Kisah Mistis Tempat Suci Hindu Bali, Pura Sada di Tabanan: Rumput Pantang Pestisida Hingga Sumur Gaib Pembawa Kesembuhan!
I Putu Suyatra• Kamis, 1 Mei 2025 | 13:45 WIB
Pura Sada di Banjar Cepaka, Desa Cepaka, Kediri, Kabupaten Tabanan.
BALIEXPRESS.ID – Jika Anda mengenal Pura Sada yang megah di Mengwi, Kabupaten Badung, bersiaplah untuk terkejut! Ternyata, nama yang sama juga disandang oleh sebuah tempat suci Hindu Bali yang menyimpan keunikan tersendiri di Banjar Cepaka, Desa Cepaka, Kediri, Kabupaten Tabanan.
Di balik kesederhanaannya, Pura Sada Cepaka menyimpan cerita menarik, mulai dari pantangan unik soal rumput hingga keberadaan sumur gaib yang dipercaya membawa kesembuhan.
Untuk mencapai Pura Sada Cepaka, para pamedek harus menyusuri gang kecil di utara Balai Banjar Cepaka, lalu berbelok ke timur dan berakhir di ujung gang.
Pura ini mengusung konsep dwi mandala, dengan seluruh palinggih (bangunan suci) terkonsentrasi di area utamaning mandala (halaman utama).
Misteri Pantangan Pestisida dan Kisah Nyata
Salah satu hal unik yang membalut Pura Sada Cepaka adalah pantangan penggunaan pestisida untuk membersihkan rumput di area pura.
Jro Mangku I Nyoman Alit bahkan memiliki pengalaman pribadi terkait hal ini. Sekitar tahun 1990-an, setelah menyemprot rumput di sawah, beliau melanjutkan menyemprot rumput di pura menggunakan pestisida.
Tak disangka, beberapa hari kemudian beliau jatuh sakit parah dan tak kunjung sembuh meski telah berobat ke dokter.
Setelah nunas baos (meminta petunjuk spiritual), terungkaplah bahwa Ida Bhatara yang berstana di Pura Sada tidak berkenan dengan penggunaan pestisida karena dianggap mencelakai rencang (penjaga gaib) di kawasan pura.
Sejak saat itu, membersihkan rumput di Pura Sada hanya dilakukan dengan mencabut dan merabas secara manual, disertai permohonan izin (mapikeling) sebelum memulai pekerjaan.
"Kami selalu berdoa sebelum mencabut rumput di areal pura," imbuh I Wayan Merta.
Sumur Gaib Pembawa Kesembuhan dan Penanda Patung Tua
Misteri lain yang menyelimuti Pura Sada Cepaka adalah keberadaan sumur gaib di pojok timur laut utamaning mandala.
Keberadaan sumur ini ditandai dengan sebuah patung tua yang menjadi tempat menghaturkan canang (sesajen) saat piodalan (upacara hari jadi pura) maupun saat sembahyang sehari-hari.
Kisah keberadaan sumur ini bermula dari mimpi seorang pangempon (pemuja pura) yang sedang sakit di rumah sakit.
Setelah keluarga pangempon tersebut nunas ica (memohon anugerah) di pura, keajaiban terjadi: yang sakit sembuh seketika. Sejak peristiwa itu, keberadaan sumur gaib tersebut diberi penanda berupa patung.
"Kami kurang tahu ya, sebab dahulu tidak ada yang tahu kalau katanya ada sumur di sana," ujar Ni Wayan Nini Asih, menantu Jro Mangku I Nyoman Alit.
Penggunaan patung tua sebagai penanda sumur ini terpaksa dilakukan karena keterbatasan dana untuk membangun palinggih baru.
Penampakan Gaib dan Harapan Keberadaan Sumber Air
Terkait rencang pura, Jro Mangku I Nyoman Alit menuturkan adanya penampakan ular dan be julid (ikan lele) gaib di area taman (kolam) Pura Sada.
Hal inilah yang melatarbelakangi pembuatan taman di area pura. Namun, sayangnya, kolam tersebut seringkali kering karena tidak adanya kelebutan (sumber mata air).
Piodalan Pura Sada Cepaka jatuh pada Tilem (bulan mati) setelah Buda Kliwon Wuku Pahang, sehingga pelaksanaannya tidak selalu pada hari dan wuku yang sama.
Di utamaning mandala terdapat tiga palinggih utama, yaitu Palinggih Ratu Mas, Palinggih Ratu Ngurah Putus, dan Palinggih Ratu Dewa Gusti Nyoman Sakti.
Sebuah pratima (benda sakral) berbentuk kuda hijau tersimpan di Palinggih Ratu Ngurah Putus. ***