Kata suci mengandung makna bahwa saat membuat, membawa, dan mempersembahkannya kepada Ida Sang Hyang Widhi juga harus dilakukan dengan tata cara yang penuh dengan hal-hal kesopanan serta ketulusan hati.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Klungkung Ayu Putri Suryaningrat dalam Yudha Triguna Channel menjelaskan bagi Umat Hindu di Bali, tata cara atau juga disebut dengan tata titi membawa seharusnya memperhatikan beberapa hal penting.
Membawa banten didasari dengan rasa hormat, setidaknya hal ini dapat menunjukkan rasa hormat, bhakti, berserah, dan tunduk kepada Ida Sang Hyang Widhi.
Ia menjelaksan, saat ini membawa sarana banten semakin praktis. Namun, kalau kembali melihat dulu, para leluhur sudah menyiapkan berbagai cara untuk membawa banten.
Dalam membawa banten ada istilah Suun, Nyuun, Sungsung yang berarti bahwa persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi seharusnya dibawa dengan cara menaruh di kepala sebagai simbol utama.
Jika dikaitkan dengan struktur tubuh bagian kepala adalah bagian utama dan dianggap suci. “Oleh karena itu, segala bentuk persembahan, seperti bunga, buah, dan dupa seharusnya dibawa dengan cara menempatkannya di bagian kepala yang dalam bahasa Bali disebut Suun dan Sungsung,” katanya.
Bila karena sesuatu hal tidak bisa dibawa dengan cara menempatkannya pada kepala, maka dapat dibenarkan dibawa dengan tangan, tetapi posisi banten harus tetap dalam keadaan dihormati.
“Sehingga upakara dan atau persembahan itu sebaiknya sebaiknya dipegang dengan posisi di samping leher ke atas, dengan tangan yang terbuka dan telapak tangan menghadap ke atas,” ungkapnya.
Posisi ini menunjukkan bahwa banten berada pada tingkat yang tinggi dan dihormati, tidak boleh dibiarkan turun atau terhuyung-huyung.
Ketika membawa banten, tubuh harus tetap tegap, dan berjalan dengan perlahan serta penuh konsentrasi.
Menghindari gerakan yang tergesa-gesa atau tidak sopan adalah bagian dari menunjukkan rasa hormat terhadap upakara yang dibawa.
Ketika menuju pura, langkah kaki harus dilakukan dengan hati-hati. Gerakan yang tenang dan tidak terburu-buru akan mencerminkan ketulusan dalam proses persembahan. Selain itu, sebelum membawa upakara banten, pastikan tubuh dan pikiran dalam keadaan bersih.
Banten yang dibawa juga harus dalam keadaan bersih dan terawat dengan baik. Menghindari Hal-Hal yang Mengotori: Banten yang dibawa harus dijaga agar tidak terkena hal-hal yang dapat mengotori, seperti tanah atau debu, karena ini dapat mengurangi kesucian banten tersebut.
Setibanya di pura, umat hendaknya tetap bersikap sopan dan penuh hormat. Menundukkan kepala sedikit saat membawa banten ke tempat yang sudah ditentukan untuk ditaruh, menunjukkan sikap rendah hati dan penuh penghormatan kepada Tuhan.
“Jika ada banyak banten yang dibawa, proses penempatan banten dilakukan satu per satu dengan penuh kesadaran. Penempatan banten harus dilakukan dengan hati-hati, agar tidak merusak bentuk atau susunan banten,” paparnya.
Sehingga tata cara membawa upakara manut Agastya Parwa, di antaranya suun, junjung, nyuun, tampa membawa dengan cara membawa telapak tangan menengadah, dan ngemel artinya upakara dibawa dengan tangan.
“Ketiga ini disebut cara utama. Sementara cara madya di antaranya sangkil mengepit disamping badan, sangkol rangkum di depan badan, gandong, dengan cara menggendong di punggung, sabit dan tingting,” imbuhnya.
Cara yang dianggap nista adalah tatdad dan ered, keduanya cara yang dianggap kurang baik. Sumber sastra Hindu yang mengacu tetang kesopan santunanan dalam persembahan.
Dalam Lontar Agastya Parwa menyebutkan; Patut maturan sane becik-becik, sane patut aturang, kocap yening sampun malaksana utama saha subakti pangwalesnyane embas dados anak utama, prarai jegeg bagus saha terehan utama”.
Wajib membawa persembahan dengan baik, apa yang diipersembahkan, karena kalau sudah berlaku baik, subhakti maka kelak akan lahir menjadi orang utama, wajah cantik dan dari keluarga yang baik. (dik)
Editor : I Putu Mardika