Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pawiwahan di Sembiran: Wajib Jalani Ritual Nelubulanin bagi Wanita luar yang Menikah ke Sembiran

I Putu Mardika • Kamis, 8 Mei 2025 | 04:14 WIB

Suasana pemukiman Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng
Suasana pemukiman Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Upacara Pawiwahan di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula tergolong unik. Sebab, wanita asal luar Sembiran yang dinikahi pria asal Sembiran wajib melewati sejumlah tahapan. Mulai dari Kepus Pusar, Nelubulanin, Mitubulanin dan Ngotonin.

Tokoh Adat Sembiran, Nengah Arijaya, menjelaskan, setelah kepus pusar, Wanita asal luar Sembiran yang dinikahi pira Sembiran wajib menjalani ritual Nelubulanin.

Upacara nelubulanin adalah salah satu upacara besar dalam manusa Yajña. Upacara nelubulanin bagi mempelai wanita yang berasal dari luar Desa Sembiran ada dua tahapan,

Tahap pertama yaitu Neduh, dan Natab. Pada tahapan Neduh tukang banten membersihkan tempat duduk leluhur yang dipercikkan dengan air suci, sesudahnya banten-banten dipersembahkan kepada leluhur, sementara mempelai wanita tidak hadir dalam upacara ini.

Tujuan dari upacara neduh ini adalah untuk membersihkan seluruh keluarga yang ikut menyaksikan upacara ini, upacara neduh dilaksanakan di pura merajan/sanggah.

Baca Juga: Pelajar SMK Tewas Mengapung di Sungai: Polisi Ungkap Kronologi Penemuan

Setelahnya dilanjutkan dengan tahapan kedua Yaitu prosesi Natab yang dilaksanakan dikamar suci. Pada prosesi natab ini mempelai wanita beserta keluarga keluarganya mengikuti ini.

“Tukang banten mengucapkan doa kepada dewa I Ratu Taksu Pengijeng dan I Ratu Gede, I Ratu Bhatara Sangareka Sangagae bertujuan untuk memohon bahwa mereka menerima banten-banten yang telah dipersembahkan,” katanya.

Setelah melakukan doa tukang banten melilitkan benang krenceng pada pergelangan tangan mempelai wanita, benang tersebut terbuat dari kapas putih yang disisipkan uang kepeng yang mempunyai peran penting sebagai uang upacara dan penopang simbol di dalam agama Hindu di Bali.

ia memberikan perlindungan istimewa kepada anak lewat benang benang krenceng juga diikatkan pada dahi sedikit diatas ubun-ubun sebuah keratan kecil dari perak (pupuk), piringan ini melindungi tempat yang sangat rentan secara spiritual dari roh roh jahat masuk kedalam.

Baca Juga: Melalui Program Bedah Warung, Bupati Kembang Hartawan Dorong Warung Lokal Naik Kelas dan Mampu Bersaing

Titik pada atas dahi dipercaya sebagai pintu masuk dan keluarnya jiwa yang dinamakan siwadwara atau pintu siwa benang benang kapas yang putih (tebus salimar) diletakkan diatas kepala sebagai simbol kesucian yang baru tercapai.

“Kemudian tiga koin dengan pasta bangket di atas dahi dan pelipis supaya menjadi anak yang suputra dan suputri,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#desa sembiran #bali aga #tejakula #pawiwahan #buleleng