Tarian bernama Rejang Pamendak ini dipentaskan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Umanis Galungan
Rangkaian puncak Piodalan biasanya diawali dengan upacara Munggah. Upacara Munggah tersebut diisi dengan persembahan tari sakral, diantaranya Rejang Dewa, Baris Gede dan Topeng.
Pada saat Penyineban (tiga hari setelah Pujawali) adapun persembahan Tari Rejang Pamendak.
I Ketut Sulasa selaku pengempon di Pura Luhur Batukaru Desa Adat Wongaya Gede, Tabanan menjelaskan Tari Rejang Pamendak ini kalau dilihat dari sejarahnya termasuk kuno, sehingga siapa penciptanya sudah tidak bisa dilacak lagi.
“Dari penuturan pendahulu kami, bahwa kemunculan tari Rejang Pamendak berawal dari meniru orang kerauhan,” kata Sulasa.
Kalau dilihat dari kata pamendak mengandung makna mamendak para Dewa yang berstana di Pura Batukaru dari payogan dengan para penari membawa satu batang dupa.
Dengan sarana dupa tersebut para penari menari mengelilingi semua pelinggih di pura tersebut dengan gerak yang sederhana.
Ia menjelaskan, keunikan dari tari Rejang Pamendak berbeda dari Rejang lainnya jika dilihat dari segi struktur gerak, sarana, dan proses upacaranya.
Tarian ini merupakan salah satu bentuk tari wali pada upacara Panyineban yang ditarikan oleh para wanita berjumlah 10 orang ataupun lebih.
Para penari berbaris dengan sikap berdiri tegak areal jaba tengah.
Para penari semua membawa sebatang dupa dengan tangan kanan mentang kesamping kanan, nyalud, sogok/ dorong kanan, agem kanan kemudian badan digoyangkan (ngoyod) kedepan dua kali.
Pindah ke kiri tangan kiri tangan mentang kiri, nyalud, sogok kiri lalu agem kiri kemudian badan di goyangkan (nyoyod) kedepan dua kali. Gerakannya pun berulang-ulang dilakukan.
Saat melakukan gerakan, ketika berada di jeroan Pura penari diberikan beberpa patang padi (Manik Galih) untuk dibagikan ke semua pamedek yang ingin meminta, akan ditukar dengan sesari (uang) berapapun jumlahnya.
Setelah selesai mengelilingi semua pelinggih, penari dibagikan beberapa batang padi yang sudah disakralkan sebelumnya dengan proses yang disebut Pembantenan Manik Galih serta dibagikan kepada semua pamedek yang tangkil ke Pura Batukaru, yang mencerminkan keadaan Desa Wongaya Gede subur dan Sejahtera
“Dihadirkannya Tari Rejang Pamendak ketika upacara Panyineban di Pura Batukaru, merupakan ungkapan rasa syukur atas kesuburan dan kedamaian yang ada di Desa Wongaya Gede,” katanya,
Baca Juga: Cek Kesehatan Gratis: Inovasi Pemerintah Menuju Indonesia Sehat dan Tangguh
Dijelaskan Sulasa, kesakralan tari Rejang Pamendak ini tidak bisa dibantah, Sebab, ada cerita unik ketika suatu ketika tarian ini pernah tida dipentaskan.
Maka, terjadilah bencana yang mengakibatkan sawah-sawah di Desa Wongaya Gede gagal panen.
“Nah sejak musibah itu menimpa Desa tersebut masyarakat yakin dan percaya bahwa tari Rejang Pamendak membawa kesuburan di Desa Wongaya Gede,” imbuhnya.
Kostum penari Rejang Pamendak ini sangatlah polos dan mentaati etika di dalam cara berpakaian. Pakaiannya hanya menggunakan baju putih, selendang kuning dan kain (kamen) kuning sebagai simbol kesucian, serta riasan kepala hanya memakai sanggul Bali.
Tari Rejang Pamendak diiringi gamelan Gong Kebyar yang unik mempunyai bilah daun sembilan dan etika para penabuh yang mengiringi Tari Rejang Pamendak harus orang-orang asli dari Desa Wongaya Gede dan pengempon di Pura Luhur Batukau.
Pada umumnya Gong Kebyar mempunyai daun sepuluh namun di Desa Wongaya Gede gamelan Gong Kebyar mempunyai daun sembilan, Gong kebyar inilah yang dipakai untuk mengiringi Tari Rejang Pamendak dan tidak sembarangan orang yang boleh memainkan gamelan Gong Kebyar tersebut karena menurut kepercayaan para penglingsir yang ada di Desa Wongaya Gede, apabila gamelan ini dimainkan oleh orang lain, maka orang atau sekeha tersebut akan jatuh sakit.
Adapun jenis gamelannya terdiri dari Terompong: 1 tungguh, Gangsa/ juru Ugal: 1 tungguh, Pemade: 4 tungguh, Kantil: 4 tungguh, Penyahcah: 2 tungguh, Jublag: 2 tungguh, Jegogan : 2 tungguh, Reong: 1 tungguh, Cengceng kecil: 1 buah, Kendang: 2 buah (lanang-wadon), Gong: 1 buah, Kempur : 1 buah (dik)
Editor : I Putu Mardika