 | 13:29 WIB
TRADISI : Tradisi Nyakan Diwang
TRADISI : Tradisi Nyakan Diwang

BALIEXPRESS.ID -Tradisi nyakan diwang pada saat Ngembak Gni dilaksanakan juga di Desa Gesing, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Desa Gesing berlokasi di sebelah utara Gunung Batukaru, yang menyebabkan desa ini berhawa sejuk. 

Tokoh Agama asal Gesing, Jro Mangku Gde Nyoman Adi Garnida, menjelaskan di sebelah timur berbatasan dengan Desa Munduk, di sebelah barat berbatasan dengan Desa Umejero, dan di sebelah utaranya berbatasan dengan Desa Kayuputih. 

"Desa Gesing masuk wilayah Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, dengan 4 banjar dinas," paparnya.

Disebutkan tradisi nyakan diwang dilaksanakan pada hari gembak gni (ngembak api) dimulai pada pukul 00.00 wita setelah melakukan catur brata penyepian atau sipeng (nyepi). 

"Perlu diketahui tradisi nyaluk nyepi (memulai sipeng) di mulai pukul 00.00 wita saat pengerupukan dan ngembak gni di mulai esoknya pukul 00.00 wita. 

Prosesi nyepi (sipeng) tetap hitungan 24 jam, ini berbeda dengan daerah lainya di bali yang memulai nyepi pukul 06.00 pagi," beber Jro Mangku Garnida.

Tradisi ini banyak dilakukan di daerah Banjar atas, seperti Gobleg, Munduk, Banyuatis, Kayuputih, Umejero, Gesing. Tradisi ini awal mulainya tidak bisa ditentukan secara pasti, sebagian besar masyarakat menerima tradisi ini secara turun temurun dan di perkirakan sudah berlangsung ratusan tahun.

Eksitensi tradisi nyakan diwang diera moderen ini masih berlangsung walaupun tradisi yang lain mulai masuk, tidak bisa menghilangkan tradisi ini. 

Tradisi yang saat ini mulai masuk yaitu tradisi ogoh-ogoh. Tradisi ogoh-ogoh pada hari pengerupukan bukanlah tradisi asli desa Gesing namun eksitensinya mulai masuk dan bisa diterima oleh masyarakat setempat.

" Tentu tradisi ogoh-ogoh diharapkan tidak menghilangkan tradisi yang sudah ada," imbuh Jro Mangku.

Baca Juga: LAGI! Kini Perempuan Buleleng Ulah Pati di Jembatan Tukad Bangkung, Begini Kata Kapolsek Soal Identitas

Prosesi nyakan diwang bukan semata hanya menanak nasi, melainkan semua proses yang ada di dapur pada umumnya dilakukan di pinggir jalan. 

Setelah selesai memasak nasi dan lauk pauknya di lanjutkan dengan makan bersama-sama. Sehingga jalanan pada malam hari berubah bak pasar sengol, yang mana semua warga pada keluar dan saling mengunjungi sesama warga, menambah suasana desa menjadi ramai. 

"Makna teologi nyakan diwang, bahwa kita semua adalah bersaudara (vasudeva kutumbhakam) karena tercipta dan berasal dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, oleh karena itu tanpa memandang status sosial duduk bersama saling memberi dan mengasihi," tegasnya.

Disebutkan tradisi nyakan diwang termasuk di dalam ajaran Catur Marga Yoga, yakni bagian dari karma yoga. Sedangkan Catur Marga Yoga dalam tri kerangka agama Hindu termasuk kedalam ajaran Tattwa.

Memaknai tradisi nyakan diwang jangan terhenti pada hari ngembak gni (ngembak api) akan tetapi maknanya seharusnya berkesinambungan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Sedangkan fungsi nyakan diwang adalah merayakan hari gembak gni secara bersama-sama untuk meningkatkan sradha dan bhakti. "Manfaat nyakan diwang adalah meningkatnya rasa persatuan dan persaudaraan antar warga," tutup Jro Mangku Garnida. *

 

 

 

 

Editor : Putu Agus Adegrantika