Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Baris Nanda di Pura Agung Petilan Kesiman, Dipentaskan saat Manis Galungan, Gunakan Tanda Simbol Lingga-Yoni  

I Putu Mardika • Jumat, 25 April 2025 | 00:54 WIB

 

Tari Baris Nanda serangkaian Ritual Ngilen di Pura Agung Petilan Desa Adat Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur
Tari Baris Nanda serangkaian Ritual Ngilen di Pura Agung Petilan Desa Adat Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur
BALIEXPRESS.ID-Setiap Wraspati Umanis Wuku Dunggulan, tepatnya Manis Galungan, krama Desa Adat Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur melaksanakan ritual Ngilen. Pada momen juga dipentaskan tari Wali yakni Baris Nanda.

Wakil Bendesa Adat Kesiman I Gede Anom Ranuara menjelaskan Tari Baris Nanda termasuk ke dalam seni tari wali. yang dipentaskan pada saat melakukan prosesi ngilen di Pura Agung Petilan Desa Adat Kesiman Kecamatan Denpasar Timur.

Tarian dipentaskan oleh para pria untuk mengiringi pelaksanaan upacara Dewa Yadnya.

Arti Nanda sebut Anom Ranuara dalam Tari Baris Nanda berasal dari kata tandava yang merupakan paduan antara Canda dan Mudra.

Canda adalah mantra, dinamika, ritme sedangkan mudra adalah gerak.

Sehingga dimaknai canda dan mudra merupakan perpaduan dari dinamika, ritme dan juga gerakan tubuh itulah yang disebut dengan tandava (tarian).

Baca Juga: Ratusan Siswa SMP Tak Bisa Membaca, Pengamat Pendidikan: Pemerintah Kurang Evaluasi Literasi dan Distribusi Buku

Tari Baris Nanda khusus dipentaskan saat pelaksanaan upacara Dewa Yadnya dalam prosesi Ngilen yang berlangsung di Pura Agung Petilan Desa Adat Kesiman. 

Ngilen ini yang jatuh pada hari raya Umanis Galungan, Wrehaspati Umanis Wuku Dungulan.

Tari Baris Nanda konon dipentaskan pada tahun 1937 bersamaan dengan berdirinya Pura Agung Petilan.

Ciri khasnya tampak pada properti yaitu menggunakan Tanda. Tanda merupakan lambang atau simbol Lingga Yoni.

Tedung (Payung) dilambangkan sebagai lingga dan Menur dilambangkan sebagai Yoni.

Baca Juga: Viral! Selebgram Bali Ayu Puspa Jadi Ikon #KimSeonHoSmile di Indonesia, Videonya Tembus 1,6 Juta Likes

Penyatuan dari Lingga Yoni tersebut memiliki makna filosofis bawasannya sebuah kehidupan, dianalogikan dalam bentuk Janur.

“Tari Baris Nanda, dipentaskan ke dalam dua macam pola nanda. Yaitu Baris Nanda Pengerebegan dilaksanakan di wantilan, dan Baris Nanda Mesesapuh berfungsi sebagai penetralisir,” jelasnya.

Tari Baris Nanda dengan pengerebegan identik dengan pasukan atau di sebut dengan Baris Ngerebeg. Ini ukon.

Tipat Sodan Daksina dipersembahkan kepada Ista Dewata yang berfungsi sebagai Dewanya Jajuden.

Selanjutnya semua peserta Pengrebegan dibagikan uang sebesar Rp. 2.000 untuk taruhan. Setalah semua peserta mendapatkan bagian, dilanjutkan dengan Ajejuden, yaitu berupa perang Tingkih, perang Taluh, dan perang Nyuh.

Baca Juga: Bali Izinkan Sapi NTB Lintasi Wilayahnya Menuju Jawa, Izin Berlaku Sampai 30 April 2025

“Ajejuden sebagai simbolisasi pertaruhan antara para Dewa dengan para raksasa saat akan memutar Gunung Mandaragiri untuk mendapatkan Amertha atau air kehidupan yang abadi,” kata Anom Ranuara.

Setelah Ajejuden selesai, dilanjutkan dengan Ngarebeg yaitu berkeliling sebanyak tiga kali, bergerak dengan membawa Pajeng Tanda berlawanan dengan arah jarum jam.

Pada prosesi atau ritual Pengerebegan.

Pementasan tari Baris Nanda dilakukan dengan posisi melingkar, mengelilingi ritual Ajejuden. Para penari tersebut sudah berada dalam ruang tempat pelaksanaan dalam mengiringi ritual ajejuden.

Selanjutnya pada Baris Nanda Masesapuh diyakini sebagai simbol pembersihan bumi biasa juga disebut Nyapuh Jagat.

Baca Juga: Nekat! Tepergok Mencuri di Ruang Guru, Maling Hajar Kepsek hingga Luka Parah: Begini Kejadiannya

Masesapuh berasal dari kata Sapuh yang berarti sapu. Nyapuh yang berarti menyapu atau membersihkan.

“Mesesapuh adalah sebuah aktivitas membersihkan atau Nyudhamala,” sebut Anom Ranuara.

Penari Baris Nanda Masesapuh mengelilingi pemangku sebanyak tiga kali dengan secara berpasangan yang diselanggarkan pada Utamaning Mandala atau Gedong Agung di Pura Petilan Agung Desa Adat Kesiman. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #kesiman #manis #ngilen #denpasar #galungan #Dunggulan #Baris Nanda