Kisah Unik Tempat Suci Hindu Bali, Pura Pucak Gumang: Menjelajahi Jejak Sejarah Tersembunyi di Puncak Bukit Karangasem!
I Putu Suyatra• Rabu, 7 Mei 2025 | 00:07 WIB
Babi guling yang akan dipersembahkan di Pura Pucak Gumang di Karangasem, Bali.
BALIEXPRESS.ID - Bali bagian timur, khususnya Kabupaten Karangasem, selalu menyimpan kisah unik Hindu Bali yang tak terduga. Salah satunya pura unik yang berdiri kokoh di puncak bukit kawasan Desa Bugbug.
Bernama Pura Pucak Gumang, tempat suci ini diyakini sebagai saksi bisu sejarah Desa Bugbug, namun lokasinya yang terpencil justru menyimpan segudang misteri dan daya tarik.
Terletak di sisi tenggara Jalan Raya Bugbug, tepatnya di area Sang Hyang Ambhu, Pura Pucak Gumang seolah bersembunyi dari hiruk pikuk.
Bali Express mencoba menyingkap misteri Pura Pucak Gumang dengan menggali informasi langsung dari tokoh desa dan pemangku setempat.
Jro Mangku I Wayan Budiana, saat ditemui di kediamannya, mengungkapkan bahwa keberadaan pura ini erat kaitannya dengan sejarah Desa Pakraman Bugbug.
Hal ini tertuang jelas dalam Lontar Kutara Kanda Purana Dewa Bangsul Pura Sadha mwang Bukit Gumang dan Prasasti Desa Pakraman Bugbug yang dikeluarkan oleh Raja Sri Aji Jaya Pangus pada tahun 1130 Saka.
Menurut Jro Mangku, sejarah mencatat bahwa Desa Pakraman Bugbug didirikan oleh Ki Taruna Bali, yang tak lain adalah Bhatara Gde Gumang.
Bersama para Bhagawan dan Empu, Bhatara Gde Gumang mendidik masyarakat di sekitar Bukit Gumang tentang berbagai aspek kehidupan, mulai dari agama Hindu Bali hingga bercocok tanam dan melaut.
Permohonan Air dan Janji Babi Guling
Sebuah kisah menarik mengiringi keberadaan sumber air di wilayah ini. Konon, masyarakat desa memohon kepada Ida Bhatara Gde Gumang untuk menciptakan air dan sungai di barat Bukit Penyu demi mengairi sawah mereka.
Sebagai imbalannya, mereka berjanji akan menghaturkan babi guling atau babi panggang setiap kali ada kelahiran di Bukit Gumang.
Sebuah janji leluhur yang hingga kini diyakini mendasari upacara mapinton di Pura Bukit Gumang.
Kendi Manik dan Asal Usul Telaga Tista
Permohonan tersebut dikabulkan. Bhatara Gde Gumang beryoga dan memohon kepada Bhatara Hyanging Tolangkir (Gunung Agung), yang kemudian mengutus Bhatari Giri Putri membawa tirtha amertha dalam sebuah kendi manik.
Dalam perjalanannya, Bhatari Giri Putri menguji kesungguhan warga dengan menyamar menjadi orang tua dan meminta imbalan yang tak lazim.
Kisah berlanjut ketika seorang warga, yang merupakan perwujudan dewata, tanpa sengaja menumpahkan air dari kendi manik saat Bhatari Giri Putri beristirahat.
Tumpahan air itulah yang kemudian menjelma menjadi mata air yang sangat besar, yang kini dikenal sebagai Telaga Tista (diyakini berasal dari kata "tirtha" yang berarti air suci).
Bhatari Giri Putri kemudian menamai orang tersebut Ida Gde Bangkak, yang kini disungsung di Pura Bangkak.