Wakil Bendesa Adat Kesiman I Gede Anom Ranuara menjelaskan semisal, Gerakan Nengkleng dilakukan dengan mengangkat satu kaki atau berdiri dalam satu kaki, bermakna keseimbangan, penyatuan antara Purusa Prakerti serta Akasa dan Pratiwi.
Gerakan Agem Tengen (kanan) merupakan berat badan berada pada kaki kanan dan kaki kiri di angkat tinggi (nengkleng) sambil membawa Pajeng (payung) Tanda, posisi tangan kiri berada di depan tangan kanan, dan Agem Ngiwa (kiri) merupakan kebalikan dari Agem kanan.
Kemudian Gerakan Tanjek merupakan gerakan kaki setelah diangkat tinggi, kemudian diturunkan dengan posisi kaki menjijit.
Gerakan Tanjek ini sebagai jeda untuk merubah posisi Agem, dari Agem kanan ke Agem kiri dan sebaliknya.
Ngibas merupakan gerakan tangan sambil memegang Pajeng Tanda yang dikibaskan kekanan dan kekiri.
Pada saat gerakan Ngibas, biasanya Pajeng Tanda dikibaskan diatas kepala dari Pamangku Istri atau Sedan sebagai simbol Pangelisan Agung.
“Inilah sebagai simbol pembersihan makrokosmos dan mikrokosmos, dan Pamangku atau Pangayah Istri itu sebagai simbol Pratiwi, oleh sebab itu yang bersifat feminim seringkali dikaitkan dengan Pratiwi atau bumi,” kata Anom Ranuara.
Disinggung terkait busana tari Baris Nanda menggunakan Sesimping.
Busana Sesimping adalah sejenis rompi yang digunakan dalam Tari Baris Nanda, yang ada di Desa Adat Kesiman.
Ada pula busana Selimpet yang merupakan sejenis kain yang digunakan dalam pola menyilang, di dada penari.
Sedangkan sarana Sekar Tajug sebagai hiasan telinga sebagai pengganti bunga, yang terbuat dari logam mulia, dan juga perak.
Penari juga menggunakan Destar yang terbuat dari kain, memiliki lebar 1 meter, saat pemakaian dibuat segitiga sama sisi di ikat di kepala dalam Tari Baris Nanda.
Anom Ranuara menambahkan, pementasan Tari Baris Nanda ini diiringi dengan tabuh yang disebut dengan ancag – ancagan atau leluangan.
"Gamelan ancagan atau leluangan yang dipakai instrument pengiring dalam prosesi Ngilen di Kesiman lebih menitikberatkan pada pola gegedig telu," tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika