Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M,Ag menjelaskan segehan bahan utamanya tidaklah berbeda, yaitu nasi atau sega. Yang berbeda-beda antara di suatu daerah dan daerah lainnya adalah alas yang digunakan.
Pada beberapa daerah menggunakan daun pisang sebagai alas, dan di daerah yang lainnya menggunakan janur, slepan. Selain itu, ada juga masyarakat yang menggunakan daun pohon dadap atau daun pohon yang lain sebagai alasnya.
Segehan adalah wujud persembahan yang ditujukan kepada para Bhuta Kala beserta ancangannya (pengikutnya, Red).
Sebagai sebuah persembahan, segehan berupa nasi yang dibentuk sedemikian rupa yang dilengkapi dengan lauk bawang, jahe, darah, dan sebagainya. Sebagai minumannya adalah lima jenis cairan, yaitu arak, tuak, berem, darah, dan air.
Segehan sebagai sebuah wujud ritual juga dilengkapi dengan beberapa peralatan yang lain seperti, lauk (bawang merah, jahe, dan jeroan mentah), minuman (arak, berem ‘air tape’, air, tuak ‘nira’, dan darah), api, dan canang.
“Masing-masing perlengkapan segehan itu memiliki makna sendiri-sendiri,” kata Wayan Murniti.
Bawang merah, jahe, dan jeroan mentah adalah lauk yang selalu menyertai ritual segehan.
Bawang merah yang memiliki bau dan rasa yang sangat tajam atau amis; jahe yang memiliki rasa sepat dan pahit; dan jeroan mentah atau isi perut, dalam kepercayaan masyarakat Hindu di Bali adalah kesukaan bhuta kala.
“Segala sesuatu yang berbau menyengat dan amis seperti tersebut di atas, menurut keyakinan umat Hindu disenangi oleh para bhuta kala,” imbuhnya.
Bawang merah yang berbau amis itu juga sering digunakan oleh masyarakat sebagai penangkal energi negatif dengan cara dioleskan pada ubun-ubun bayi atau balita.
Maksudnya adalah agar energi negatif tersebut tidak mengganggu si bayi karena sudah cukup puas dengan menjilat bau bawang merah itu.
Untuk menolak mara bahaya secara umum, bawang merah itu bisa dioleskan diberbagai tempat, misalnya di badan orang dewasa, di atas pintu kamar, dan di sebelah kiri atau kanan pintu rumah.
Selain bawang merah, sarana segehan juga adalah Garam memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Benda tersebut sangat akrab dengan kehidupan manusia, sampai-sampai digunakan sebagai pepatah yang berbunyi, bagaikan sayur tanpa garam, yang bermakna ‘hambar’.
Dalam hubungannya dengan segehan, garam juga mengandung makna penyedap rasa persembahan.
Dengan garam itu diharapkan segehan yang ditujukan kepada bhuta kala itu menjadi lebih enak rasanya, sehingga mereka terlena dan tidak ingat lagi dengan hal-hal yang lain.
Minuman berupa arak, berem ‘air tape’, air, tuak ‘nira’, dan darah yang digunakan sebagai pelengkap segehan dikenal dengan tetabuhan.
Kata tetabuhan itu sendiri berasal dari kata tabuh yang berarti ’tabur’, ‘siram’. Hal itu sesuai dengan cara persembahan minuman itu, yaitu dengan cara disiramkan pada segehan.
Bhuta kala dalam kepercayaan masyarakat Hindu diandaikan sebagai sosok yang mengerikan, menyeramkan, senang mabuk-mabukan, dan sebagainya yang memiliki sifat tidak baik. Berdasarkan keyakinan itu, mereka memandang perlu untuk memanjakannya dengan berbagai minuman keras yang memabukkan.
“Arak, berem ‘air tape’, tuak ‘nira’, dan darah adalah jenis-jenis minuman yang memabukkan. Dengan minuman (tetabuhan) tersebut di tambah dengan air, diharapkan para bhuta kala sudah merasa puas dan tidak mengganggu manusia,” sebutnya.
Persembahan darah dalam ritual Hindu dilaksanakan dengan berbagai cara, misalnya dengan mengadu ayam (tajen), dengan darah ayam atau babi yang langsung ditaruh pada segehan, dan dengan menyembelih anak ayam atau itik saat ritual segehan.
Persembahan darah dengan penyembelihan anak ayam atau itik dikenal dengan istilah penyambleh. Dalam praktek sehari-hari, wujud ritual minuman yang berupa darah sering diganti dengan telor.
“Masyarakat yakin bahwa telor memiliki makna yang sama dengan darah. Pemekaian telor sebagai pengganti darah dapat dijumpai dalam wujud ritual segehan agung,” sebutnya.
Api dalam keyakinan umat Hindu memiliki peranan dan makna yang sangat penting. Dalam hubungannya dengan kegiatan ritual, api dapat berwujud dupa dan api takep ‘api yang dibuat dalam dua buah sabut kelapa’.
Dupa atau api yang digunakan dalam ritual itu mengandung makna sebagai lambang Dewa Brahma sebagai saksi atas ritual yang dilakukan.
Brahma adalah Dewa Api yang memiliki fungsi dan peranan sebagai penerang jiwa orang yang menggunakannya. Asap yang ditimbulkan oleh dupa atau api takep yang membumbung ke udara diyakini sebagai penghantar ritual kepada para para dewa dan bhuta kala.
Api yang memiliki sifat yang sama dengan matahari juga diyakini sebagai simbol Dewa Matahari yang dalam masyarakat Hindu dikenal dengan Sang Hyang Surya atau Sang Hyang Tigawelas atau Sang Hyang Triyodasasaksi.
“Wujud ritual dupa diandaikan bahwa dalam ritual tersebut telah hadir Sang Hyang Triyodasasaksi ‘tiga belas unsur Tuhan sebagai saksi’ yang menyaksikan ritual sehingga menjadi sah adanya,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika