Ini Kunci Bebas dari Belenggu Hidup dan Kelahiran Berulang!
I Putu Suyatra• Rabu, 7 Mei 2025 | 14:06 WIB
Ilustrasi
BALIEXPRESS.ID - Pernahkah Anda merasa terperangkap dalam putaran kehidupan yang tak berujung? Lahir, hidup, mati, dan terulang lagi... Sebuah konsep misterius bernama Punarbhawa dalam ajaran Hindu ternyata menyimpan jawaban atas pertanyaan mendasar tentang jati diri dan kebebasan hakiki manusia.
Jika tak dipahami, keterikatan justru akan membelenggu!
Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi, seorang dosen di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, mengungkapkan sebuah fakta mencengangkan: banyak orang hidup dalam ketakutan hingga akhir hayatnya karena lupa akan jati diri mereka yang sebenarnya.
Kurangnya pemahaman tentang esensi hidup menjadi biang keladinya.
"Esensi kita dilahirkan di dunia ini harus diketahui dulu. Dalam Hindu, hakikat menjadi manusia adalah untuk memperbaiki diri agar bisa mencapai kesempurnaan, yaitu Moksha," tegas Prof Suka Yasa saat ditemui di kediamannya.
Lantas, apa sebenarnya esensi hidup itu? Menurutnya, manusia ada karena Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan).
"Kita adalah replika beliau, Atma adalah percikan kecil dari Tuhan yang ada pada setiap makhluk hidup. Jadi, keberadaan kita sepenuhnya karena-Nya," paparnya.
Lebih dalam lagi, pemahaman bahwa hidup di dunia adalah cerminan kecil dari Tuhan seharusnya membawa kesadaran penuh pada manusia untuk 'manunggal' (menyatu) kembali dengan Sang Pencipta.
Mengaplikasikan ajaran yang dipelajari melalui latihan yoga untuk mencapai pengalaman spiritual.
"Percuma belajar tanpa dipraktikkan, hanya akan menjadi teori," tandasnya. Pengalaman spiritual inilah yang akan menghilangkan keraguan dan membawa pada kesadaran sejati.
3. Melepaskan Keterikatan Duniawi (Karma Marga)
Belajar untuk tidak larut dalam kesedihan atau keterikatan berlebihan terhadap hal-hal duniawi.
Contoh sederhana, tidak terlalu berduka saat kehilangan hewan peliharaan, melainkan mengurusnya dengan baik dan mendoakannya.
"Seseorang yang mengerti esensi hidup akan tahu bahwa semua makhluk hidup akan mengalami kematian, tidak ada yang abadi," jelasnya. Begitu pula dengan kehilangan keluarga atau harta benda, kesedihan berlarut hendaknya dihindari.
"Ingatlah tujuan dan keberadaan diri di dunia, sesungguhnya adalah kembali menyatu dengan beliau (Tuhan) melalui Moksha, agar kita tidak kembali lahir ke dunia," pungkas Prof Suka Yasa. ***