Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rahasia Khusyuk Sembahyang bagi Umat Hindu Bali: Jangan Nekat ke Pura Jika Hati Membara! Ada Konsekuensi Spiritualnya?

I Putu Suyatra • Rabu, 30 April 2025 | 13:12 WIB

Umat Hindu di Bali sembahyang menggunakan bunga.
Umat Hindu di Bali sembahyang menggunakan bunga.

BALIEXPRESS.ID – Sembahyang, inti dari bakti umat Hindu Bali kepada Ida Sang Hyang Widhi, menuntut kesiapan lahir dan batin. Tubuh yang segar, emosi yang stabil adalah modal utama.

Namun, pernahkah Anda berpikir, apa jadinya jika nekat sembahyang dengan hati penuh amarah? Ternyata, dampaknya bisa lebih dalam dari yang dibayangkan!

Ida Pedanda Gde Isana Manuaba dengan bijak mengingatkan kita pada sloka Sarasamuccaya 277:

"Mereka yang tidak dirasuki oleh marah dan kebencian. Mereka yang mencintai kebenaran, tetap teguh dalam pengendalian indrawi. Mengasihi segala makhluk seperti mengasihi diri sendiri, orang yang melakukan hal tersebut akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang tekun mengunjungi dan bersembahyang ke tempat-tempat suci."

Baca Juga: Jejak Kaki Sang Rsi di Tabanan: Misteri Pura Kuno dan Wasiat Gaib Tokoh Hindu Bali Dang Hyang Nirartha

Makna mendalam dari sloka ini menyiratkan bahwa ketenangan hati dan pengendalian diri adalah esensi spiritual yang setara dengan ritual fisik di pura.

Lantas, bagaimana jika amarah justru menguasai diri saat hendak bersembahyang?

"Jika saat hendak ke pura atau sembahyang mengalami situasi yang mengakibatkan seseorang marah, tindakan terbaik adalah jangan pergi atau tunda pergi ke pura untuk sembahyang. Lebih baik tenangkan diri agar beban rasa lepas dan merasa lega," tegas Ida Pedanda Gde Isana Manuaba saat ditemui di Griya Lebah Manuaba, Abiansemal, Badung.

Beliau menjelaskan bahwa kesabaran dan kemampuan menahan amarah adalah bentuk pengorbanan spiritual (Jnana) yang bahkan lebih mulia dari pengorbanan materi dalam Weda.

Contohnya, seseorang yang mampu menahan diri untuk tidak membalas saat dihina, sesungguhnya telah melakukan Jnana Yajna (pengorbanan berupa ilmu pengetahuan dan pengendalian diri).

Baca Juga: Unik! Lomba Janger SD di Bangli Gunakan Hiasan dari Sampah Daur Ulang

Setelah amarah mereda dan pikiran kembali jernih, barulah saat yang tepat untuk bersembahyang di pura. Namun, etika di dalam pura pun tak kalah penting.

Ida Pedanda mengingatkan untuk tidak menggunakan waktu menunggu sembahyang dengan bermain ponsel atau bergosip. Niat suci datang ke pura hendaknya dijaga, jangan sampai luntur karena perilaku yang kurang pantas.

"Ada baiknya kalau di pura mengobrol tentang masalah berkaitan dengan berketuhanan. Laku pamedek di pura harus terus diperbaiki, termasuk juga cara sembahyang," sarannya.

Lebih lanjut, Ida Pedanda menyoroti perubahan sikap duduk saat sembahyang di pura.

Meskipun duduk selonjoran atau posisi lain dianggap sah-sah saja, posisi saat bersembahyang tetap memiliki aturan.

Perempuan sebaiknya duduk Bajrasana (bersimpuh dengan tumit diduduki), sedangkan pria bersila.

Jika tidak kuat, perempuan bisa melipat kaki ke samping. Teguran keras bahkan diberikan jika ada yang duduk di tangga atau menggunakan kursi saat sembahyang.

Baca Juga: Dukungan Luas Elemen Buruh terhadap Kebijakan Strategis Presiden Prabowo: Upah Naik, Rumah Subsidi, hingga Satgas PHK

"Posisi seperti itu tidak dibenarkan dalam sikap kita bersembahyang," tegasnya.

Bagi mereka yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk duduk dengan benar, Ida Pedanda menyarankan untuk tidak memaksakan diri datang ke pura.

"Jangan dipaksakan untuk bersembahyang ke pura jika sakit. Akhirnya duduk jadi susah. Seperti saya bilang sebelumnya, ketika marah pun juga tidak boleh. Lebih baik sembahyang di rumah, ingat sifat Tuhan (Sang Hyang Widhi) itu Wyapaki Wyapaka yang artinya ada dimana-mana. Jadi, tidak salah, saat sakit sembahyang di rumah saja," jelas beliau.

Tak hanya soal emosi dan kondisi fisik, kesucian diri sebelum bersembahyang juga ditekankan.

Ida Pedanda mengingatkan bahwa sehabis berhubungan suami-istri, wajib hukumnya untuk mandi dan keramas sebelum bersembahyang.

Hal ini bahkan tertuang dalam Siva Purana, yang melarang hubungan seksual pada hari Sivaratri dan melakukan pemujaan tanpa menyucikan diri terlebih dahulu.

Baca Juga: Kejutan May Day di Monas! Presiden Prabowo Hadir di Tengah Aksi Buruh, Sinyal Kuat Dukungan?

Waktu-waktu sakral lain yang sebaiknya dihindari untuk berhubungan badan demi keharmonisan rumah tangga juga disebutkan dalam Sarasamuccaya dan Siva Purana, seperti tilem (bulan mati), purnama (bulan purnama), prawani (sehari sebelum tilem dan purnama), hari besar keagamaan, serta hari paruh gelap kedelapan dan keempat belas.

Kisah dalam Siva Purana tentang Sudarsana yang melakukan hubungan seksual saat Sivaratri tanpa mandi sebelum bersembahyang menjadi contoh konsekuensi spiritual atas tindakan yang tidak menghormati kesucian.

Dari larangan membawa amarah ke pura hingga pentingnya menjaga kesucian diri, ajaran Ida Pedanda Gde Isana Manuaba membuka mata kita tentang dimensi spiritual yang lebih dalam dalam setiap ibadah.

Sembahyang bukan hanya ritual, tetapi juga tentang kualitas hati dan kesiapan diri untuk menghadap Sang Pencipta.

Jadi, sebelum melangkah ke pura, tanyakan pada diri sendiri: sudahkah hati ini bersih dan tenang? ***

Editor : I Putu Suyatra
#tilem #Sarasamuccaya #hindu bali #pura #sembahyang #hubungan suami istri #purnama