Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Unik Tempat Suci Hindu Bali, Pura Pucak Gumang: Menjelajahi Jejak Sejarah Tersembunyi di Puncak Bukit Karangasem!

I Putu Suyatra • Rabu, 7 Mei 2025 | 00:07 WIB

Babi guling yang akan dipersembahkan di Pura Pucak Gumang di Karangasem, Bali.
Babi guling yang akan dipersembahkan di Pura Pucak Gumang di Karangasem, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Bali bagian timur, khususnya Kabupaten Karangasem, selalu menyimpan kisah unik Hindu Bali yang tak terduga. Salah satunya pura unik yang berdiri kokoh di puncak bukit kawasan Desa Bugbug.

Bernama Pura Pucak Gumang, tempat suci ini diyakini sebagai saksi bisu sejarah Desa Bugbug, namun lokasinya yang terpencil justru menyimpan segudang misteri dan daya tarik.

Terletak di sisi tenggara Jalan Raya Bugbug, tepatnya di area Sang Hyang Ambhu, Pura Pucak Gumang seolah bersembunyi dari hiruk pikuk.

Baca Juga: Polres Klungkung Siapkan Personel Amankan Eksekusi Lahan di Nusa Penida

Untuk mencapainya, dibutuhkan perjuangan fisik sekitar 40 menit berjalan kaki, menaklukkan perbukitan dengan jalur yang menantang.

Tak heran, hanya penduduk Desa Bugbug dan sekitarnya yang benar-benar mengetahui keberadaan pura ini.

Bagi para pelintas jalan raya, pemandangan paling umum hanyalah palinggih pengayengan yang berdiri anggun di sisi kanan jalan dari arah Denpasar.

Namun, rasa penasaran akan keberadaan pura yang sebenarnya di puncak bukit seringkali menggelayuti benak mereka.

Baca Juga: Strategi Cerdas Pemerintah Indonesia Hadapi Tarif Impor AS Era Trump: Langkah Konkret yang Patut Diapresiasi

Menguak Tabir Sejarah Lewat Lontar dan Prasasti

Bali Express mencoba menyingkap misteri Pura Pucak Gumang dengan menggali informasi langsung dari tokoh desa dan pemangku setempat.

Jro Mangku I Wayan Budiana, saat ditemui di kediamannya, mengungkapkan bahwa keberadaan pura ini erat kaitannya dengan sejarah Desa Pakraman Bugbug.

Hal ini tertuang jelas dalam Lontar Kutara Kanda Purana Dewa Bangsul Pura Sadha mwang Bukit Gumang dan Prasasti Desa Pakraman Bugbug yang dikeluarkan oleh Raja Sri Aji Jaya Pangus pada tahun 1130 Saka.

Menurut Jro Mangku, sejarah mencatat bahwa Desa Pakraman Bugbug didirikan oleh Ki Taruna Bali, yang tak lain adalah Bhatara Gde Gumang.

Bersama para Bhagawan dan Empu, Bhatara Gde Gumang mendidik masyarakat di sekitar Bukit Gumang tentang berbagai aspek kehidupan, mulai dari agama Hindu Bali hingga bercocok tanam dan melaut.

Permohonan Air dan Janji Babi Guling

Sebuah kisah menarik mengiringi keberadaan sumber air di wilayah ini. Konon, masyarakat desa memohon kepada Ida Bhatara Gde Gumang untuk menciptakan air dan sungai di barat Bukit Penyu demi mengairi sawah mereka.

Sebagai imbalannya, mereka berjanji akan menghaturkan babi guling atau babi panggang setiap kali ada kelahiran di Bukit Gumang.

Baca Juga: Kecelakaan Maut Mengakibatkan 11 Orang Meninggal Dunia: Polisi Tes Urine Sopir dan Kernet

Sebuah janji leluhur yang hingga kini diyakini mendasari upacara mapinton di Pura Bukit Gumang.

Kendi Manik dan Asal Usul Telaga Tista

Permohonan tersebut dikabulkan. Bhatara Gde Gumang beryoga dan memohon kepada Bhatara Hyanging Tolangkir (Gunung Agung), yang kemudian mengutus Bhatari Giri Putri membawa tirtha amertha dalam sebuah kendi manik.

Dalam perjalanannya, Bhatari Giri Putri menguji kesungguhan warga dengan menyamar menjadi orang tua dan meminta imbalan yang tak lazim.

Kisah berlanjut ketika seorang warga, yang merupakan perwujudan dewata, tanpa sengaja menumpahkan air dari kendi manik saat Bhatari Giri Putri beristirahat.

Tumpahan air itulah yang kemudian menjelma menjadi mata air yang sangat besar, yang kini dikenal sebagai Telaga Tista (diyakini berasal dari kata "tirtha" yang berarti air suci).

Bhatari Giri Putri kemudian menamai orang tersebut Ida Gde Bangkak, yang kini disungsung di Pura Bangkak.

Baca Juga: Waduh! 12 Orang Tewas Akibat Kecelakaan di Jembrana, Polisi Giatkan Edukasi dan Patroli

Mengendalikan Air untuk Kesucian

Bhatari Giri Putri kemudian memerintahkan Ida Gde Bangkak untuk mengalirkan air tersebut hingga ke tempat Ida Gde Gumang.

Ida Gde Bangkak pun menuruti dan mengendalikan aliran air dari Telaga Tista hingga ke selatan, menjadi Tukad Buhu.

Diyakini, aliran air dari sungai ini memiliki kekuatan untuk ruwatan dan membersihkan segala mala akibat ilmu hitam.

Misteri Nama "Bugbug": Lumpur Kesuburan?

Selain kisah spiritual, terdapat pula versi lain mengenai asal usul nama Desa Bugbug.

Konon, "Bugbug" berasal dari kata "Buug Buug" yang berarti berlumpur atau becek.

Hal ini mengindikasikan bahwa dulunya wilayah ini merupakan sentra pertanian yang sangat subur di Bali bagian timur.

Baca Juga: Sosok Gus Alam, Anggota DPR RI, Berpulang Usai Kecelakaan Tragis di Tol Pemalang: Sudah 4 Kali Terpilih

Pura Pucak Gumang bukan hanya sekadar pura, melainkan jendela menuju masa lalu Desa Bugbug.

Perjalanan menantang menuju puncaknya akan terbayar dengan panorama alam yang memukau dan aura spiritual yang kuat. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#babi guling #Pura Pucak Gumang #hindu bali #sejarah #Kabupaten Karangasem