Kisah Pura di Pekarangan Rumah Bali: Hanya Satu Palinggih, Berkahnya Mengalir Deras!
I Putu Suyatra• Kamis, 1 Mei 2025 | 16:30 WIB
Pura Ratu Alit Sakti
BALIEXPRESS.ID - Di tengah pekarangan rumah warga Banjar Tagtag, Desa Sibang Gede, Abiansemal, Kabupaten Badung, berdiri sebuah tempat suci Hindu Bali yang tak lazim: Pura Ratu Alit Sakti.
Berbeda dengan pura-pura umumnya yang memiliki kompleks dengan berbagai bangunan suci, pura keluarga ini hanya memiliki satu palinggih utama.
Namun, keunikan ini justru menyimpan segudang cerita misterius dan berkah yang dipercaya mengalir bagi siapa saja yang datang bersembahyang.
Sebuah tongkat yang dililit kain kasa putih dipercaya memiliki kekuatan menyembuhkan ternak yang sakit, terutama babi dan sapi.
Warga akan datang membawa persembahan dan memohon tirta (air suci) yang prosesnya unik.
Pemangku akan mencelupkan tongkat ke dalam sangku (wadah air suci) sebelum tirta tersebut digunakan.
Pemilik ternak kemudian akan memercikkan tirta dan mengoleskan bawang yang telah didoakan kepada hewan peliharaan mereka.
Seringkali, warga sesangi (berjanji) untuk membayar kaul saat piodalan Tumpek Wayang jika ternak mereka sembuh.
Keunikan lain yang tak kalah menarik adalah tradisi mapendak (membawa sementara) tongkat sakti ke merajan warga yang sedang menggelar upacara besar seperti ngenteg linggih.
Tongkat akan dibawa sehari sebelum puncak acara dan dikembalikan keesokan harinya dengan persembahan tipat bantal.
Tradisi ini dipercaya melancarkan jalannya upacara.
Dan yang paling mengundang tanya adalah keberadaan pretima (benda sakral) seorang pria berkacamata di dalam pura.
Jro Mangku Sarma pun mengaku tak tahu asal-usulnya, namun keberadaan pretima ini seringkali membuat orang terkejut sekaligus tersenyum.
Pura Ratu Alit Sakti juga dipercaya memiliki rencang (penjaga gaib) berupa banteng dan kereta.
Suara kereta berjalan dan hentakan kaki banteng sering terdengar di pekarangan rumah, namun wujudnya tak pernah terlihat.
Bahkan, anak kedua Jro Mangku Sarma pernah mengalami kejadian mistis saat pintunya digedor oleh rencang Ida saat tidur.
Konon, pura ini juga menyimpan jinah bolong (uang kepeng) bergambar Arjuna, Bima, dan tokoh pewayangan lainnya, yang dipercaya sebagai paica (berkah) bagi para dalang dan seniman.
Meski tanpa batas fisik yang jelas antara pura dan pekarangan rumah, Jro Mangku Sarma mengaku tak pernah mempermasalahkannya.
Sejak awal, begitulah adanya. Kisah unik Pura Ratu Alit Sakti ini membuktikan bahwa kesederhanaan tak menghalangi datangnya berkah dan misteri, justru menambah daya tarik bagi siapa saja yang ingin merasakan kedamaian dan keajaiban di tengah kehidupan sehari-hari. ***