Jejak Kaki Sang Rsi di Tabanan: Misteri Pura Kuno dan Wasiat Gaib Tokoh Hindu Bali Dang Hyang Nirartha
I Putu Suyatra• Rabu, 30 April 2025 | 13:02 WIB
Pura Rsi di Banjar Mundeh, Desa Nyambu, Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali.
BALIEXPRESS.ID – Di balik rimbunnya Banjar Mundeh, Desa Nyambu, Kediri, Kabupaten Tabanan, berdiri kokoh sebuah pura yang menyimpan jejak perjalanan spiritual seorang tokoh suci Hindu Bali yang legendaris: Dang Hyang Nirartha.
Pura Rsi, demikian namanya, bukan sekadar bangunan kuno, melainkan saksi bisu Dharma Yatra (perjalanan suci) pendeta agung dari Majapahit pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong.
Bagaimana kisah di balik pura Dang Kahyangan ini dan wasiat gaib apa yang ditinggalkannya?
Berjarak sekitar 300 meter dari Kantor Desa Nyambu, Pura Rsi memancarkan aura sakral dengan arsitektur palinggih (bangunan suci) kuno yang terjaga keasliannya.
Jro Mangku I Wayan Jagra, sang pemangku pura, dengan khidmat menuturkan bahwa Pura Rsi termasuk golongan Dang Kahyangan, pura yang didedikasikan untuk mengenang jasa tokoh-tokoh Hindu yang pernah menjejakkan kaki di Bali, termasuk Dang Hyang Nirartha atau yang juga dikenal sebagai Dang Hyang Dwijendra.
Kepastian status Dang Kahyangan ini terukir jelas dalam prasasti yang terpasang di tembok pembatas utamaning mandala (area utama pura).
Prasasti ini diyakini dibuat saat upacara besar Karya Mamungkah tujuh tahun silam, tepatnya pada 24 Oktober 2012.
Sayangnya, Jro Mangku I Wayan Jagra mengakui bahwa catatan tertulis mengenai sejarah Pura Rsi tidak ditemukan.
Namun, kisah luhur pura ini diwariskan secara turun-temurun.
Menurut penuturan leluhurnya, ketika Dang Hyang Nirartha tiba di Banjar Mundeh, kedatangannya disambut hangat oleh masyarakat.
Leluhur Jro Mangku yang mengetahui kemuliaan sang Rsi memohon agar beliau berkenan mendirikan sebuah pura di wilayah mereka.
Permintaan tulus itu disambut baik oleh Dang Hyang Nirartha. Beliau kemudian meninggalkan bekas tapak kaki sebagai penanda tempat suci pertama harus dibangun.
"Beliau bersabda bahwa di atas telapak kaki beliau palinggih pertama harus dibangun. Makanya di tempat itu dibangun Padma Tiga," ungkap Jro Mangku I Wayan Jagra.
Tak hanya itu, Dang Hyang Nirartha juga menyampaikan pesan kedua kepada leluhur Jro Mangku, yaitu agar kelak keturunannya (warih sentana) diajak untuk nyungsung (berbakti) di pura tersebut.
Wasiat suci ini pun dilaksanakan dengan setia.
Kini, selain Palinggih Padma Tiga yang menjadi pusat pemujaan Dang Hyang Nirartha, berjajar rapi palinggih lain yang dipercaya sebagai tempat berstananya warih sentana beliau.
Pria yang telah mengabdikan diri sebagai pemangku sejak tahun 1980-an ini mengungkapkan bahwa beberapa peneliti sempat datang untuk menggali sejarah pura yang memiliki pratima (simbol sakral) berbentuk naga dan singa ini.
Namun, tanpa adanya catatan tertulis, Jro Mangku tidak berani memastikan kapan точноnya pura ini didirikan.
Di sisi lain, Pura Rsi yang piodalannya (hari pujawali) jatuh pada Buda Umanis Tambir ini seringkali didatangi oleh berbagai perguruan kebatinan dari seluruh Bali.
Mereka datang untuk makemit (bermalam) di pura, mencari jejak spiritual Dang Hyang Nirartha.
"Saya terima, karena niat mereka baik, untuk bersembahyang dan napak tilas (menelusuri jejak)," ujarnya.
Bahkan, beberapa penekun spiritual (praktisi spiritual) merasakan adanya rencang (pengikut gaib) berupa ular dan harimau yang menjaga kesucian pura, meskipun Jro Mangku sendiri belum pernah melihat penampakan mereka.
Pura yang diempon oleh sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) ini menganut konsep dwi mandala, dengan seluruh palinggih berada di area utamaning mandala.
Selain Palinggih Padma Tiga, deretan palinggih di sisi utara merupakan representasi dari berbagai warih sentana Dang Hyang Nirartha dari berbagai penjuru Bali, seperti Pajenengan Pemaron Munggu, Pajenengan Beten Poh, hingga Pasimpangan Pura Pulaki dan Gunung Agung.
Saat pemugaran, pihak pengempon memilih untuk melakukan restorasi agar tetap mempertahankan warisan leluhur.
Hanya bagian pondasi yang ditinggikan, menjaga keaslian bangunan suci ini.
Kisah Pura Rsi bukan hanya tentang perjalanan seorang tokoh suci, tetapi juga tentang kearifan lokal, kepercayaan turun-temurun, dan wasiat gaib yang terus dipegang teguh oleh masyarakat Banjar Mundeh.
Jejak kaki Dang Hyang Nirartha di tanah Tabanan ini terus mengundang rasa penasaran dan kekaguman akan kekayaan spiritual Pulau Dewata. ***