Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Pura di Pekarangan Rumah Bali: Hanya Satu Palinggih, Berkahnya Mengalir Deras!

I Putu Suyatra • Kamis, 1 Mei 2025 | 16:30 WIB

Pura Ratu Alit Sakti
Pura Ratu Alit Sakti

BALIEXPRESS.ID - Di tengah pekarangan rumah warga Banjar Tagtag, Desa Sibang Gede, Abiansemal, Kabupaten Badung, berdiri sebuah tempat suci Hindu Bali yang tak lazim: Pura Ratu Alit Sakti.

Berbeda dengan pura-pura umumnya yang memiliki kompleks dengan berbagai bangunan suci, pura keluarga ini hanya memiliki satu palinggih utama.

Namun, keunikan ini justru menyimpan segudang cerita misterius dan berkah yang dipercaya mengalir bagi siapa saja yang datang bersembahyang.

Baca Juga: Ni Nyoman Ayu Natasya Amanda Tampil Memukau dengan Kostum SADAMANIK dari Botol Plastik di Putri Indonesia 2025

Bagaimana bisa pura "mini" ini begitu istimewa?

Jro Mangku I Nyoman Sarma, sang pengempon pura, mengaku tak tahu pasti asal-usul Pura Ratu Alit Sakti.

Kisah keberadaannya seolah terbungkus kabut waktu, tak pernah diceritakan secaraGamblang oleh leluhurnya.

"Sudah napet (tiba-tiba ada) sejak dahulu. Jadi, saya tidak bisa memastikan hal ini," ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Memasuki area pura, mata akan tertuju pada satu-satunya palinggih yang berdiri kokoh di bagian hulu.

Berukuran sekitar 2x2 meter dan baru direnovasi lima tahun lalu, palinggih ini menyatu dengan gedong wastra.

Baca Juga: Mobil Travel Angkut Wisatawan Terguling ke Jurang di Jalur Br. Cemulik Nusa Penida

"Kalau palinggih yang lainnya itu pura merajan keluarga dan pura ibu saya," jelas Jro Mangku Sarma.

Keajaiban justru terpancar dari kesederhanaan pura ini.

Meski hanya satu palinggih, banyak umat Hindu Bali yang datang bersembahyang karena diyakini memiliki kekuatan niskala yang istimewa.

Ida Ratu Alit Sakti dipercaya sangat baik hati kepada para pemedek.

Konon, dahulu di tempat ini pernah ada seorang dalang sakti bernama Dalang Sulangait yang memainkan 12 wayang.

Kini, kotak penyimpanan wayang usang itu masih tersimpan rapi di sisi palinggih, menyimpan misteri kejayaan masa lalu.

I Wayan Sudiana, putra pertama Jro Mangku Sarma, mengungkapkan kondisi wayang yang kini rapuh dan tak bisa lagi dimainkan.

Baca Juga: Tragis! Bocah 4 Tahun Tewas Terbakar di Kontrakan Pacar Ibunya, Polisi Buru Pelaku

Keinginan untuk membeli wayang baru terbentur biaya yang mahal dan ketiadaan anggota keluarga yang mahir ngawayang.

Namun, keberadaan wayang di pura ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para dalang yang ingin nunas taksu (aura magis).

Mereka datang dari berbagai tempat, hanya bermodal cerita dari mulut ke mulut, untuk memohon berkah kelancaran dalam seni pedalangan.

Ritual mapikeling (pemberitahuan) di siang hari dan meditasi semalam suntuk di depan palinggih menjadi laku spiritual yang mereka jalani.

Tak hanya bagi seniman, keistimewaan Pura Ratu Alit Sakti juga dirasakan oleh para peternak.

Baca Juga: Kebakaran Hebat di Jalan Gatot Subroto, Konter HP Ludes Terbakar

Sebuah tongkat yang dililit kain kasa putih dipercaya memiliki kekuatan menyembuhkan ternak yang sakit, terutama babi dan sapi.

Warga akan datang membawa persembahan dan memohon tirta (air suci) yang prosesnya unik.

Pemangku akan mencelupkan tongkat ke dalam sangku (wadah air suci) sebelum tirta tersebut digunakan.

Pemilik ternak kemudian akan memercikkan tirta dan mengoleskan bawang yang telah didoakan kepada hewan peliharaan mereka.

Seringkali, warga sesangi (berjanji) untuk membayar kaul saat piodalan Tumpek Wayang jika ternak mereka sembuh.

Keunikan lain yang tak kalah menarik adalah tradisi mapendak (membawa sementara) tongkat sakti ke merajan warga yang sedang menggelar upacara besar seperti ngenteg linggih.

Tongkat akan dibawa sehari sebelum puncak acara dan dikembalikan keesokan harinya dengan persembahan tipat bantal.

Tradisi ini dipercaya melancarkan jalannya upacara.

Dan yang paling mengundang tanya adalah keberadaan pretima (benda sakral) seorang pria berkacamata di dalam pura.

Jro Mangku Sarma pun mengaku tak tahu asal-usulnya, namun keberadaan pretima ini seringkali membuat orang terkejut sekaligus tersenyum.

Baca Juga: Canggu Ricuh! Video Keributan WNA Viral, Netizen: Ini Bukan Bali Lagi!

Pura Ratu Alit Sakti juga dipercaya memiliki rencang (penjaga gaib) berupa banteng dan kereta.

Suara kereta berjalan dan hentakan kaki banteng sering terdengar di pekarangan rumah, namun wujudnya tak pernah terlihat.

Bahkan, anak kedua Jro Mangku Sarma pernah mengalami kejadian mistis saat pintunya digedor oleh rencang Ida saat tidur.

Konon, pura ini juga menyimpan jinah bolong (uang kepeng) bergambar Arjuna, Bima, dan tokoh pewayangan lainnya, yang dipercaya sebagai paica (berkah) bagi para dalang dan seniman.

Meski tanpa batas fisik yang jelas antara pura dan pekarangan rumah, Jro Mangku Sarma mengaku tak pernah mempermasalahkannya.

Sejak awal, begitulah adanya. Kisah unik Pura Ratu Alit Sakti ini membuktikan bahwa kesederhanaan tak menghalangi datangnya berkah dan misteri, justru menambah daya tarik bagi siapa saja yang ingin merasakan kedamaian dan keajaiban di tengah kehidupan sehari-hari. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Kabupaten Badung #hindu bali #Pura Ratu Alit Sakti