Prosesi yang sering dilakukan adalah Ngelawang Barong Bangkung merupakan suatu aktifitas yang dikakukan oleh sekaa atau sekelompok orang untuk menarikan barong bangkung dari satu pintu rumah ke pintu rumah yang lain.
Perayaan hari suci Galungan dan Kuningan menjadi momen dalam prosesi Ngelawang Barong Bangkung. Umumnya penari Barong Bangkung berjumlah dua orang dan diiringi gambelan.
Akademisi UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Dr. Putu Eka Sura Adnyana menjelaskan, kata ngelawang berasal dari kata lawang yang berarti pintu, rumah ke rumah atau bisa saja dari desa ke desa yang biasanya menggunakan barong bangkung sebagai media utamanya dan diiringi oleh gamelan bebarongan atau gamelan batel.
Sedangkan Barong Bangkung berdasarkan suku katanya dipisahkan menjadi kata “Barong” dan “Bangkung”.
“Barong” dalam tradisi Hindu Bali merupakan makhluk mitologi yang diwujudkan dalam ukiran (pahatan) kemudian disesuaikan dengan ukuran tubuh manusia yang menarikannya.
Bangkung dalam Bahasa Bali adalah sebuah istilah untuk menyebut induk babi.
Ngelawang Barong Bangkung merupakan tradisi pertunjukan barong dengan perawakannya berbadan babi dan warna kulit hitam serta menggunakan topeng berbentuk bangkung (babi betina) yang dilakukan dengan mengelilingi desa dari satu rumah ke rumah yang lainnya
Konon pementasan ngelawang ini dipercaya dapat mendatangkan berkah, keselamatan, ketenangan batin dan kedamaian bagi umat Hindu.
Pentas ngelawang bisa dilakukan sejak pagi hari sedang hangat, siang sedang menghentak maupun sedang gelapnya malam.
Dikatakan Eka Sura, Lontar Barong Swari diceritakan bahwa Bhatara Siwa mengutuk Dewi Uma turun ke dunia menjadi Dewi Durga. Selama berada di dunia, Dewi Durga melakukan tapa semadi.
“Diceritakan, saat Dewi Durga bersemadi menghadap ke arah utara, maka muncullah wabah penyakit yang disebut gering lumintu,” jelasnya.
Wabah mematikan ini menyerang sekalian manusia penghuni dunia. Lalu, ketika Dewi Durga bersemadi menghadap ke barat, munculah wabah penyakit yang disebut gering hamancuh. Ketika bersemadi menghadap ke selatan, muncul wabah gering rug bhuana.
Saat bersemadi menghadap ke timur, terjadilah wabah gering muntah mencret. Banyak penghuni bumi yang meninggal dunia karenanya. Hal ini membuat gundah Sang Hyang Tri Murti
Beliau kemudian turun ke dunia dan masing-masing berubah wujud.
Dewa Brahma menjadi topeng bang, Dewa Wisnu berubah wujud menjadi telek, dan Dewa Siwa menjadi barong. Sampai kini, memang belum ada yang dapat memastikan asal-usul barong secara pas.
Namun, itu bukanlah hal yang perlu dirisaukan, sebab masyarakat Hindu Bali, dengan keyakinannya yang sangat tebal, tetap menjadikan barong sebagai sungsungan yang akan memberikan mereka rasa aman dan keselamatan.
“Itulah sebabnya sampai kini masyarakat Hindu Bali masih tetap menjadikan barong sebagai sungsungan dan diperlakukan penuh dengan rasa hormat dan semangat pengabdian yang tinggi,” katanya.
Keyakinan akan kekuatan gaib yang dimiliki barong menyebabkan di beberapa desa di Bali sering dilangsungkan “barong ngelawang“, yaitu kegiatan pertunjukan barong mengelilingi desa.
Kegiatan semacam ini biasanya dilaksanakan pada Hari Raya Galungan, Kuningan, dan hari-hari baik tertentu.
Barong yang mengelilingi desa itu pada tempat-tempat tertentu akan beratraksi diiringi gamelan.
Pada saat itu banyak penduduk yang meminta rombongan barong tersebut beratraksi di depan rumah, kemudian menghaturkan canang dengan sesari sejumlah sesari seikhlasnya.
“Kalau direnungkan lebih dalam, maka akan terlihat di sini bahwa tujuan dari barong ngelawang itu, di samping untuk mengusir penyakit (gering), marabahaya yang berada pada desa tersebut, dan juga dimaksudkan untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma,” ujar Eka.
Melalui pelaksanaan ngelawang pada saat perayaan galungan dan kuningan, sesungguhnya masyarakat Bali sedang menjalankan hubungan harmonis dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pencipta, pemelihara, dan pralina alam semesta.
“Ngelawang secara semiotika merupakan wujud sradha bhakti yang diimplementasikan dalam bentuk barong, barong menari dari pintu ke pintu (ngelawang) untuk memohon kepada sang pencipta untuk memelihara keharmonisan, kesejahteraan kepada umat manusia dan mempralinakan segala hal-hal buruk yang dapat mengharmoniskan mahluk hidup di dunia,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika