BALIEXPRESS.ID - Sebuah kejanggalan nama tempat suci Hindu Bali di Banjar Bantas Kelod, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, mengundang rasa penasaran banyak orang.
Pura megah bernama Pura Dhalem Mpu Haji ini menyimpan teka-teki sejarah yang belum sepenuhnya terungkap.
Mengapa "Haji" melekat pada nama pura Hindu Bali ini?
Baca Juga: Jenderal Turun ke Sawah, TNI Kawal Ketahanan Pangan di Buleleng
Kemegahan Pura dan Arsitektur Kuno yang Memukau
Dari tampak depan, Pura Dhalem Mpu Haji terlihat begitu menawan.
Namun, memasuki area utamaning mandala, pesona arsitektur kuno dan klasik pura tetap dipertahankan, memberikan sentuhan mistis dan sakral.
Kontras ini semakin menambah daya tarik dan misteri pura ini.
Pengakuan Pemangku Sepuh: Sejarah Pura Tertutup Kabut Waktu
Jro Mangku I Ketut Gebrog, sang pemangku pura yang telah mengabdi puluhan tahun, mengakui bahwa keberadaan pura ini sudah sangat lama.
Baca Juga: Pawiwahan di Sembiran: Gadis Mempelai Luar Sembiran Wajib Jalani Tahapan Upacara Kepus Puser
Namun, ironisnya, pria sepuh ini pun tak mengetahui secara pasti asal-usul dan sejarah berdirinya Pura Dhalem Mpu Haji di Sibang Gede.
"Para tetua di pura tidak pernah menceritakan tentang pura tempat saya ngayah," ungkapnya, menyiratkan adanya cerita yang hilang ditelan zaman.
Benarkah "Haji" Merujuk pada Raja Bali Abad ke-14?
Titik terang misteri nama "Haji" akhirnya muncul dari penuturan Jro Mangku I Ketut Gobreg.
Menurutnya, penggunaan nama Haji merujuk pada gelar Ida Dhalem Shri Haji Kresna Kepakisan, raja yang memerintah Bali pada tahun 1352 – 1380 Masehi.
"Kami pangempon pura adalah pretisentana dari beliau sendiri," jelasnya, mengindikasikan adanya garis keturunan antara pengelola pura saat ini dengan sang raja.
Meski demikian, Jro Mangku I Ketut Gobreg mengakui keterbatasan pengetahuannya tentang detail hubungan tersebut.
Baca Juga: TMMD ke-124 Fokus pada Infrastruktur dan Perlindungan Mangga Lokal Depeha
"Mungkin kami keturunan dari Shri Haji Kresna Kepakisan yang pindah ke sini dahulu kala. Tetapi kami tidak terlalu tahu bagaimana hubungannya, sebab tidak ada lontar maupun tutur dari tetua saya dahulu," tambahnya, menyisakan celah misteri yang belum terpecahkan.
Tiga Pretima Unik: Perahu, Penyu Bertunggang Manusia, dan Naga
Pura Dhalem Mpu Haji diempon oleh 90 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di beberapa desa di Abiansemal.
Di dalam Gedong Ida Sasuhunan Dalem, tersimpan tiga pretima (benda sakral) yang sangat unik: berbentuk perahu dengan patung pria, penyu ditunggangi sosok pria, dan naga yang juga ditunggangi seorang pria.
Sayangnya, Jro Mangku I Ketut Gebrog kembali mengaku tidak mengetahui makna dari ketiga pretima tersebut.
Baca Juga: Dosen yang Tak Lupa Menulis, Mardika dan Cerita di Balik Data
"Saya tidak berani mengatakan bagaimana arti dari ketiga pretima yang ada di pura, biar tidak salah saya menjelaskan," ujarnya dengan nada hati-hati.
Renovasi Pura dan Ritual Tanpa Tabuh Rah
Pura yang sempat rusak ini akhirnya diperbaiki berkat bantuan Pemkab Badung dan diserahkan kembali kepada pangempon pada Desember 2019.
Prosesi piodalan (upacara besar) Pura Dhalem Mpu Haji yang jatuh pada Buda Umanis Wuku Medangsia memiliki keunikan tersendiri, yaitu tidak adanya ritual tabuh rah.
Sebagai gantinya, dilaksanakan prosesi pasucian ke Pura Taman Beji yang terletak di sungai dekat pura.
Penjaga Gaib Pura: Antara Ada dan Tiada
Ketika ditanya mengenai rencang (penjaga gaib) pura, Jro Mangku I Ketut Gebrog mengaku tidak pernah tahu dan tidak pernah mendengar tentang hal tersebut.
"Tidak berani saya mengatakan ada, kalau saya belum lihat sendiri," tegasnya, menunjukkan sikap jujur dan berhati-hati.
Konsep Tri Mandala dan Palinggih Unik Sapta Patala
Pura Dhalem Mpu Haji menganut konsep Tri Mandala. Area utamaning mandala menjadi pusat dengan berbagai palinggih, termasuk Ratu Ngurah Agung, Pelik Sari, dua Gedong Kawitan, Padmasana, Palinggih Sapta Patala, Gedong Ida Dalem Sasuhunan, dan lainnya.
Baca Juga: Bersama Wujudkan Demokrasi Jujur dan Bermartabat: Dukungan Penuh untuk Pemungutan Suara Ulang (PSU)
Menariknya, Palinggih Sapta Patala yang dipersembahkan untuk pemujaan Ida Sang Hyang Widhi sebagai penguasa bumi, memiliki posisi di belakang namun fungsinya dianggap sangat vital bagi kehidupan manusia.
Misteri nama "Haji", jejak raja masa lalu, pretima unik, dan tradisi ritual yang berbeda menjadikan Pura Dhalem Mpu Haji sebuah destinasi spiritual yang penuh teka-teki dan daya tarik di Bali.
Apakah "Haji" benar-benar merujuk pada pengaruh Islam di Bali pada masa lampau, ataukah ada interpretasi lain yang tersembunyi dalam sejarah pura ini? ***
Editor : I Putu Suyatra