Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lebih Dalam dari Sekadar Mitos: Mengungkap Jalinan Dewata di Tempat Suci Hindu Bali Pura Pucak Gumang, Ada Apa dengan Uluwatu dan Padangdawa?

I Putu Suyatra • Rabu, 7 Mei 2025 | 00:50 WIB

Pura Gumang atau Pura Bukit Gumang di Bugbug, Kabupaten Karangasem, Bali.
Pura Gumang atau Pura Bukit Gumang di Bugbug, Kabupaten Karangasem, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Misteri Pura Pucak Gumang di ketinggian Bukit Bugbug, Karangasem, ternyata menyimpan lapisan sejarah dan mitologi yang jauh lebih dalam dari yang kita bayangkan.

Jika sebelumnya kita terpukau dengan kisah pendirian desa dan sumber air suci, kini kita akan menyelami silsilah dewata yang konon bersemayam di pura ini, menghubungkannya dengan pura-pura sakral lain di Bali, bahkan melibatkan pertempuran gaib yang mengguncang langit!

Menurut I Wayan Terang Pawaka, Tokoh Desa Adat Bugbug Bidang Parahyangan, meskipun tahun pasti berdirinya Pura Pucak Gumang belum terungkap, petunjuk menarik justru tersimpan dalam lontar kuno Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul dan Prasasti Sari Manik Tulukbiyu.

Baca Juga: Fakta Berdarah di Balik Aroma Durian: Pedagang Tewas Bukan Karena Kecelakaan Biasa!

Kedua sumber ini mengisyaratkan adanya hubungan spiritual yang kuat antara Pura Pucak Gumang dengan pura-pura penting lainnya di Bali.

Dari Pura Sadha hingga "Penguasa Laut Selatan"

Sebuah fakta mengejutkan terungkap dari prasasti tersebut: para dewa yang kini berstana di Pura Pucak Bukit Gumang konon awalnya bersemayam di Pura Sadha, Desa Tangeb, Kapal.

Kemudian, perjalanan spiritual mereka berlanjut hingga ke Uluwatu.

"Ketika di Uluwatu, beliau bernama Sang Hyang Sinuhun Kidul," ungkap I Wayan Terang Pawaka, mengisyaratkan keterkaitan erat dengan penguasa mistis laut selatan Bali.

Perjalanan Sang Hyang Sinuhun Kidul tidak berhenti di sana.

Beliau kemudian menuju Bukit Byaha dan mempersunting Dewi Ayu Mas, putri dari Bhatara Gde di Bukit Byaha.

Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Hadiri Upacara Mejaba Jero di Pura Dalem Sukun, Desa Sangeh

Setelah itu, barulah beliau menapakkan kaki di Bukit Gumang dan dikenal sebagai Bhatara Gde Gumang.

Sebuah perpindahan "kekuasaan" spiritual yang sungguh menarik untuk ditelusuri lebih lanjut!

Misi Suci ke Pucak Padangdawa dan Pertempuran Gaib Melawan Rangda

Kisah semakin menarik ketika Bhatara Gde Gumang menerima "perintah" dari ayahnya untuk mengamankan Pucak Padangdawa, Baturiti, Tabanan.

Daerah ini dulunya dikuasai oleh semua sekte bhairawa yang dipimpin oleh sosok misterius bernama I Macaling.

Demi menjaga kedamaian, I Macaling menjelma menjadi rangda yang menakutkan.

Bhatara Gde Gumang, didampingi 18 pengiring setia, tak gentar menghadapi ancaman tersebut.

Baca Juga: Dugaan Pembunuhan Berencana! Korban Ketiga Akibat Pembacokan Akhirnya Tewas Usai Enam Hari Dirawat

Beliau pun mengambil wujud barong dan terjadilah pertempuran sengit yang konon mengguncang surga.

Anehnya, tidak ada pihak yang menang maupun kalah dalam pertempuran gaib ini.

Intervensi Hyang Pasupati dan Terungkapnya Ikatan Persaudaraan

Ketegangan mencapai puncaknya hingga Hyang Pasupati, sang penguasa para dewa, turun tangan untuk melerai keduanya.

Barong, yang mengenali kehadiran Hyang Pasupati, segera kembali ke wujud dewanya.

Namun, rangda tidak menyadari kedatangan Sang Hyang Agung tersebut dan tidak mampu mengubah wujudnya.

Baca Juga: Ridwan Kamil Dicecar 30 Pertanyaan Polisi, Tes DNA Jadi Kunci? Lisa Mariana Siap Hadapi Penjara!

"Yang mengembalikan wujud rangda sebagai dewa kemudian adalah Bhatara Gde Gumang. Ketika sudah sama-sama berubah, barulah tahu sama-sama bersaudara," lanjut I Wayan Terang Pawaka.

Sebuah pengungkapan yang mengejutkan! Ternyata, I Macaling yang berwujud rangda adalah putra dari Bhatara Gde di Bukit Byaha yang diusir dan mencari pemukiman di Biasmuntig atau Nusa Penida.

Jalinan Keluarga Dewata dan Pengaruhnya di Bali

Kisah berlanjut dengan pernikahan Bhatara Gde Gumang dengan Dewi Ayu Mas, putri Bhatara Gde Bukit Byaha.

Setelah situasi di Pucak Padangdawa kondusif, Bhatara Gde Gumang kembali ke Bukit Gumang dan memiliki beberapa putra dan putri yang kemudian melanjutkan "kekuasaan" spiritual di berbagai pura di Bali.

Putra tertuanya malinggih di Pura Puseh Bandem, adiknya menikahi Bhatara Gde Puseh Bandem dan juga berstana di sana.

Baca Juga: Ibu dan Balita Tewas Dilindas Truk saat Pulang Kampung, Diduga Motor Oleng saat Nyalip

Putra ketiga berstana di Pura Mastima Jasri, dan putri-putri beliau malinggih di Pura Puseh Ngis, Slumbung dan Pura Puseh Datah.

Bahkan, ada dua Bhatara yang malinggih di Pura Puseh Datah, menunjukkan betapa kuatnya ikatan keluarga dewata ini.

Ritual 100 Tahun Sekali dan Kehadiran Bhatari Lingsir

Kisah ini mencapai puncaknya dengan adanya permasalahan antara Bhatara Ayu Galuh dan Bhatara Ayu Pudak di Desa Datah.

Akibatnya, Bhatari Lingsir yang berstana di Pura Puseh kemudian menjadi sungsungan (yang dihormati) oleh Pura Puseh Datah hingga Kedampal.

Sebuah tradisi unik pun lahir: setiap Ngusaba Kaja yang diadakan 100 tahun sekali dan dipusatkan di Desa Bugbug, Bhatari Lingsir dari Datah wajib hadir.

Kisah silsilah dewata di Pura Pucak Gumang ini bukan hanya sekadar mitos, melainkan benang merah yang menghubungkan berbagai pura penting di Bali.

Ini adalah undangan untuk kita menyelami lebih dalam keyakinan dan sejarah spiritual Pulau Dewata.

Siapa sangka, di puncak bukit terpencil di Karangasem, tersimpan rahasia tentang jalinan antar dewata dan peristiwa gaib yang membentuk lanskap spiritual Bali hingga kini! ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Pura Pucak Gumang #hindu bali