Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Puluhan Sarad di Desa Adat Buleleng Disucikan saat Melasti pada Purnama Sasih Kedasa

I Putu Mardika • Senin, 14 April 2025 | 01:28 WIB

Sebanyak 76 Sarad di Desa Adat Buleleng melasti bertepatan pada Purnama Sasih Kedasa, Sabtu (12/4) sore di Pantai Pelabuhan Tua Buleleng
Sebanyak 76 Sarad di Desa Adat Buleleng melasti bertepatan pada Purnama Sasih Kedasa, Sabtu (12/4) sore di Pantai Pelabuhan Tua Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Ribuan krama dari 14 banjar adat di bawah naungan Desa Adat Buleleng menggelar upacara melasti serangkaian Hari Raya Nyepi pada Purnama Kadasa, Saniscara Umanis Julungwangi, Sabtu (12/4).

Prosesi penyucian alam semesta itu berlangsung khidmat sejak siang hingga sore hari, diwarnai dengan pengusungan 76 sarad dan 15 kotak ampilan menuju Pura Segara Buleleng.

Upacara melasti ini diawali dengan berkumpulnya seluruh krama di Pura Desa Buleleng, Kelurahan Paket Agung, pada pukul 12.00 WITA.

Setelah seluruh perangkat upacara seperti sarad dan kotak ampilan lengkap, barisan peserta berjalan kaki sejauh kurang lebih 4 kilometer menuju Pura Segara yang terletak di tepi Pantai Pelabuhan Tua Buleleng.

Peserta upacara berjalan rapi sesuai urutan yang telah ditetapkan oleh panitia.

Dalam suasana yang sakral, seluruh krama yang mengusung sarad dan kotak ampilan diwajibkan melaksanakan prosesi makekobok, yakni simbol pembersihan spiritual dengan menerobos air laut sebelum memasuki kawasan pura.

Sesampainya di Pura Segara, seluruh perangkat upacara ditempatkan pada area yang telah disiapkan. Krama kemudian mengikuti upacara pemujaan dan menerima tirta (air suci) dari Pura Segara.

Usai menerima tirta, seluruh dewa-dewi yang dipuja dikembalikan ke tempat suci masing-masing di dadya dan kahyangan tiga Desa Adat Buleleng.

Menariknya, pelaksanaan melasti di Desa Adat Buleleng berbeda dengan umumnya tradisi melasti umat Hindu di Bali.

Jika di tempat lain biasanya dilakukan sebelum Hari Raya Nyepi, maka di Buleleng justru dilaksanakan setelah Nyepi, tepat pada Purnama Kadasa, sesuai dengan warisan tradisi leluhur.

Kelian Desa Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna, menjelaskan bahwa perbedaan waktu pelaksanaan ini merujuk pada ajaran yang tertuang dalam lontar Sundarigama dan Mpu Kuturan.

"Kami kembalikan ke Purnama Kadasa karena dulu pernah digeser pada purnama kesanga tetapi terjadi musibah. Kami tidak berani menyimpang dari apa yang tertera pada lontar Sundarigama dan Mpu Kuturan dan sudah dilaksanakan turun temurun di desa adat Buleleng," jelasnya.

Pada pelaksanaan tahun ini, Desa Adat Buleleng juga menegaskan larangan penggunaan plastik sekali pakai.

Aturan ini berlaku untuk pembungkus tirta maupun bekal makanan dan minuman. Sebagai gantinya, seluruh krama hanya diperkenankan membawa sangku untuk memohon tirta suci dari Pura Segara.

“Seluruh dadya dan krama yang mengikuti upacara melasti semuanya sudah tertib hanya membawa sangku untuk nunas (mohon) tirta,” tegas Jro Sutrisna, yang juga merupakan pensiunan Kepala Dinas Pariwisata Buleleng.

Ia menambahkan bahwa kebijakan ini sejalan dengan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 9 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah.

Upacara melasti Desa Adat Buleleng juga turut dihadiri oleh Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra. Dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah sekaligus bagian dari krama desa adat, Sutjidra mengambil bagian dalam menyambut kedatangan sarad dan kotak ampilan di depan Pura Segara.

“Pelaksanaan melasti Desa Adat Buleleng ini berbarengan dengan upacara Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih. Tujuannya untuk membersihkan alam semesta. Setelah melasti ini, besok sudah memulai lembaran baru. Harapan kita dengan alam yang harmonis, masyarakat Buleleng guyub dan upacara berjalan lancar,” ujar Sutjidra. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#desa adat #sarad #melasti #penyucian #buleleng #purnama #sasih kedasa