Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Sugihan dalam Lontar Sundarigama, Momentum Panyucian Bhuana Alit dan Agung

I Putu Mardika • Selasa, 15 April 2025 | 05:29 WIB

 

Merayakan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali sebagai penyucian Bhuana Agung dan Bhuana Alit sebelum merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan
Merayakan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali sebagai penyucian Bhuana Agung dan Bhuana Alit sebelum merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan

BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Galungan dan Kuningan pada Bulan April ini tinggal menghitung hari. Sebelumnya, umat Hindu terlebih dahulu merayakan Sugihan Jawa yang jatuh pada Kamis (17/4) dan Sugihan Bali yang jatuh pada Jumat (18/4) mendatang.

Sugihan Jawa dan Sugihan Bali yang diperingati enam hari sebelum Hari Raya Galungan menjadi momentum penyucian bhuana alit dan bhuana agung. Perayaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali yang juga sebagai penyucian dewa dijelaskan dalam lontar Sundarigama.

Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witaraga Sanyasa dari Geriya Taman Sari Asrama, Desa Kekeran, Kecamatan Busungbiu  mengatakan dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa yang jatuh pada Wraspati Wuku Sungsang merupakan pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh atau penyucian dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara.

Pelaksanaan upacara ini bertujuan untuk membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci.

Bahkan, diyakini, Sugihan Jawa sebagai momentum penyucian Bhuwana Agung atau alam semesta.

Baca Juga: Ditembak OTK hingga Peluru Bersarang di Dekat Jantung, Begini Kondisi Wanita Sales Minuman Asal Buleleng Paska Dioperasi

“Sugihan Jawa ini yang dirayakan untuk membersihkan dan mensucikan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci sebelum merayakan Sugihan Bali untuk ketenangan bathin,” jelasnya.

Sedangkan, keesokan harinya tepatnya pada Sukra Wuku Sungsang yang bertepata dengan Kajeng Keliwon dirayakan Sugihan Bali. Momentum Sugihan Bali ini disebutkan kalinggania amretista raga tawulan atau menyucikan badan jasmani masing-masing.

Maksudnya ialah dilaksanakan penyucian bagi bhuana alit (mikrokosmos) dari alam semesta ini, yaitu diri kita masing-masing.

Untuk hari Sugihan Bali, sebagai waktu yang ditujukan bagi penyucian bhuana alit, yaitu bagi diri sendiri-sendiri.

“Penyucian dapat dilakukan dengan melaksanakan upawasa semampunya, maupun dengan melaksanakan persembahyangan baik di rumah maupun di tempat suci. Dapat pula dengan melakukan samadhi, untuk menenangkan pikiran dalam menyambut datangnya hari kemenangan dharma atas adharma,” jelasnya.

Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witaraga Sanyasa  mengatakan bila merujuk pada Lontar Purana Bali Dwipa, hari raya Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) di tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804. Lontar tersebut berbunyi:

“Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.” Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka.

Baca Juga: Diduga Dibakar OTK, Warung Soto Hangus: Saksi Curigai Pria Berbaju Hitam dan Botol Mirip Bom Molotov

Dalam Lontar Sundarigama disebutkan: Sungsang, wrehaspati Wagé ngaran parerebuan, sugyan jawa kajar ing loka, katwinya sugyan jawa ta ngaran, apan pakretin bhatara kabeh arerebon ring sanggar mwang ring parahyangan, dulurin pangraratan, pangresikan ring bhatara saha puspa wangi. Kunang wwang wruh ing tattwa jnana, pasang yoga, sang Wiku angarga puja, apan bhatara tumurun mareng madyapada, milu sang Dewa Pitara, amukti bante anerus tekeng galungan. Prakerti nikang wwang, sasayut mwang tutwan, pangarad kasukan ngaranya.

Jika diartikan, saat Wuku Sungsang, tepatnya Hari Kamis Wage dinamakan parerebuan atau Sugihan Jawa, yang dimaknai sebagai penyucian Bhuana Agung atau Makrokosmos oleh masyarakat.

Dinamakan Sugihan Jawa karena hari suci untuk ditujukan dengan membersihkan dan menyucikan tempat suci di pura. Ada juga melaksanakan yoga. 

Ada sejumlah sarana upakara yang digunakan saat Sugihan Jawa. Diantaranya untuk bangunan-bangunan yang dianggap utama seperti Padmasana, Meru, Sanggah Kemulan, Taksu, Pengijeng atau Penunggun Karang dan lain-lain.

Baca Juga: Tragis! Ibu Muda Ditemukan Tewas, Diduga Bunuh Diri: Tapi Keluarga Curiga Akibat Kekerasan karena Hal Ini

Sedangkan yang dianggap perlu yaitu Pabersihan atau Panyucian, Canang Buratwangi atau yang lain dan Tirtha Anyar (Toya Anyar). Dapat pula dilengkapi dengan ajuman dan daksina atau sesuai dengan yang telah berlaku.

Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witaraga Sanyasa dari Geriya Taman Sari Asrama, menjelaskan  untuk pelinggih yang lebih kecil diperlukan sarana Canang Buratwangi atau yang lain sesuai dengan apa yang telah berlaku. Penyucian secara umum, yang disebut juga dengan Parerebuwan.

“Untuk pelinggih yang lebih kecil diperlukan Canang Buratwangi atau yanng lain sesuai dengan apa yang telah berlaku. Penyucian secara umum, yang disebut juga dengan Parerebuwan,” imbuhya.

Setelah melakukan pembersihan secara sekala, lalu dilakukan pembersihan secara niskala yaitu menghaturkan banten Parerebuwan. Bila hanya membuat satu soroh banten Parerebuwan, hendaknya diusahakan mempergunakan ikan, ayam, atau itik, dan terlebih dahulu dihaturkan di Padmasana.

Baca Juga: Tragis! Pengendara Motor Tewas Usai Tabrakan dengan Truk di Jalan Raya Denpasar – Gilimanuk: Begini Kejadiannya

Kemudian di Sanggah Kemulan atau Meru atau Gedong, Taksu dan seterusnya sampai pada bangunan yang kecil-kecil, akhirnya di lebar di Jaba disertai dengan Segehan dan Tetabuhan.

Setelah selesai menghaturkan banten Parerebuwan, barulah menghaturkan sesajen-sesajen tersebut, barulah diakhiri dengan persembahyangan dan mohon tirta sebagaimana biasa.

Lalu mengapa hari raya Sugihan menjadi rangkaian dalam perayaan hari raya Galungan? Dikatakan Ida Pandita, Galungan diibaratkan sebagai suatu puncak kemenangan dharma atas adharma.

Secara logis, tentunya untuk memperoleh suatu kemenangan, terdapat suatu rangkaian peristiwa perjuangan sehingga kemenangan tersebut dapat diraih dengan gemilang.

Lanjutnya, kesucian sangat berperan dalam menegakan atau memenangkan dharma atas adharma.

Jika direnungkan lebih dalam, titik akhir dari semua pergulatan hidup di alam semesta ini adalah kesucian itu sendiri.

“Tanpa kesucian dari jasmani dan rohani bagaimana kita dapat melampaui rintangan kelahiran ini untuk mencapai apa yang dinamakan moksartham jagadhita ya ca iti dharma,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#umat hindu #sugihan #sugihan bali #Galungan dan Kuningan #sugihan jawa